Daksina Satu Syarat Satwika Yadnya

Ketika kita menyebut daksina, dalam benak orang Bali yang awam akan terbayang satu bentuk jejahitan yang berbentuk serobong (silinder) terbuat dari daun kelapa yang sudah tua, dan isinya berupa beras, uang, kelapa, telur itik dan lain-lain. Ya, daksina tersebut adalah sesajen yang dibuat untuk tujuan kesaksian spiritual. Daksina adalah lambang Hyang Guru (Dewa Siwa) dan karena itu digunakan sebagai saksi Dewata. Sebenarnya pengertian daksina secara umum adalah suatu penghormatan dalam bentuk upacara dan harta benda atau uang kepada pendeta/ pemimpin upacara. Penghormatan ini haruslah dihaturkan secara tulus ikhlas. Persembahan ini sangat penting dan bahkan merupakan salah satu syarat mutlak agar yadnya yang diselenggarakan dapat disebut berkwalitas (satwika yadnya).

Akhir-akhir ini, kita dipaksa untuk mengkerutkan jidat dengan diisyukannya beberapa sulinggih dalam geria yang "rajin" melayani Sisyanya dengan menjual banten. Harga banten-pun bervariasi sesuai dengan besar kecil atau tingkat kerumitannya. Satu hal yang paling membuat trenyuh adalah harga banten telah menggigit umat yang ekonominya lemah. Hal itu rupanya akan tetap berlangsung jika tidak ada ketegasan dari pihak lembaga umat kita. Sulinggih berbisnis? Ini tentu sudah melanggar sasana kepanditaan. Terhadap sulinggih "matre" seperti ini sudah pada tempatnya jika PHDI memberikan teguran (kalau tidak bisa disebut sangsi).

Tetapi tunggu dulu, terlepas dari sasana kepanditaan yang telah dilanggar, kita perlu introspeksi diri mungkin sekali kita ikut andil dalam menciptakan keadaan seperti itu. Tidakkah karena kita, para pendeta yang mestinya pensiun mencari nafkah, tetapi karena tuntutan kesejahteraan terpaksa kembali berbisnis? Ya.... kita lalai untuk menyucikan dan memuliakan beliau-beliau semua. Sebagai contoh di desa pakraman (secara umum) apabila ada yang menyelenggarakan yadnya, kita sangat jarang melihat kenyataan bahwa ada persembahan kepada pemimpin upacara (pendeta/pemangku) yang sedikit istimewa dalam pengertian cukup layak jika dibandingkan dengan tingkat kerumitan dan kemegahan yadnya tersebut. Misalnya, sebuah yadnya yang diselenggarakan dengan menelan biaya sepuluh juta rupiah, tetapi daksina untuk para pemimpin yadnya itu tidak ada, atau kalau ada paling besar sepuluh ribu rupiah. Apakah itu cukup proporsional ? Tidakkah kita sadar kerja memuput yadnya itu cukup menyita energi dan waktu?

Sebagai perbandingan misalnya, seorang karyawan sebuah perusahaan yang bekerja sepuluh jam per hari, ia sudah dapat dipastikan mendapat upah tiga puluh ribu rupiah. Sedang pandita yang kerja sehari penuh hanya memperoleh daksina sepuluh ribu rupiah. Nah, kita tahu secara vertikal spiritual atau apapun pandita lebih terhormat dibandingkan yang lainnya. Lalu dimana penghormatan kita kepada Beliau yang konon sebagai perwujudan Dewa? Yaaa, kita belum berbhakti kepada pendeta.

Dalam Mahabharata diceritakan tentang betapa pentingnya daksina dalam upacara yadnya. Dikisahkan "setelah perang Bharatayuda usai, Sri Krishna menganjurkan kepada Pandawa untuk menyelenggarakan upacara yadnya yang disebut Aswamedha yadnya. Upacara korban kuda itu berfungsi untuk menyucikan secara ritual dan spiritual negara Hastinapura dan Indraprastha karena dipandang leteh (kotor) akibat perang besar berkecamuk. Di samping itu rakyat Pandawa bisa diliputi rasa angkuh dan sombong akibat menang perang.

Atas anjuran Sri Krishna, di bawah pimpinan Raja Dharmawangsa, Pandawa melaksanakan Aswamedha Yadnya itu. Sri Krishna berpesan agar yadnya yang besar itu tidak perlu dipimpin oleh pendeta agung kerajaan tetapi cukup dipimpin oleh seorang pendeta pertapa keturunan sudra yang tinggal di hutan. Pandawa begitu taat kepada segala nasihat Sri Krishna, Dharmawangsa mengutus patihnya ke tengah hutan untuk mencari pendeta pertapa keturunan sudra. Setelah menemui pertapa yang dicari, patih itu mengha¬turkan sembahnya, "Sudilah kiranya Anda memimpin upacara agama yang bernama Aswamedha Yadnya, wahai pendeta yang suci". Mendengar permohonan patih itu, sang pendeta yang sangat sederhana lalu menjawab, "Atas pilihan Prabhu Yudhistira kepada saya seorang pertapa untuk memimpin yadnya itu saya ucapkan terima kasih. Namun kali ini saya tidak bersedia untuk memimpin upacara tersebut. Nanti andaikata kita panjang umur, saya bersedia memimpin upacara Aswa¬\medha Yadnya yang diselenggarakan oleh Prabhu Yudistira yang keseratus kali."

Mendengar jawaban itu, sang utusan terperanjat kaget luar biasa. Ia langsung mohon pamit dan segera melaporkan segala sesuatunya kepada Raja. Kejadian ini kemudian diteruskan kepada Sri Krishna. Setelah mendengar laporan itu, Sri Krishna bertanya, siapa yang disuruh untuk menghadap pendeta, Dharmawangsa menjawab "Yang saya tugaskan menghadap pendeta adalah patih kerajaan". Sri Krishna menjelaskan, upacara yang akan dilangsungkan bukanlah atas nama sang patih, tetapi atas nama sang Raja. Karena itu tidaklah pantas kalau orang lain yang memohon kepada pendeta. Setidak-tidaknya permaisuri Raja yang harus datang kepada pendeta. Kalau permaisuri yang datang, sa-ngatlah tepat karena dalam pelaksanaan upacara agama, peranan wanita lebih menonjol dibandingkan laki-laki. Karena upacara'agama bertujuan untuk membangkitkan prema atau kasih sayang, dalam hal ini yang paling tepat adalah wanita.

Nasihat Awatara Wisnu itu selalu dituruti oleh Pandawa. Dharmawangsa lalu memohon sang permaisuri untuk mengemban tugas menghadap pendeta di tengah hutan. Tanpa mengenakan busana mewah, Dewi Drupadi dengan beberapa iringan menghadap sang pendeta. Dengan penuh hormat memakai bahasa yang lemah lembut Drupadi menyampaikan maksudnya kepada pendeta. Di luar dugaan, pendeta itu bersedia untuk memimpin upacara yang agung itu. Pendeta itu kemudian dijemput sebagaimana tatakrama yang berlaku. Drupadi menyuguhkan makanan dan minuman ala kota kepada pendeta. Karena tidak pernah hidup dan bergaul di kota, sang Pendeta menikmati hida¬ngan tersebut menurut kebiasaan di hutan yang jauh dengan etika di kota. Pendeta kemudian segera memimpin upacara.

Ciri-ciri upacara itu sukses menurut Sri Krishna adalah apabila turun hujan bunga dan terdengar suara genta dari langit. Nah, ternyata setelah upacara dilangsungkan tidak ada suara genta maupun hujan bunga dari langit. Terhadap pertanyaan Darmawangsa, Sri Krishna menjelaskan bahwa tampaknya tiadak ada "daksina" untuk dipersembahkan kepada pendeta. Kalau upacara agama tidak disertai dengan daksina untuk pendeta, berarti upacara itu menjadi milik pendeta. Dengan demikian yang menyelenggarakan upacara berarti gagal melangsungkan yadnya. Selain itu gagal atau suksesnya yadnya ditentukan pula oleh sikap yang beryadnya. Kalau sikap ini tidak baik atau tidak tulus menerima pendeta sebagai pemimpin upacara maka gagallah upacara itu. Sikap dan perlakuan kepada pendeta yang penuh hormat dan bhakti merupakan salah satu syarat yang menyebabkan upacara itu sukses.

Setelah mendengar wejangan itu, Drupadi segera menyiapkan Daksina untuk pendeta. Setelah pendeta mendapat persembahan daksina, tidak ada juga suara genta dan hujan bunga dari langit. Melihat kejadian itu, Sri Krishna memastikan bahwa di antara penyelenggara yadnya ada yang bersikap tidak baik kepada pendeta. Atas wejangan Sri Krishna itu, Drupadi secara jujur mengakui bahwa ia telah mentertawakan walau dalam hati, yaitu pada saat pendeta menikmati hidangan tadi.

Memang dalam agama Hindu, Pendeta mendapat kedudukan yang paling terhormat bahkan dipandang sebagai perwujudan Dewa. Karena itu akan sangat fatal akibatnya kalau ada yang bersikap tidak sopan kepada pendeta. Beberapa saat kemudian setelah Drupadi berdatang sembah dan mohon maaf kepada pendeta, jatuhlah hujan bunga dari langit dan disertai suara genta yang nyaring membahana. Ini pertanda yadnya aswamedha itu sukses. Demikianlah, betapa pentingnya "daksina" dalam upacara yadnya.

Source: P. Paradev l Warta Hindu Dharma NO. 427 September 2002