Bhuta Hita

Hari raya Nyepi menyisakan renungan tentang Bhuta Hita atau keharmonisan jagat raya. Bahwa sehari sebelum Nyepi umat Hindu melaksanakan Bhuta Yadnya, pengorbanan suci yang ditujukan kepada Bhuta. Konsep Hindu tentang Bhuta tertuang di dalam ajaran Hyang Siwa, seperti ajaran tentang Panca Maha Bhuta. Itulah sebabnya Bhuta Yadnya menjadi salah satu bagian dari Panca Maha Yadnya.

Berbicara tentang Bhuta sesungguhnya kita diajak berbicara tentang sesuatu yang kasat mata, bukan hanya hal-hal yang abstrak. Panca Maha Bhuta terdiri atas Pretiwi (Tanah), Apah (Air), Teja (Api), Bayu (Angin) dan Akasa (Ether). Kelima unsur besar ini dibangun oleh unsur yang sangat halus disebut Panca Tan Matra terdiri atas : Gandha (Bau), Rasa (Rasa), Sparsa (Cahaya, warna), Rupa (sentuhan), dan Sabda (Suara). Kelima unsur terakhir menjadi objek Panca Indriya manusia. Dengan demikian Bhuta menjadi begitu penting bagi kehidupan manusia.

Dalam keyakinan Hindu apabila disharmoni terjadi atas Bhuta, maka manusia akan terganggu hidupnya, dilanda penyakit, dimulai dari kerusakan alam, diikuti oleh berbagai hama yang menyerang tanaman dan penyakit yang menyerang binatang. Itulah sebabnya kita diajak untuk senantiasa menjaga keharmonisan unsur-unsur Panca Maha Bhuta tersebut dengan berbagai aktivitas upacara ataupun tindakan nyata.

Dalam siklus upacara misalnya dimulai dengan upacara sehari-hari yang disebut sebagai upacara Masaiban, sampai pada upacara-upacara besar yang dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu seperti Panca Bali Krama dan Eka Dasa Rudra. Bhuta Yadnya memang dilaksanakan pada tempat dan waktu terpilih, ketika matahari, bhumi dan bulan dalam posisi tertentu. Artinya jagat raya dilihat sebagai sesuatu yang sistimik dan integral.

Demikianlah Bhuta Yadnya dimaksudkan untuk mendapatkan Bhuta Hita, atau Jagat Hita, Sarwa Prani Hita, keharmonisan jagat raya, keharmonisan unsur-unsur yang membangun jagat raya. Dari sinilah kemudian lahir konsep Tri Hita Karana, konsep untuk menata ruang tempat manusia hidup dan mengembangkan kebudayaan dan peradabannya. Apa yang disebut sebagai Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan adalah panduan bagi manusia bagaimana ia harus bersikap agar ia mencapai kesejahteraan yang berkelanjutan.

Bhuta Yadnya tidak dapat dilepas dengan Dewa Yadnya, setelah Bhuta Yadnya maka menyusul pelaksanaan Dewa Yadnya. Dewa Yadnya adalah upacara yang membangun kesadaran bahwa manusia pada hakikatnya adalah: Putra Sang Dewa (Amretsyah Putrah), atau Putra Sang Maha Cahaya. Manusia pada hakekatnya adalah cahaya, bukan Bhuta. Namun manusia hidup berbadankan Bhuta. Dalam kontek inilah kita memahami mengapa lima belas hari setelah melaksanakan Bhuta Yadnya (pada Tilem Kasanga), diselenggarakanlah upacara Dewa Yadnya yang disebut Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih. Upacara ini dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Kedasa, ketika bulan sempurna di langit.

Bhuta Hita menjadi begitu penting sebagai landasan melaksanakan Dewa Yadnya. Dan Dewa Yadnya menjadi begitu penting bagi penumbuhan dan pemekaran kesadaran tentang hakekat manusia adalah "Cahaya Sang Pencipta".

Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 483 April 2007