Dari Agama Kumunal Hingga Agama Kapiltalis "Studi Pendahuluan Tentang Evolusi Agama Hindu di Bali"

Segala sesuatu, keberadaan apa pun, selalu memiliki sejarahnya masing-masing. Ini mengandaikan setiap keberadaan selalu berkembang berjalan dengan waktu pada setiap zamannya hingga realisasi diri tercapai, kebenaran, dan Tuhan. Sejarah selalu berkaitan dengan upaya penotalan dan menyatukan menjadi kesatuan yang retak dari keseluruhan pengalaman peristiwa yang terjadi sepotong-potong. Potongan demi potongan disatukan dalam kesatuan pemikiran yang tersistematis hingga terwujud suatu pengalaman utuh dan didalamnya manusia menjadi subjek dominan dalam permainan perannya. Jadi, sejarah selalu berbicara tentang manusia dibuat demi kepentingan-manusia yang umumnya, manusia dikatakan menyejarah (dalam ring dan waktu).

Berbeda dengan itu, ternyata perangkat hidup manusia dan satu diantaranya adalah agama juga memiliki riwayat tersendiri, walaupun di dalamnya peran manusia juga tidak serta merta dapat dipisahkan begitu saja. Hindu misalnya, dalam konteks masyarakat Bali memiliki ceritera yang eukup panjang, sejak masa Bali Kuna, Bali Majapahit, hingga datangnya pengaruh India baik itu langsung maupun dari Jawa. Masa masing-masing memberi pengaruh dalam zamannya masing-masing sehingga Hindu di Bali tidak luput dari pasang surut dalam perkembangannya. Dalam hal ini dapat diduga bahwa perkembangannya tidak terlepas dari kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan Hindu berkembang seiring dengan bentuk-bentuk kepercayaan dan keyakinan masyarakat Bali dari waktu ke waktu, seperti zaman Markandhya, Kuturan, dan Nirartha masing-masing menanamkan peng-aruhnya dalam sistem dan struktur masyarakat Hindu di Bali.

Apabila benar perkembangan Hindu selalu inhern dalam kebudayaan orang Bali maka dapat diduga bahwa bentuk agama Hindu yang sekarang tentu merupakan perubahan agama Hindu masa lalu. Pertanyaannya, bagaimanakah tahapan-tahapan perkembangan agama Hindu dalam konteks kehidupan sosial budaya orang Bali?

Evolusi Agama Hindu di Bali: Persepektif Sosio-Budaya

Perkembangan suatu masyarakat ditentukan oleh tiga tahap yaitu tahap teologis, metafisis, dan tahap rasional. Tahap teologis, akal budi manusia mencari kodrat dasar manusia, yakni sebab pertama dan akhir dari segala akibat, semua gejala dihasilkan oleh tindakan langsung dari hal-hal supranatural. Tahap metafisik, merupakan bentuk lain dari tahap teologis, akal budi mengandaikan kekuatan-kekuatan abstrak yang benar-benar melekat pada suatu benda dan yang mampu menghasilkan semua gejala. Tahap positif, akal budi sudah meninggalkan pencarian yang sia-sia terhadap usul-usul, sebab dan gejala, tetapi lebih ditekankan kepada pencarian hukum-hukum, penalaran dan pengamatan, digabungkan secara tepat merupakan sarana-sarana pengetahuan.

Kini masyarakat dan kebudayaan sudah berubah semakin kompleks, perkembangan pusat-pusat agama dan budayanyapun sudah semakin pesat, hal ini disebabkan karena mobilitas dan komunikasi yang semakin canggih. Reorganisasi sosial adalah fenomena alamiah yang harus dilakukan manusia dengan penyesuaian-penyesuaian terhadap tepat, waktu dan manusia yang dihadapi. Pusat agama dan budaya mengikuti juga perkembangan masyarakat itu, yang selanjutnya dapat dibagi menjadi empat tahapan yaitu, komunitas, kerajaan, pemerintah dan pasar.

Komunitas, pada tahap ini desa-desa (banua, wanua), subak, soroh merupakan pusat agama dan budaya, dengan ciri-ciri kemandirian, keanekaragaman, otonomi, tanpa campur tangan pihak luar, multikulturalisme aktivitas (desa dtesta desa mawecara) bagaikan sebuah karangan bunga yang bertangkai satu (Bali) dengan aneka ragam variasi bunga. Keanekaragaman tradisi desa juga sangat nampak seperti tradisi desa yang berada di lereng gunung (sima gunung), dipinggir danau, di pesisir, di bukit, di pedalaman dan lain-lain.

Secara empirik menunjukkan bahwa manusia tidak mungkin hidup sendiri di dunia ini, di bukit, di pedalaman dan lain-lain. Secara empirik menunjukkan bahwa manusia tidak mungkin hidup sendiri di dunia ini, dalam sistem makrokosmos tersebut ia merasakan dirinya hanya sebagai bagian kecil saja, yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam maha itu; oleh sebab itu dia sangat tergantung pada alam dan manusia lainnya, hal ini menyebabkan dia harus mengadakan hubungan baik dengan manusia lainnya terdorong oleh jiwa sama rasa dan sebuah komunitiy (desa, banua, banjar, sekaa, subak, soroh), Hidup menjadi, mosaik, multikulturalisme, perkembangan masyarakat pada tahap theologis.

Secara esensial manusia mempunyai kualitas untuk dapat menerima bahwa apa yang diketahui, diucapkan dan dilakukan bukanlah kebenaran-kebenaran yang mutlak dan mengakui bahwa kebenaran-kebenaran lainnya juga merupakan suatu hal yang mungkin. Keanekaragaman budaya melalui wadah organisasi sosial tradisional yang bernama desa adat, banjar, sekaa, subak, wangsa, soroh menyebutkan kebudayaan, ritual Bali menjadi unik, beranekaragam dan bertahan sepanjang jaman. Ada unsur-unsur ritual yang berhubungan dengan gunung, sawah, tegalan, sungai, danau, laut, nyepi, mapakelem, penghormatan terhadap arwah nenek moyang, pada suatu wilayah komunity maupun keluarga serta adanya beberapa kesenian seperti Sarighyang, angklung, selonding menunjukkan adanya multikulturalisme tersebut.

Fakta empirik yang menunjukkan adanya keanekaragaman tradisi lokal di dalam menyebutkan "pujaan" ada istilah Ratu Mujung, Ratu Meres, Ratu Congkeh, Ratu Nyoman, Ratu Gde, Ratu Ayu Ratu Kilat, Tangkeb Langit Tunjang Langit, Dewa Gunung, Dewa Alas, Dewa Laut, pehghargaan kepada binatang (kerbau, sapi), penghargaan kepada tanah (sawah/uma) dan juga tanah kering (mmel, mmal, kebwan, kebon, kabon, padang, parlak), adalah mozaik indah multikulturalisme).

Kerajaan, pada masa pemerintahan Gunapriya Dharmapatni dan Dharma Udayana Warma Dewa yang memerintah tahun saka 911 saka 933 agama Siwa dan Budha diakui sebagai agama keajaan. Dalam prasasti golongan pendeta Siwa disebut Dang Acarya, sedangkan golongan pendeta Budha dengan gelar Dang Upadyaya. Goris (1977) menyebutkan bahwa dalam perkembangan selanjutnya kelompok keagamaan terdiri atas Siwa Sidhhanta, Pasupata, Bhairawa, Wainawa, Sogata, Brahmana, Rsi dan Ganapati. Masyarakat dan kebudayaan senantiasa berkembang, hasi penelitian menyebutkan zaman ini sebagai tradisi besar. Tradisi besar mencakup unsur-unsur kehidupan yang berkembang bersamaan dengan agama Hindu Jawa. Persebarannya amat luas dan pengaruhnya amat kuat, melibatkan buruh desa-desa di Bali dataran.

Perkembangan masyarakat pada saat ini menempatkan kerajaan sebagai pusat agama dan kebudayaan. Kekuasaan pusat, kedudukannya adalah sebagai raja keturunan dewa, apa yang dipikirkan, diucapkan dan dilaksanakan oleh raja itulah kebenaran, rakyat harus tunduk kepada perintah raja. Konsepsi mengkultuskan raja (Dewaraja) yang menganggap raja adalah reinkarnasi dewa yang akan memberi perlindungan, kedamaian dan kemakmuran kepada masyarakat. Kepercayaan ini akhirnya menata dan mengarahkan perilaku berpola masyarakat dan pada akhirnya pengaruh terhadap agama dan nasil budaya mereka. Kekuasaan politik kerjaan yang sentralistik dan penlyatuan kelompok-kelompok keagamaan (Siwa-Budha) sangat terasa pada masa kerajaan.

Dalem Waturenggong (1460-1550) dengan kekuasaan yang melampaui batas Bali. Konsep Tri Purusa dalam Siwa dan Tri Tunggal dalam Budha sebagai penyempurnaan dari konsep Tri Murti. Jatuhnya kerajaan Waturenggong, memunculkan kerajaan-kerajaan lebih kecil seperti Mengwi, Tabanan, Badung, Buleleng, Gianyar dll. Ritual keagamaan yang dilakukan oleh raja Mengwi misalnya tidak akan sama dengan ritual keagamaan yang dilakukan oleh raja Badung. Di Mengwi biasa melakukan ritual ngaben "Naga banda" namun, di Badung tidak melaksanakan. Masing-masing kerajaan mencari identitas dan jati diri nya, konsep-konsep kesusastraan dan agama tertulis dalam lontar dengan penafsiran yang berbeda. Mulai lebih intensif adanya upacara pembakaran mayat bagi yang meninggal; adanya sistem kalender Hindu Jawa. Pertunjukan wayang kulit; legong keraton, tarian topeng dengan latar kerajaan, arsitektur dan kesenian bermotif Hindu Budha.

Pemerintah, hukum dan aturan yang dibuat oleh pemerintah mensyaratkan bahwa yang disebut agama apabila memenuhi 5 syarat (memiliki kitab, suci, orang suci, hari raya suci, tempat suci dan pemeluk) apabila syarat yang telah ditentukan tidak dipenuhi maka itu menunjukkan tidak termasuk di dalam golongan agama tertentu, demikian halnya dengan kebudayaan. Konsekuensi logis bahwa pemerintah sebagai pusat agama dan kebudayaan menyebabkan adanyan penyeragaman (homogenitas), sentralisasi, dan juga alienasi (ketidak berumahan) dan hilangnya jati diri (kearifan lokal).

Pasar, tahap ini merupakan tahap yang paling baru dengan ciri-ciri kapitalisme beragama, exclusive beagama, privatisasi agama dan termasuk di dalamnya agama teroris. Tulisan ini terfokus mengkaji kapitalisme beragama dengan membandingkan beberapa contoh aktivitas beragama umat Hindu di Bali contoh pembanding disajikan dalm tulisan ini semata-mata untuk memperjelas makna, karena sesuatu akan kelihatan maknanya apabila diberikan pembanding.

Peranan Pasar Dalam Aktivitas Kegamaan

Adam Smith, tokoh pemikir ekonomi klasik yang mengemukakan teori division of labour yang terkenal, mengembangkan pentingnya 'akumulasi-kapital' dalam pengembangan ekonomi. Teori tentang labour theory of value itu kemudian menjadi dasar kapitalisme.

Ritual besar, ekspansi pasar tidak hanya memperkenalkan barang-barang baru, tetapi juga memperluas jaringan distribusi barang yang mempengaruhi tata nilai dan hubungan-hubungan sosial. Fenomena ini sangat nyata kita lihat pada kegiatan-kegiatan keagamaan, dengan kedok menggali dana dalam rangka pembangunan tempat suci, kegiatan ritual dan karya agung pada kahyangan suci (pura kahyangan jagat, swagina, teritorial maupun geneologis) masyarakat pengempon atau sekaa teruna tidak segan-segan mengedarkan kupon dana punia (kupon bazaar) makanan siap saji Kentucky Fried Chicken, Texas Fried Chicken, California Fried Chicken, Mc. Donald dan Pizza Hut merupakan contoh bahwa makanan tidak hanya sekedar makan untuk kebutuhan biologis tetapi sudah merambah ke ranah simbolik, bahwa cita rasa, estetika dan etika makan telah berubah, dan sekaligus menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan telah diambil alih oleh pasar untuk dikeloka sedemikan rupa.

Kegiatan-kegiatan agama dan hari suci agama telah diambil alih dan dipakai kesempatan untuk distribusi barang secara besar-besaran, dan umat Hindu telah dibentuk menjadi konsumen untuk distribusi, barang-barang pakaian, makanan, buah-buahan, minuman, perhiasan, buku-buku agama, spanduk, media massa. Pasar telah dapat membentuk definisi baru tentang agama yang lebih besar asesorisnya dibanding dengan inti (tattwa). Dalam konteks ini jelas kelihatan bahwa kapitalisme tidak bisa begitu saja dipisahkan dari agama. Karl Marx, yang berniat mengubah sisteia kapitalis yang menindas, sampai-sampai harus menyebut agama sebagai candu, agar orang mau sadar bahwa ada politisasi agama demi kepentingan ekonomi yang hanya menguntung-kan segelintir orang.

Tirtyatra (wisata spiritual, tirtayatra telah menjadi bisnis yang cukup penting beberapa tahun belakangan ini. Aktivitas tirtayatra tidak semata-mata memenuhi kebutuhan spiritual namun telah menjadi komoditi yang meng-hasilkan keuntungan. Kapitalisme menciptakan segmentasi pasar, sehingga tidak semua orang dapat mengkonsumsi produk paket tirtayatra (gunung salak, India, Nepal, Thailand dan lain-lain), semua ini sangat ditentukan oleh daya beli seseorang untuk memilihnya dan fasilitas yang diinginkan. Aktivitas tirtayatra ini sekaligus menunjukkan jati diri, identitas dan identifikasi sekaligus gaya hidup seseorang. Tirtayatra kemudian, tidak semata-mata kegiatan spiritual tetapi sudah menyangkut simbol status, dan juga menciptakan stratifikasi sosial baru. Kapitalisme telah berhasil menjaga serta membangun kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan baru guna konsumerisme.

Kapitalisme pasar tidak hanya bergerak untuk menciptakan dan menjaga kebutuhan material tetapi telah merambah ke kebutuhan imaterial umat. Privatisasi agama adalah sebagai produk kapitalisme, sebagai contoh aktual di samping tirtayatra juga ada tawaran paket nyepi dihotel, membeli banten dll, di sini kelihatan bahwa pasar telah membuat kehidupan beragama begitu mudah, dengan fasilitas-fasilitas yang begitu jauh menjadi sangat dekat.

Citra Keberagamaan

Perkembangan agama Hindu di Bali rupanya, sejalan dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaannya, yakni dari masyarakat agraris, masyarakat kerajaan dan negara, dan masyarakat pasar. Pada masyarakat agraris kebudayaan merupakan nilai kolektif dibagi bersama, pada masyarakat kerajaan dan negara kebudayaan merupakan nilai yang ditentukan berdasarkan pola pasar sesuai dengan kebutuhan kerajaan dan negara, Sedangkan pada masyarakat pasar kebudayaan menjadi nilai yang diferensial dan individual. Dalam perkembangan tersebut agama menjadi inti nilai budaya masyarakat yang dipraktikkan dalam kehidupan sosial yang semakin lama semakin longgar sehingga bukan ajaran agama menjadi substansi yang penting, melainkan citra keberagamaan telah menjadi domain pentingnya. Dalam hal ini konsumsi keagamaan menjadi substansi yang penting karena proyek kehadiran melalui konsumsi telah mengalahkan cara-cara orang dalam mempraktikkan agama.