Bisikan Cakra Wisudha

"Bahasa menunjukan bangsa". Peribahasa ini sering kita dengar sebagai sebuah ungkapan yang menyiratkan bahwa baik buruknya tabiat dan watak seseorang dapat dilihat dari tutur kata bahasanya. Orang yang bertutur kata baik, lemah lembut menandai orang berbudi luhur dan baik hati. Sedangkan orang suka berkata kasar, keras, sering berteriak dan menghardik menunjukkan perangai yang keras dan kasar.

Namun demikian, tutur kata bahasa seseorang dewasa ini tidak selalu menunjukkan watak dan sifat yang sesungguhnya. Tidak jarang kita jumpai, tutur kata yang baik, manis dan lemah lembut bertujuan mengelabui orang lain bahkan untuk melaksanakan niat jahatnya. Apa yang dikatakan dihadapan kita belum tentu begitu yang ada di dalam hatinya. Begitu pula, sangatlah mudah untuk memutar balikkan kata, sehingga ada ungkapan "lidah tak bertulang". Di dalam ajaran hindu, tutur kata merupakan salah satu hal penting. Perkataan adalah salah satu dari tiga unsur yang harus disucikan yang disebut Tri Kaya Parisudha yaitu: pikiran, perkataan dan perbuatan. Tri kaya Parisudha ini begitu simple yaitu sucikan pikiran, perkataan dan perbuatan (manah, wak, kayika) memang tidak simple dalam menjalankannya. Rasanya lebih mudah sembahyang tiap hari dibanding selalu konsisten menjalankan Tri Kaya Parisudha.

"Mereka yang memuji orang saat berhadapan lalu mencela di belakang, mereka ini adalah manusia berhati keji dan akan dijauhkan dari kebahagiaan dunia dan akherat" (Sarasamuscaya, sloka 125)

Banyak orang suka dipuji dan banyak pula yang suka memuji. Orang bisa mabuk oleh pujian karena memang terasa menyenangkan dan membahagiakan. Orang yang memuji namun tidak melakukan dengan tulus melainkan dengan maksud yang tersembunyi bahkan mencela saat dibelakangnya, maka orang tersebut tidak akan memeroleh kebahagiaan.

Sedangkan dalam sloka lain dalam Saracamuscaya disebutkan "Ada dua hal yang membuat orang menjadi terpuji, pertama tidak mengucapkan kata-kata kasar, tidak berpikir untuk melakukan perbuatan jahat" dengan demikian, tutur kata dan bahasa yang digunakan memang harus dijaga.

Bahasa lisan sangat erat kaitannya dengan organ bicara, yakni tenggorokan. Ucapan kita selalu bersentuhan dengan tenggorokan. Sebagaimana diketahui di tenggorokan bagian depan terletak cakra wisudha yang mengontrol kerja organ-organ: batang tenggorokan, kelenjar gondok, parathyroid, dan pita suara. Disebutkan bahwa bila cakra wisudha ini aktif maka orang tersebut memiliki kemampuan mendengar bisikan niskala. Tenggorokkan adalah letaknya "kesaktian rahasia". Kemampuan mengasahnya akan menjadikan waskita dan teledor menjaganya akan membawa petaka.

Kekawin Arjuna Wiwaha, memberi petuah dalam tentang hal ini. Raksasa Niwatakawaca dikisahkan sangat sakti membuat Dewa Indra takut, menghadapinya. Kesaktiannya sembunyi di tenggorokan, di pangkal lidahnya. Yakin akan kesaktiannya, yang tak terbunuh dewa maupun manusia, Niwatakawaca menantang para dewa. Indra mengutus Arjuna untuk menandinginya. Saat Niwatakawaca berteriak dengan mulut terbuka, saat itulah Arjuna membidikkan anak panah menghunjam pangkal lidah nya. Niwatakawaca terjerembab tewas. Tiada kata yang mampu terucap lagi dan seiring dengan itu seluruh kesaktian dan kehidupannya pun hilang sirna. Sekali lagi kemampuan mengasah Cakra Wisuda menjadikan waskita dan teledor menjaganya membawa petaka.

Source: Agung Suprastayasa l Wartam Edisi 8 l Oktober 2015