Ciri-Ciri Manusia Bhakti

Chandogya Upanishad mengajarkan untuk melakukan pemujaan setiap hari saat raditya dina pagi hari, madya dina siang hari, dan sandhya dina sore hari. Senada dengan itu Sarasamuscaya 260 yang mengajarkan tentang Dasa Niyama Brata, salah satu darinya disebutkan Snana yang dijelaskan sebagai berikut: Sanana ngarania Tri Sandhya sevana mdyus rikalaning sandhya. Artinya: Snana namanya melakukan Tri Sandhya sebagai pemujaan dan mendyus saat sandhya.

Pemujaan dengan giita atau kirtanam setiap hari dalam tiga waktu seperti dianjurkan dalam Chandogya Upanisad dan Sarasamuscaya memilki kekuatan yang sangat hebat dan sudah banyak pihak yang merasakan kegunaannya membangun hidup yang cerah lahir batin.

Swami Siwananda juga sangat menganjurkan melakukan gita atau kirtanam saat tiga waktu itu. Lebih lanjut Swami Satya Narayana menyatakan sebagai berikut: Pukul 4.00 sampai pukul 8.00 pagi digolongkan satvika kala. Pukul 8.00 sampai pukul 16.00 tergolong rajasika kala. Pukul 16.00 sampai pukul 20.00 lagi satvika kala. Pukul 20.00 sampai pukul 4.00 tamasika kala.

Menurut Wrehaspati Tattwa 21 disebutkan, kalau guna satwam dan guna rajah secara seimbang mendominasi citta atau alam pikiran, maka guna sattwam mendorong manusia berniat baik, sedangkan guna rajah mendorong manusia berbuat baik. Mendekatlah pada Tuhan berbhakti dengan gita saat pukul 6.00 pagi, pukul 12 siang dan pukul 18 sore. Dengan demikian guna rajah dikuatkan oleh guna sattwam pada pagi dan sore hari. Sedangkan siang hari guna rajah disiapkan untuk menerima pengendalian guna sattwa. Dengan sembahyang pagi, siang, dan sore dengan gita atau kirtan untuk menguatkan guna sattwam sehingga guna rajah tidak bisa ketemu dengan guna tamah.

Kuatnya dominasi guna sattwam dan guna rajas menguatkan fungsi Jnyana dan Karma untuk melakukan bhakti pada Tuhan. Kondisi diri seperti itu dapat menguatkan eksistensi daiwi sampad atau kecendrungan kedewaan dalam diri meraih karuna (kasih) Tuhan. Daiwi Sampad atau kecenderungan kedewaan menurut Bhagawad Gita XVI.3 ada enam ciri manusia yang memiliki kecendrungan kedewaan atau Daiwi Sampad, yaitu: (1) Tejah = cekatan dan tegas dalam bersikap; (2) Ksama = pemaaf; (3) Dhrti = teguh iman; (4) Sauca = suci lahir batin; (5) Adroha = bebas dari rasa benci; dan (6) Na timanita = tak angkuh.

Dengan memiliki kecenderungan kedewaan atau Daiwi Sampad dapat lebih mudah melakukan bhakti pada Tuhan. Dengan melakukan bhaktilah orang boleh menyebut dirinya sebagai penyembah Tuhan atau bhakta. Menurut Bhagawad Gita XII. 13 dan 14 ada tiga belas syarat orang baru dapat menyebut dirinya sebagai penyembah Tuhan. Dalam Sloka 13 ada tujuh syarat dan Sloka 14 ada enam syarat yaitu: Sloka 13: (1) Advesta sarva bhutanam yang artinya menyayangi semua makhluk; (2) Maitri yang artinya senantiasa mengembangkan persahabatan; (3) Karuna yang artinya senantiasa mengembangkan kasih sayang sejati; (4) Nirmama yang artinya tidak rakus dan sombong; (5) Nirahamkara yang artinya tidak egois mementingkan diri sendiri; (6) Sama duhkham yang artinya seimbang dalam suka dan duka; (7) Ksami yang artinya menjadi seorang pemaaf.

Inilah tujuh syarat yang wajib dilakukan bagi mereka yang menyatakan diri sebagai penyembah Tuhan atau bhakta.

Selanjurnya ada enam syarat lagi yang dinyatakan dalam Sloka 14 yaitu: (1) Samtusta, artinya selalu ada dalam keadaan tenang; (2) Satata yang artinya punya ketetapan hati; (3) Yogi yang artinya selalu menjalankan Yoga; (4) Yata Atman artinya menguasai diri dengan kesucian Atman; (5) Dridhaniscaya yang artinya punya tekad dan teguh dalam berpendirian; (6) Myarpitamanobudhi yang artinya pikiran dan budhi terpusat pada Tuhan.

Demikianlah syarat orang dapat menyatakan dirinya sebagai seorang bhakta atau seorang penyembah Tuhan sejati. Tiga belas syarat itu sungguh tidak mudah mewujudkannya. Karena itu melakukan gita atau kirtanam untuk membangun kesucian hati meningkatkan keluhuran moral dan daya tahan mental. Dengan keluhuran moral dan ketangguhan mental itu sebagai dasar melakukan tiga belas syarat sebagai penyembah Tuhan.

Untuk mengikuti dinamika zaman para seniman yang rohaniawan seyogianya didorong untuk melakukan inisiatif untuk berkreasi manciptakan Dharma Gita yang dibutuhkan zaman asalkan berdasarkan konsep Dharma Gita yang ada dalam ketentuan pustaka suci yang ada. Demikian juga gita yang sudah ada dapat rekonstruksi untuk ditingkatkan daya gunanya menguatkan rasa keagamaan agar dapat berfungsi membangun jiwa sebagai aktor kehidupan menggerakan kualitas pikiran ucapan dan prilaku.

Sebagaimana diajarkan dalam pustaka Tattwa Jnyana 35 yang mengkonsepkan struktur diri agar bayu, sabda dan idep terstruktur di bawah kendali kesucian Atman. Bayu di bawah kendali sabda, selanjutnya bayu dan sabda itu berada di bawah idep. Kondisi diri yang demikian itulah yang dapat mengerakkan hidup di jalan dharma. Caranya dengan cara melantun gila dengan benar. Dari melantunkan gita dengan benar itu jiwa selalu diliputi oleh rasa ketuhanan yang kuat. Dengan rasa ketuhanan yang kuat itu bayu, sabda, dan idep menjadi media untuk mengimplementasikan kesucian Atman. Ini artinya gita itu berfungsi menguatkan rasa ketuhanan mendominasi seluruh sistem diri.

Manawa Dharmasastra VII. 14 menyatakan bahwa Tuhan menurunkan dua putra-Nya, yaitu: (1) Rta, yaitu norma untuk menata kehidupan alam; (2) Dharma, yaitu norma untuk menata kehidupan manusia. Untuk menegakkan Rta dan Dharma itu tidak bisa hanya dengan kecerdasan intelektual semata. Rta dan Dharma itu harus ditegakkan dengan hati nurani yang cerah, indah, dan lembut. Untuk mendapatakan hati nurani yang demikian itu tekun melakukan Dharma Gita adlah caranya sesuai dengan petunjuk Weda.

Source : I Ketut Wiana l Majalah Raditya Edisi 223 - Februari 2016