Brahmana dalam Sumpah "Brahmacarya"

Brahmano va manusyanam adityo vapi tejasam siro va sarva-gatresu dharmesu satyam uttamam

Kalinganya, nihan dharma rengon de sang mahyun wruheng kawisesan ing janma, yan manusya tan hana lewih kadi brahmana, brahmana ngaranya sang kumawasaken kabrahmacaryan, tiga Iwirnya, ndya ta nihan, hana sukla-brahmacari, hanasawa-labrahmacari, hana krsna-brahmacari, sira brahmana ngaranira, sira ta lewih sakeng manusa-janma, sukla-brahmacari ngaranira, tan parabisangkan rare, tan mamju tan kuming sira, adyapi teka ring wrddha tuwi, sira tan pangucaparabi sangka pisan, mangkana sang brahmacari ngaranira, yan sira sukla brahmacari. Sawala-brahmacari ngaranira, marahi pisan, tan parahi muwah, kunang yan kahalangan mati stri nira, tan parahi muwah muwah sira, adyapi teka ri kapati nira, tan pangucap arabya, mangkana sang brahmacari, yan sira sawala-brahmacari. Krsna-brahmacari ngaranira, marahi papat ta nghing hinganya, tan parabi muwah, syapa kari pinakadarsaneng loka mangkana, Sanghyang Rudra sira pat dewi nira, ndya ta Iwir ing dewi nira, Uma, Gangga, Gauri, Durga, nahan Dewi Catur-bhagini, tiniru de Sang Krsna-brahmacari, ndan wruha ta sireng kaladesa ning stri-sanggama, mangkana karma sang brahmacari sowang-sowang. Kunang ikayan teja, tan hana kadi teja sang hyang aditya, sira wisesa ning teja ring loka. Kunang yan ting sarwagatra ning sarira, tan hana kadi sirah wisesa. Mangkana ikang dharma, tan hana lewih kadi kasatyan, yeka uttama ring loka. (Slokantara 1)

Terjemahan:

Sebagaimana brahmana di antara manusia, matahari di antara yang bersinar, kepala di antara anggota badan, seperti itu¬lah keutamaan Satya (kejujuran) di antara kewajiban suci Dharma.

Sesungguhnya, inilah ajaran-ajaran suci dharma yang hendaknya didengarkan oleh mereka yang ingin mengetahui tujuan khusus menjelma menjadi manusia. Di antara manusia tidak ada yang lebih mulia daripada sang brahmana. Brahmana berarti dia yang sudah mantap menjalankan ke-brahmacari-an. Ada tiga jenisnya, yaitu: ada yang dinamakan Sukla-brahmacari, Sewala-brahmacari, dan ada pula yang dinamakan Krsna-brahmacari.

Dia (yang mempraktikkan ketiga jenis brahmacarya tersebut) lah yang dinamakan brahmana, dan dia lebih mulia dari kelahiran manusia (lainnya). Sukla-brahmacari berarti dia yang tidak kawin sejak kecil, (tetapi) bukan karena mempunyai penyakit kelainan seks (dan) bukan karena impoten, bahkan sampai di usia tua sekali pun dia tidak membicarakan masalah kawin, seperti itulah seorang brahmacari namanya, jika dia adalah seorang sukla-brahmacari.

Sewala-brahmacari adalah dia yang menikah hanya sekali (dan) tidak (pernah) menikah lagi, seandainya (dia) mengalami musibah istrinya meninggal, dia tidak akan beristri lagi, bahkan sampai datang ajalnya, (sama sekali) tidak akan pernah berucap untuk beristri. Seperti itulah seorang brahmacari, jika dia adalah seorang Sewala-brahmacari.

Krsna-brahmacari adalah dia yang beristri paling banyak empat kali, (setelah itu) dan tidak beristri lagi. Lalu, siapakah yang patut dipakai sebagai contoh nyata dalam hal ini? Sang Hyang Rudra beliau mempunyai empat Dewi, yaitu Dewi Uma, Ganga, Gauri, dan Dewi Durga, dikenal sebagai Dewi Catur Bhagini, (itulah) yang ditiru oleh yang menjalankan krsna-brahmacari, namun juga dia tahu waktu dan tempat dalam berhubungan dengan istri-istrinya. Demikianlah perincian masing-masing brahmacari itu. Sedangkan sehubungan dengan sinar, tidak ada yang menyamai sinar matahari. Ia adalah sinar yang maha utama di dunia. Sedangkan sehubungan dengan bagian-bagian dari anggota badan, tidak ada yang melebihi keutamaan kepala. Demikian pula dalam ajaran suci dharma, tidak ada yang menyamai keutamaan kejujuran. Itulah yang utama di dunia ini.

Slokantara di atas merupakan ulasan dari sloka berbahasa Sanskerta yang dikutip dari Purana-Itihasa. Melihat ulasan dalam bahasa Jawa Kuna, dapat dipastikan bahwa pengulas sangat mumpuni dalam bahasa Kawi dan kitab-kitab suci Veda, paling tidak kitab-kitab suci Purana dan Itihasa. Hanya saja, biasanya pada pengulas atau komentator akan memberikan penekanan ulasannya pada bagian yang secara pribadi ingin diberikan penekanan.

Pada sloka berbahasa Sanskerta di atas, penekanannya adalah pada kata satya (kejujuran), dengan mengambil contoh kemuliaan brahmana diantara manusia, matahari diantara sinar, dan kepala diantara anggota badan. Akan tetapi, pengulas dalam bahasa Jawa Kuna justru memberikan perhatiannya pada kata brahmana, dengan memberikan penjelasan akan sifat sangat penting yang merupakan keharusan dimiliki oleh seorang brahmana, yaitu brahmacarya (pengontrolan nafsu seks).

Orang yang bisa menjadi seorang brahmana dianggap sebagai orang yang sangat utama diantara manusia. Tentu saja brahmana dalam hal ini bukanlah brahmana karena kelahiran yang dinamakan brahma-bandhu melainkan brahmana yang karena kualifikasi ke-brahmana-an, karena sifat-sifat mulia yang harus dimiliki oleh seorang brahmana. Kitab-kitab suci Veda memberikan definisi apa dan siapa itu brahmana sebagai "brahman janati iti brahmanah", bahwa brahmana adalah dia yang mengetahui Tuhan. Brahmana bukan hanya sebuah sebutan atau istilah.

"Gelar" brahmana penuh makna dan biasanya hanya mereka yang sudah melakukan disiplin ketat pembelajaran Veda, vrata (berpantang), dan pertapaan khusus yang layak disebut sebagai brahmana. Menurut Manava Dharma Sastra 2.155, Brahmana dikenal karena keterpelajarannya di dalam kitab-kitab suci Veda, Bhagavadgita 18.42 menyebutkan sifat-sifat mulia yang harus dimiliki oleh seorang brahmana seperti sikap yang tenang, kemampuan mengendalikan diri, disiplin ketat dijalan spiritual, menjaga kesucian lahir-batin, suka memberi ampun, kesederhanaan lahir-batin, juga memiliki pengetahuan dan kebijak-sanaan serta keyakinan yang kuat terhadap Tuhan YME dan kitab suci Veda adalah sifat alami yang harus dimiliki serta melekat pada diri seorang brahmana.

Ulasan Jawa Kuna lebih memberikan penekanannya pada sifat brahmacarya dari seorang brahmana. Brahmacarya bagi seorang brahmana merupakan keharusan, dan ia adalah pertapaan bagi seorang brahmana. Terdapat berbagai jenis brahmacarya. Seorang brahmana sejati menjaga disiplin brahmacarya dengan sangat teguh. Banyak brahmana memilih sumpah Akhanda brahmacari yaitu menjalankan sumpah berpantang hubungan seks selama hidup. Sumpah disiplin brahmacarya yang teguh seperti itu menjadikan dirinya sebagai seorang Naisthiki Brahmacari, yang menjalankan sumpah brahmacaryanya dalam astakeli brahmacarya, yang bahkan berpantang melakukan hubungan atau pemuasan seksual bahkan dalam perkataan, atau bahkan dalam pikiran sekali pun (smaranam kirtanam kelih preksanam guhya-bhsanam samkalpo'dhyavasayasca kriya-nirvrttir evaca).

Maharesi Yajnavalkya dalam karyanya Yajnavalkya Smrti menegaskan seorang yang menjalankan sumpah brahmacarya hendaknya tidak melakukan hubungan seksual dalam segala keadaan, waktu, dan tempat melalui perbuatan, perkataan, dan pikiran (karmana manasa vaca sarvavasthasu sar-vada sarvatra maithuna-tyago brahmacaryam pracaksate). Melalui praktik brahmacarya seorang brahmana akan memperoleh usia panjang, kecemerlangan, kekuatan, keteguhan, pengetahuan, kesejahteraan, dan juga kemasyuran (ayus tejo balam viryam prajna sris ca yaaas tatha punyata sat-priyat-vam ca vardhate brahmacaryaya). Sedangkan komentator Jawa Kuna memberikan penegasan brahmacarya pada sukla-brahmacari (tidak kawin seumur hidup), sewala-brahmacari (kawin hanya sekali dalam hidup), dan krsna-brahmacari (kawin lebih dari sekali dengan batas empat kali kawin). Akan tetapi, pada umumnya krsna-brahmacari tidak diakui sebagai brahmacari.

Oleh: Dharmayasa l Koran Bali Post, Minggu Paing, 13 Maret 2016