Berkaca Pada Penjor

"Aku akan menunggumu. "
"Sungguh?"
"Sungguh. "

Anjani berlalu melintasi lautan, bersemayam di dasar paling sunyi bersama jejak-jejak kerinduan. Sementara Toh Langkir, tetap berdiri dengan perkasa menantang langit menunggu waktu untuk menghapus jarak lalu merekatkan rindu kembali.

Mitos Toh Langkir sebagai penguasa gunung tertinggi di Bali sering didengar, begitu pula dengan cerita Anjani sebagai pemilik Rinjani. Toh Langkir maupun Anjani, keduanya adalah analog ayah dan ibu. Sebab, ibu menjadi dasar pemujaan sementara ayah menjadi tujuan pemujaan. Dasar dan tujuan tidaklah dapat dipisahkan keduanya merupakan dualisme yang tidak dapat berdiri sendiri.

Di Bali, lazim diketahui Toh Langkir dipuja dalam bentuk penjor, umumnya penjor Galungan. Penjor di mana pun dia berada idealnya terbuat dari bambu, dengan lilitan daun aren muda, hiasan daun kepala, beserta hasil bumi lainnya. Konon penjor adalah bentuk rasa syukur kepada pencipta semesta. Rasa syukur yang diungkapkan dengan cara paling sederhana berdasarkan keikhlasan diri bukan atas gengsi apalagi iri pada penjor tetangga yang selalu tampak lebih indah. Belakangan, kesadaran untuk membuat penjor dengan sederhana perlahan makin luntur. Penjor dibuat sedemikian "wow" dengan segala perlengkapannya hingga menghabiskan jutaan rupiah untuk sebuah penjor. Semuanya demi gengsi, semuanya demi dilihat paling indah, semuanya demi menunjukkan diri. Apakah begini Hindu Bali sekarang? Beragama untuk sebuah pertunjukan.

Manusia Bali mencip-takan jarak yang semakin jauh antara Toh Langkir dengan Anjani. Memisahkan ayah dan ibu terlalu lama tidaklah baik, sebab tidak akan terjadi siklus kehidupan. Anjani sebagai dasar pemujaan tidaklah penuh cinta melainkan berganti dengan gengsi. Toh Langkir sebagai tujuan pemujaan juga berubah menjadi pertunjukan. Cinta Anjani Toh Langkir kian menjauh dan berjarak akibat ulah "kita" si anak durhaka yang memisahkan mereka. Bahkan di hati kita pun cinta pada mereka semakin memudar, seiring pemujaan palsu secara massal yang kita lakukan.

Toh Langkir mengajarkan arti penantian, keteguhan, kesederhanaan, dan kesetiaan. Seorang pemuja pada hakikatnya terus menerus memuja dengan cinta dan kesederhanaan. Cinta yang mendorong pertemuan. Jalur pendakian pemujaan dengan cinta akan mengantarkan ke puncak kekosongan. Itulah penyatuan.

Source: Made Ari Dwijayanthi l Wartam Edisi 5/Juli/2015