Brata Saat Hamil Menghimpun Energi Baik

Orang Bali mewarisi segepok sistem nilai dalam kehidupannya dan sering aturan tidak tertulis tersebut dipandang sebagai etika saja. Bahkan yang lebih memprihatinkan berbagai larangan dalam bertindak dianggap suatu kepanatikan saja tanpa manfaat yang jelas. Keberadaannya ditaati hanya karena merupakan kebiasaan para leluhur dan tidak ada daya menganalisis berdasarkan aspek kecerdasan. Ulah semacam ini menghasilkan kepatuhan beku, dibingkai tahayulisme tak berbobot apa-apa. Seperti halnya sewaktu ibu-ibu sedang mengandung janin bayi, mereka ditradisikan untuk pantang terhadap sejumlah hal termasuk juga bagi bapak-bapak yang istrinya hamil. Apakah makna pantang cukur rambut bagi suami atau pantang membuat pagar? Mengapa perempuan hamil tidak diperkenankan menyem-bahyangi orang mati?

Ada beberapa disiplin (brata) yang harus ditegakkan pihak bapak selama istrinya hamil seperti; tidak bercukur rambut, tidak membangun rumah, merakit peralatan kayu (melelaitan-bhs. Bali), menggulung mayat, memasang pagar, membuat telaga dan mengambil istri lagi termasuk tidak boleh berzina. Sedangkan ibu hamil dianjurkan tidak menyaksikan orang kawin, menengok orang salah pati atau ulah pati, menyembah orang mati dan menjual binatang peliharaan. Semua teknik perawatan kehamilan ini belum terukur secara medis, apa iya ada manfaatnya atau hanya tahayulisme belaka.

Sebenarnya pertumbuhan atau terjadinya pembuahan sperma dengan sel telur merupakan awal dari "nasib" sang bayi kelak. Sebab itu kondisi sperma dan sel telur yang ideal akan menghasilkan benih bayi baik. Secara fisik atau mental. Untuk menciptakan kondisi benih reproduksi seperti itu tidaklah suatu keseketikaan, melainkan bapak dan calon ibu yang melakukan persetubuhan harus terlebih dahulu sehat. Sehat pengertiannya tidaklah semata-mata kuat secara fisik atau tidak gila, tetapi keseimbangan raga yang dihuni tiga karakter yaitu panas, dingin dan angin. Menyeimbangkan karakter raga ini perlu dibina sejak awal yaitu salah satunya cara makan yang baik. Memilih makanan yang sehat, bagi tubuh dan pikiran akan mengkondisikan tubuh secara ideal.

Susunan kimiawi makanan yang disantap berperan mempengaruhi kerja otak. Inilah makan, makanan terpilih dibutuhkan sejak dini. Meniadakan unsur yang mendorong terjadi dominasi satu karakter raga saja. Semisal tidak menyantap sesuatu yang menyebabkan panas berlebih atau dingin atau unsur anginnya tinggi. Ini dari aspek makanan, kemudian pembuahan juga dipengaruhi kondisi pikiran saat bersetubuh. Pikiranlah saklar dari syaraf dan produksi hormon-hormon. Dengan berkecenderungan menggebu-gebu, maka hormon yang lebih aktif adalah hormon jenis tertentu yang langsung mengalir ke seluruh tubuh dan mengkondisikan juga kualitas sperma dan sel telur.

Lantas setelah janin terbentuk dalam rahim pertumbuhan atau pembentukan tubuh baru belumlah final. Selain janin menyerap nutrisi makanan dari ibu, gelombang otak bayi pun mulai terbentuk dan terpola. Janin ibaratnya ada dalam cetakan, jika mesin ovennya panas akan menghasilkan roti gosong, jika lembam dan malas menghasilkan roti tidak matang. Pikiran atau pembentukan otak bayi menyerap juga gelombang-gelombang elektromagnetik dari pikiran ibu, bapak dan lingkungannya. Suatu aliran listrik yang tidak teratur pada pembentukannya akan menghasilkan akibat buruk pada bayi. Berbagai cara menjaga bayi yang "tereram" dalam rahim adalah menjaga makanan dan pikiran serta suasana. Tujuannya hanyalah tercipta suatu kesan tenang, bebas dari kecemasan, kesemrawutan, gaduh yang bisa merusak suasana hati ibu dan mengguncangkan gelombang otaknya. Jika ini terjadi gelombang yang teralirkan pada bayi juga kacau jadinya. Dalam "mengeram" bayi ini dibutuhkan suatu konsentrasi atau orang Bali menyebut "meyoga" bagi bapak dan ibu. Pikiran kedua sumber benih ini harus terkonsentrasi pada tujuan pertumbuhan dan tidak memikirkan suatu penghancuran, penghalangan dan sebagainya.

Tidak bercukur rambut hanyalah membiarkan pikiran terisi suatu kesan, bahwa dirinya sedang membiarkan sesuatu tumbuh. Dengan menyadari dia memelihara sesuatu (rambut) pikirannya tidak berharap akan suatu peniadaan. Ini energi positif dari pikiran bapak terhadap benihnya yang terbuah di rahim istrinya. Demikian juga tidak memasang pasak bermakna tidak menutup suatu celah dari aliran energi. Yang penting terbentuknya image di pikiran, sebab jika melakukan kegiatan menyumbat sesuatu pasti pikiran terbawa semangat menutup itu. Dengan menjaga image di pikiran, bahwa celah masih terbuka, maka pikirannya langsung mengkondisikan energi atau mentransfer energi kepada janin. Ini penjelasan sama untuk membuat telaga, nutup lubang semut dan sebagainya. Sebab bukan kegiatan itu dilarang, melainkan image akibat perbuatan itu bertentangan sifat energinya dengan energi yang dibutuhkan bagi pertumbuhan janin.

Tidak menggulung mayat, ini jelas akan makna kematian. Pengertian kematian identik dengan akhir, suatu pembuangan. Terlibat dalam aktifi tas itu otomatis pikiran terisi kesan membuang, padahal untuk janin dibutuhkan energi datang. Sekali lagi yang dipentingkan kondisi pikiran, semua pantangan itu hanya latihan bagi pikiran, bersifat proteksi agar tanpa disadari pikiran menghasilkan energi lain selain niat menumbuhkan. Tidak boleh berzina sebenarnya larangan sepanjang waktu, tetapi bila dilakukan saat istri hamil akan memunculkan keguncangan besar pada mental istri bila ketahuan. Selain, itu pikiran secara sadar membentuk energi negatif, karena merasa berdosa "mencuri", berkhianat. Manakala pikiran berpikir tentang istri hamil dan sekaligus berpikiran sedang selingkuh, bagaimanakah corak sang pikiran dan bagaimana bentuk energi yang terkirim pada janin saat memikirkan hamil istri?

Pihak ibu hamil tidak diperkenankan menghadiri atau menyembah orang mati, karena doa kepada orang mati dengan niat mendorong arwah naik ke lapisan alam atas. Mendorong arwah pergi. Pada saat sama ibu hamil butuh penarikan energi itu, bukan menolaknya. Jika kekuatan mendoakan orang mati itu kuat, maka kekuatan yang terbentuk adalah menolak pertumbuhan janin itu beserta roh yang mendiaminya. Kondisi pikiran, sekali lagi kondisi pikiran. Pendeknya etika kuno warisan leluhur orang Bali ini bertujuan menjaga guncangan pikiran, sehingga energi terbentuk effektif. Penelitian jaman moderen ini mulai membuktikan, bahwa musik lembut mendukung pertumbuhan janin, karena janin ternyata bereaksi terhadap suara lingkungannya. Dia bereaksi terhadap emosi ibunya. Jaman dulu, jika istri hamil sang suami melantunkan kidung-kidung atau baca buku-buku suci.

Mendorong istri tenteram. Apabila saat istri hamil lantas membangun rumah, jelas keriuhan suasana akan menimbulkan suasana hiruk pikuk. Di kota-kota besar bayi sudah dibekali stres sejak di rahim ibunya. Segala ketegangan merasuki pikiran ibu lalu dioper pada janin. Dengan demikian, patuh terhadap tradisi tidak akan berguna jika secara prinsif tidak diketahui artinya. Selain brata tradisi jaman moderen ini terlalu banyak sumber mengguncangkan pikiran, jadi bijaksanalah saat hamil selain rajin ke bidan, rajinlah mengecek kondisi mental dan pikiran.

 

Source: Putrawan l Warta Hindu Dharma NO. 428 Oktober 2002