Cikalbakal Pasraman

Dahulu pola pendidikan di lakukan secara informal di lingkungan keluarga secara otodidak. Orang tua mempunyai tanggung jawab untuk mendidik anaknya. Sejarah membuktikan bahwa jaman paleolitikum kehidupan masih nomaden, hidup di gua-gua, manusia belajar dan menyesuaikan diri dengan alam. Mesolitikum mulai menetap, bercocok tanam, dan mengolah hasil tanaman terjadi pola asuh panak anak untuk bertani dan berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kemudian jaman neolitikum manusia sudah mulai berbudaya dalam hidupnya, menghasilkan kerajinan, mengolah sumber daya alam. Pada jaman ini pendidikan yang disengaja dengan struktur dan sistem belum ada, namun secara kodrati orang tua mempunyai tanggung jawab dan kewajiban mendidik anak-anaknya. Anak-anaknya diajarkan tentang alam, bertani, beternak, berburu dan yang lainnya.

Peninggalan dan bukti sejarah Hindu, baik tertulis dan tidak telah ada pola pendidikan memakai sistem asrama, padukuhuan. Dalam sastra digambarkan bahwa asrama itu terletak di alam yang sejuk, di pegunungan, pohon yang rindang, gemericik air sungai, penuh dengan aneka warna-warni bunga dan murid pasraman yang disiplin. Guru dan murid tinggal di asrama sehingga terjadi hubungan yang dekat dan akrab dengan guru. Guru benar-benar dihormati, di segani oleh anak didiknya. Pola inilah yang sering disebut dengan upanisad yaitu duduk dekat di bawah guru. Dalam pasraman inilah kemudian lahir karya sastra weda, upanisad, itihas, purana, ayur weda sampai lontar di Bali.

Pola pendidikan secara sistematis yang dilakukan sekaran dikenal sejak jaman negara barat menjajah Indonesia khususnya Belanda dan Jepang. Penjajah Belanda mendirikan sekolah formal dengan sistem klasikal. Pada jaman ini pendidikan formal Hindu pada jaman penjajahan Belanda ini belum ada, namun pendidikan berlangsung secara turun-temurun di lingkungan keluarga (informal) dan dan masyarakat (non formal). Dikeluarga seperti Griya, Padukuhan, Pasraman berlangsung pendidikan secara mentradisi dari orang tua pada anaknya hal ini dapat dibuktikan dengan lahirnya karya sastra dalam guratan lontar.

Sejarah awal Pendidikan Hindu dirintis oleh Yayasan Dwijendra Denpasar di tahun 1953 dengan SMP yang didirikannya. Kemudian dilanjutkan dengan mendirikan Pendidikan Gurua Agama Hindu Bali pada tahun 1959 yang menjadi cikal bakal pendidirian Pendidikan Guru Agama Hindu Negeri (PGAHN), Akedemi Pendidikan Guru Agama Hindu (APGAH), Institut Hindu Darma dan Institut Hindu Darma Negeri dan UNHI sekarang. Dengan di akuinya lembaga pendidikan Hindu oleh negara secara legalitas formal terjadi regulasi pendidikan Hindu yang lebih tertata dengan kurikulum, bahan ajar, tenaga pendidik. Lulusan pendidikan Guru Agama Hindu terserap tenaganya menjadi pegawai negeri sipil untuk menjagar pendidikan agama Hindu.

Bukan sekedar rasa kangen pada pola pendidikan agama Hindu terdahulu yang mencetak siswa yang berkarakter Hindu. Kini Hindu sedang bereuforia dengan memiliki sekolah yang 60% proses belajarnya agama Hindu. Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 56 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Hindu telah mengakomodais, memediasi kepentingan dan kebutuhan cita-cita umat Hindu. PMA tersebut sekaligus jawaban atas UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam PP 25 tahun 2007 ini mengatur tentang pendidikan agama dan keagamaan. Dalam pasal 1 ayat 5 disebutkan bahwa pasraman adalah satuan pendidikan keagamaan Hindu pada jalur pendidikan formal dan nonformal. Lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah tersebut diatur bahwa pendidikan pasraman diselenggarakan pada jalur formal dan non formal, ini berarti masyarakat pengelolaan satuan pendidikan pasraman bisa dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat (pasal 38 ayat 2 dan 3).

Namun sebelum terbit PMA Nomor 56 Tahun 2014 tersebut, Pasraman non formal yang dilakukan lembaga pendidikan Hindu seperti Pasraman di desa pakraman, di lembaga pendidikan formal juga melakukan pasraman kilat biasanya saat liburan. Bahkan pemerintah Propinsi Bali mengeluarkan buku panduan untuk pasraman anak-anak dan remaja. Tentunya hal menarik yang didapatkan di pasraman non formal ini karena pola pendidikannya yang humanis dengan bahan ajar yang praktis. Sistem pendidikan di jalur informal dan non formal yang mentradisi sekarang ini, mempermulia memberikan pencerahan terhadap tradisi, agama nenek moyang yang telah mereka warisi.

Pendidikan informal melaksanakan proses pembelajaran, memberikan jawaban sekaligus penghayatan tentang apa yang dilakukannya, mengapa melakukan dan untuk apa berbuat seperti itu utamanya yang berhubungan dengan ajaran agama yang dianutnya. memberikan pemahaman dan penghayatan agama kepada anak menuju keseimbangan antara teori agama yang didapatkan pada jalur formal dengan praktek yang diamanat-kan oleh agamanya. Sebagaimana karakteristik agama Hindu adalah agama tindakan (action) maka penghayatan agama melalui praktek lebih memberikan nuansa sentuhan.

Butuh kemamapuan dan komitmen atas terbitnya PMA ini briuk sapanggul rasa senasib, sepenanggungan dan seperjuangan untuk bergandengan tangan bahu membahun membangun Hindu Nusantara hingga Sirna Hilang Kertaninng Bhumi di daur ulang menjadi kebangkitan Hindu kembali, kebangkitan sumber daya yang berkualitas sehinggga lahir generasi emas yang cermerlang dalam setiap perubahan.

Oleh: I Nyoman Dayuh
Source: Majalah Wartam/Edisi 23/Januari 2017