Bhatari Batur

Begitu masyarakat menyebutnya, ketika memuja Sang Dewi yang di sthanakan di pura Batur. Bertepatan dengan purnama Waisaka (Kedasa) diadakan upacara Ngusaba Kedasa di pura Batur, sedangkan di pura Agung Besakih diadakan upacara Bhatara Turun Kabeh (juga disebut Ngusaba Kadasa). Ada pertalian erat antara Pura Batur dan Pura Agung Besakih.

Maka berduyun-duyunlah umat Hindu datang "ngaturang bhakti" ke tampat suci yang berada di kaki Gunung Agung, di tepi danau Batur (dahulu Pura Batur juga berada di kaki Gunung Batur dan tepi Danau dfetur). Usana Bali Lontar yang menguraikan mitologi kedua Pura ini menyuratkan bahwa di Batur bersthana seorang Dewi, sedangkan di Besakih bersthana seorang Dewa.

Dewi Danu atau Bhatari Batur, demikian disebutkan adalah Dewi penganugrah, pemberi kemakmuran dan kesejahtraan, tiada lain adalah Dewi Parwati, Sakti Dewa Siwa. Kesatuan keduanya disebut Ardhanariswari atau Dewa-Dewi, Dewa penganugrah bagi pemujanya.

Pemujaan pada Ardhanariswari pada Purnama Waisaka (Kadasa) menjadi sangat penting bagi umat Hindu. Di masa silam pemujaan seperti itu dilaksanakan juga dengan pelaksanaan Yoga, sehingga tepi Danau Batur (Wingkang Ranu) menjadi pasramaan para Yogi, termasuk para peminpin negeri.

Peninggalan sejarah berupa arca emas Siwa-Parwati yang disimpan di Pura Tulukbiu Batur adalah bukti betapa tempat ini mendapat tempat penting dalam peradaban Hindu di masa silam. Tempat ini disebutkan juga Kintamani (Cintamani), artinya permata pikiran. Para pemuja Ardhanareswari yang telah mendapat anugrah Cintamani dinyatakan sebagai orang yang terpenuhi segala kehendaknya: Sakaharepnya teka, Sakahyunnya dadi.

Bhatari Batur adalah Dewi penganugrah, adalah Sakti Siwa. Para pemimpin Bali di masa silam seperti Udayana Warmadewa (arca emas Siwa-Parwati tersebut diatas dibuat pada masa pemerintahan raja ini), sampai Dalem Baturenggong, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, termasuk raja-raja Badung, senantiasa melakukan pemujaan dan yoga semadhi di tempat suci ini. Di sini mereka memohon kerahayuan negeri, kerahayuan bagi seluruh rakyatnya.

Secara fisik gunung dan danau memang disebut sebagai "darimana kerahayuan itu datang" (sangkan Ikang hayun teka). Kerahayuan dapat berarti kesejahtraan, tetapi juga rasa bahagia dalam diri : maka para anggota Subak di Bali, mereka yang memanfaatkan air bagi pertanian, senantiasa mengingat sumber air ini. Mereka menghaturkan sarin tahun, juga berbagai bentuk upakara di pura ini.

Bhatari Batur adalah sakti Siwa, sumber energi yang memberikan vitalitas hidup atau amreta. Ada tanggung jawab besar para pemimpin untuk menjaga kelestarian dan kesucian linggih Ida Bhatari Batur bukan hanya Pura, tetapi juga Gunung dan Danau terbesar di Bali tersebut.

Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 521 Mei 2010