Dari Astapaka Sampai Nirartha

Masyarakat Hindu Bali yang melek sejarah maupun yang merasa terikat silsilah keturunan sangat akrab dengan nama Astapaka dan Nirartha (tabik pakulun atau mohon maaf harus menyebut begitu, karena menyebut nama orang suci seperti demikian melanggar kode etik Bali maupun Nusantara). Menyebut dua nama ini tidak lengkap tanpa ikutan ‘Dang Hyang’ yang telah fasih dibahas dengan gelar itu. Tidak sembarang orang dapat diberi gelar begitu. Terutama dengan kata ‘dang’. Pertama, istilah ‘dang’ seringkali dipakai untuk menyebut beberapa pura di Bali, dalam Dang Kahyangan. Sebutan itu khusus dipakai untuk beberapa yang sarat dengan kisah petilasan para Rsi di Bali zaman dahulu, seperti Mpu Kuturan dan Dang Hyang Nirartha.

Agak sulit melacak arti kata ‘dang’. Istilah ‘dang guru’ misalnya, dalam bahasa Bali berarti guru yang terhomat. Sebutan ‘dang’ juga diberlakukan bagi wanita yang memiliki kedudukan terhormat atau tinggi. Tapi, terlalu sederhana mendefinisikan kata ini hanya sebagai yang terhormat. Lalu, jika dikaitkan dengan kebiasaan pengucapan bahasa masyarakat Bali yang seringkali menghilangkan suku kata pertama sebuah kata, kita akan bertemu dengan istilah ‘medang’ yang berkaitan dengan kerajaan mitologis Jawa, yaitu Medang Kemulan. Di Bali juga sering dipakai istilah ‘dang kemulan’ untuk menyebut suatu pura yang berkaitan dengan silsilah keturunan – kaitannya dengan kerajaan mitologis Jawa tadi juga sulit ditemukan. Boleh jadi, di pura itu berstana leluhur pertama atau merupakan pura tempat pemujaan pokok, inti, atau utama dari suatu keturunan atau trah. Dalam karawitan, ‘dang’ adalah bunyi pertama dalam tangga nada tradisional Bali dan Jawa. Begitu juga dengan istilah ‘dangdang’, suatu alat tradisional untuk memasak makanan pokok masyarakat Bali, yaitu nasi. Jadi boleh disilmpulkan sementara kata ‘dang’ berarti pokok, inti, utama, pertama, awal, dan yang terhormat.

Selanjutnya adalah kata ‘hyang’. Istilah ini seringkali disematkan kapada dewa-dewi pujaan (istadewata), seperti Hyang Siwa, Hyang Wisnu, dan seterusnya. Pemahaman ini sesuai dengan definisi kamus bahwa ‘hyang’ artinya dewa, batara. Tapi bagaimana jika dikaitkan dengan istilah untuk menghormati leluhur orang Bali sebagai ‘Dewa Hyang’? arti kamus tadi terasa kurang sesuai. Tampaknya, kata ‘hyang’ lebih cocok merujuk pengertian telah meninggal (atau sudah berwujud astral atau roh), telah disucikan, dan menjadi yang dipuja. Dengan demikian, kata ini secara sederhana indentik dengan kata ‘suci’, namun memiliki hirarki yang lebih tinggi. Oleh karena itu, gelar atau istilah ‘Dang Hyang’ adalah untuk menghormati orang suci utama.

Kembali ke Dang Hyang Astapataka dan Dang Hyang Nirartha, keduanya dikenal sebagai pendeta pada zaman kerajaan Gelgel. Keduanya juga dikenal bersaudara, yaitu berhubungan sebagai ponakan dan paman. Namun keduanya menyebarkan paham yang berbeda, Astapaka adalah pendeta Buddha yang kemudian diklaim menjadi “leluhur pertama” masyarakat Budakeling di Karangasem dan keturunan Brahmana Buddha di Bali, sedangkan Nirartha adalah pendeta Siwa yang kemudian diklaim menjadi “leluhur pertama” bagi keturunan brahmana Siwa di Bali. Konon, keduanya juga tersohor sebagai dua pandita yang mencapai moksa.

Jika benar keduanya mencapai Moksa dengan jalan (agama) yang berbeda, maka benar pemahaman bahwa agama berbeda belum tentu tujuannya berbeda. Ini juga mengingatkan pesan pada Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma, “bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”. Secara bebas kutipan ini dapat dipahami sebagai beragam namun tunggal itu, dharmanya tidaklah mendua. Dengan kata lain, dari jalan Buddha yang ditempuh Dang Hyang Astapaka, kita dapat sampai pada Siwa, jalan Dang Hyang Nirartha, begitu juga sebaliknya.

Secara lebih mendalam, Astapaka dan Nirartha adalah teks yang mewacanakan persatuan, baik persatuan dan toleransi Buddha dan Siwa di Bali maupun persatuan dengan Tuhan (Yoga). Persatuan inilah yang selalu diramu dan dibangun oleh sluruh leluhur Nusantara. Entah karena penggantian nama dari Nusantara menjadi Indonesia sehingga lepas dari konteks sejarahnya, yang boleh jadi telah mengubah spirit perjuangan akan persatuan itu, atau justru karena hal-hal di luar itu. Yang jelas Negara Kesatuan Republik Indonesia sekarang ini sedang hiruk pikuk dengan persoalan-persoalan intoleransi dan isu-isu perpecahan (fasisme), yang jutru dipicu oleh agama, suku, dan ikutannya.

Pujangga Ronggowarsito pernah menulis, “Martabat negara tampak tanpa rupa, berantakan dan rusak; hukum dan aturan diinjak-injak; tiada lagi keteladanan bijak; sang pujangga terdiam duka, hatinya remuk redam, rasa ternista dan terhina; matahari kehidupan seakan padam; dunia kini telah penuh bencana.” Begitu juga dua sajak berikut, “Pemuka-pemuka agama sepuhan luarnya putih, kuning di dalam. Akhirnya ketahuan dan malu; manusia hina yang suka menghasut, bicara menghasut, berbicara berbusa tapi tanpa isi, malah dikira orang gila yang telah merusak otaknya. Seperti itu pasti terjadi pada orang menyombongkan ilmu, berbeda dengan yang benar-benar berilmu, hanya bias mengumbar omong mencari sensasi; merendahkan orang lain mengangkat diri”.

Sajak-sajak di atas seolah-olah sangat transparan meramalkan situasi dan kondisi saat ini. Tanpa berbekal metodologi interpretasi sekalipun, pemahaman telah serta merta kita capai karena sedang berada dalam konteksnya setiap hari. Padahal, Ronggowarsito adalah seorang pujangga abad ke-19 yang menyebut zaman ini sebagai “zaman eda”. Disebut demikian karena dizaman ini segala nilai (le)luhur dilanggar. Bahkan semakin edan saat kita tahu keberadaan dan perbedaan, namun tetap membedakan (fasis). Oleh karena itu, Astapaka dan Nirartha kit abaca dan pahami sebagai teks pemersatu dengan tujuan persatuan (non-fasis) yang menjungjung tinggi gelar ‘Dang Hyang’ yang disematkan, bukan sebagai awal mula perpecahan dengan isu-isu soroh, trah, kasta, agama, yang justru membuat kita tulah kepada leluhur.

Oleh: Sindhu Gitananda
Source: Majalah Wartam, Edisi 28, Juni 2017