Darmaning Ibu

Ibu menjadi sosok yang istimewa. Ibu kita hormati dan muliakan karena ibu yang melahirkan kita. Hanya ibu yang merasakan apa yang disebut "nyakit" waktu melahirkan kita. Begini disebutkan dalam Sarasamuscaya: Apan Iwih temen bwating ibu, sangkeng bwating lemah, katwangana, tar bari-barin kalinganya aruhur temen sang bapa sangke langit (sebab jauh lebih berat kewajiban ibu daripada beratnya bumi, karenanya patut dihormati beliau dengan sungguh-sungguh, tanpa ragu-ragu demikian pula lebih tinggi penghormatan kepada bapa daripada tingginya langit). Tiada lain lagi hanya dengan setia bhakti hormat terhadap ibu, membuat ibu senang dan puas hatinya (ikang bhakti makawwitan, paritusta sang rawitnya).

Ibu selalu hadir dan berada dalam keluarga, demikian pula orang yang sampai ada anak dan cucu tidak berpisah dengan ibunya, senantiasa hidup dengan si ibu, disebabkan oleh setia bhaktinya kepada ibunya yang dianggap bagaikan Dewa, usia panjang dan sorgalah merupakan didapatnya. Norana sih maglwihana sihikang atanaya yaitu tidak ada yang melebihi kecintaan ibu da­lam hal mengasihi dan mengasuh anak-anaknya. Jika tiada ibu? Kegalauan, kegelisahan, kesedihan, hampa, kesepian tidak mengetahui sang ibu sebagai­mana Karna dalam epos besar Mahabharata. Sosok Kunti adalah ibu yang utama, mengasuh panca pandawa penuh dengan kasih sayang, baik dalam suka dan duka, namun rahasia kelahiran Karna telah mengubah segalanya harus berperang de­ngan saudara.

Menjadi catatan bahwa sebagai ibu harus berkeadilan dalam mendidik, membina, mengasuh anaknya sehingga tidak terjadi pertengkaran, peperangan dalam keluarga. Dan ketika Drupadi di telanjangi atas nama judi dijadikan taruhan tiada lagi penghormatan atas kedudukan seorang wanita di keluar­ga, masyarakat bahkan kerajaan maka di sana akan terjadi kehancuran sebagaimana Manawadharmasastra 111.56 menyebutkan: "yatra naryastu pujante, ramante tatra devatah, yatrai-tastu na pujyante, sarvas tatra-phalah kriyah" (dimana wanita dihormati, disanalah para dewa merasa senang, tetapi dimana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala).

Swadharmaning ibu dalam menjaga keutuhan keluarganya utamanya mendidik dan menga­suh anaknya, namun dunia terus berubah "cakrananing gilingan" kini ibu mengambil tugas dan fungsi yang multi peran bukan sekedar mengurus keluarga dan sebagai ibu rumah tangga, na­mun juga harus menafkahi keluarga. Derasnya pangarusutamaan gender memposisikan wanita, kaum perempuan setara dengan kaum pria baik menyangkut hak dan kewajibannya. Dharmasampati yaitu seorang ibu secara yakin melakukan aktivitas dan berkewajiban melakukan ajaran-ajaran agama. Praja yaitu seorang ibu memimpin keluarga dengan medidik anak dan memberikan saran pada suami untuk berbuat sesuai dengan sastra agama dan membayar hutang yang disebut tri rna yaitu dewa rna, pitra rna dan rsi rna. Rati yaitu seorang ibu tidak mengumbar hawa nafsu utamanya nafsu seksual, tidak melakukan perbuatan perzinahan.

Kini perubahan bergerak secepat angin, kemajuan industri teknologi telah merubah segala­nya, mata anak tertuju pada televisi, playstation, handphone yang lengkap dengan segala me­nu, anak gadget dengan handphonenya. Bagaimanakah peran ibu? melarangnya, membiarkannya atau mengaturnya. Sastra utama Nitisastra menyebutkan "putradwe pitaninada banija ri bapa" bahwa anak-anak sekarang sudah berani mengumpat, melawan orang tua. Kondisi ini mesi disikapi bijak oleh seorang ibu bahkan Nistisastra juga sudah memberikan metode dalam me­ngasuh anak yaitu "taki-takining sewaka guna widya, ring rwa ing puluh ayusa smara wisaya, tengahing tumuwuh san wacana gegonta, patilareng atma tanu paguruaken" ini model pendidik-an bahwa dengan pola berjenjang dari remaja hingga dewasa. Masa kanak-kanak perlakukan seperti raja, ketika remaja yang masih labil, ego maka cara mendekatinya perlakukan dengan kasih sayang dan sahabat.

Terlalu cepat jika kita hanya menjadikan anak sebagai obyek permasalahan, karena keluarga dalam suatu kesatuan, karena ibu juga panutan, teladan dalam kelu­arga. Posisi ibu yang multi fungsi menjadikan dirinya sebagai ratu dalam keluarga, kesetiannya pada keluarga itu swadharma utama. Kesetiaan pada dharma itulah yang utama sebagaimana yang disebutkan dalam Stri Sasana: Krana jani tingkage mapahumahan kadarmmane jwa gisi istripati brata nyawaka tken somah, parsiddha maguru laki saksat I bapa nggising pati urip yaitu sebabnya sekarang prilaku berumah tangga, kebenaran juga dipegang seorang istri setia, serta menghormati suami, kerjasama  dengan  suami, bagaikan ayah memegang mati dan hidup. Ibu di nyanyikan bah­wa cahayanya "bagaikan sang surya, tak mengharap kembali" ibu mendidik anak-aaknya, bermasyarakat, bekerja semuanya di lakukan dengan tulus iklas. Hanya dengan bersujud, bhakti, hormat pada ibu merupakan hal utama se­bagai seorang putra dan masyarakat. Untuk itulah jangan bermusuhan, bertentangan apalagi melawan ibu mohonlah restu doa agar dalam perjalanan hidup kita rahayu.

Kini ibu menjadi pilar darma sebagai sandaran tegak bagi kelu­arga, masyarakat dalam melaksanakan swadharmaning agama harus menjadi sosok yang kuat sebagaimana ibu Kunti, Drupadi dan Sita dalam epos mahabharata dan Ramayana. Ketiga ibu ini setia pada pada sang suami, mengasuh anaknya dan tetap membuktikan diri sebagai seorang perempuan yang gagah berani membela kebenaran dan keadilan ketika hak-hak wanita di rongrong ketidak-adilan. Perang besar Panca Pandawa dengan Satus Korwa, Rahwana dengan Rama ketika wanita diperlakukan dengan tidak hor­mat.

Oleh: N Dayuh
Source: Wartam, Edisi 22, Desember 2016