Bergembira di Dalam Diri Melalui Kesadaran Gambhira

kascid gambhira-manasam
satatam visadakale
pramoda-samaye ca
samo’nubhavah
(Rajatarangini 8.26.66)

“Keadaan kesadaran orang- orang bijaksana yang teguh bersungguh-sungguh, selalu sama, apakah dalam keadaan duka atau pun dalam keadaan suka”

Pikiran dan kesadaran orang kebanyakan bagaikan periuk yang berisi air setengah, atau keadaan nasi yang baru setengah matang dalam periuk nasi. Kedua contoh menunjukkan keadaan air dan nasi setengah matang yang selalu tidak bisa tenang dan setiap saat membuat periuk menjadi berguncang keras. Kesadaran dan pikiran orang-orang biasa selalu mudah diombang-ambingkan oleh keadaan yang menyentuhnya. Jika keadaan senang yang menyentuhnya maka ia akan melonjak bersukaria, jika keadaan duka menyentuhnya maka ia akan meldnjak pula, tetapi di dalam kedukaan. Lonjakan suka dan duka akan sangat kentara pada diri orang-orang yang tidak menempatkan kesadarannya di dalam kesadaran gambhira. Pemeliharaan keadaan kesadaran sangatlah penting dalam ajaran Hindu Dharma. Penting karena dengan kesadaran dan pikiran yang tidak tenang atau kacau balau maka orang tidak akan dapat melaksanakan tugas Dharma yang mana pun dengan baik. Keadaan pikiran yang kacau balau menye- babkan orang bisa merusak segala tugas pekerjaan seringan apa pun. Bahkan orang bisa memporak- porandakan hal-hal yang sudah tegak baik. Memelihara kesadaran gambhira sangatlah penting.

Pustaka Rajatarangini mengajarkan bagaimana orang bisa “berselancar di dalam luapan ombak yang besar”. Mereka bukan dihancurkan oleh ombak yang tinggi dan besar melainkan mereka bisa menarinari indah dengan gerakan lincah meliak-liuk manis bermain-main di atas ombak ganas. Kesadaran gambhira akan mengantarkan keberhasilan dalam segala hal.

Gambhira menurut kamus Sanskerta adalah kesadaran yang dalam dan sungguh-sungguh. Bukan berarti kesadaran dalam bersungguh-sungguh yang “mati” seperti es beku, melainkan bersungguh-sungguh dalam keadaan riang dan bahagia. Kamus Jawa Kuna (P.J. Zoetmulden memberikan arti gambhira sebagai bersuara dalam, sungguh-sungguh, serius dan khidmat. Khususnya lelaki biasanya didefinisikan sebagai seorang lelaki jika ia memiliki tri gambhira, yaitu yang pusarnya dalam, suaranya berat berwibawa, dan kepribadian serta kesadaran yang ajeg dan bersungguh-sungguh. Itulah seorang lelaki, dan itulah definisi seorang lelaki dalam ajaran Hindu Dharma. Laki-laki dalam ajaran Hindu Dharma tidak akan melewatkan jalan hidupnya di dalam hal-hal ringan meruntuhkan hidupnya seperti mabuk-mabukan dan bermalas-malas. Ia akan membawa dan mengarahkan hidupnya dengan disiplin yang bersungguh-sungguh demi keberhasilan sejahtera dunia dan bahagia setelah meninggal, sesuai tujuan ajaran Hindu Dharma yaitu jagadhita, hidup damai sejahtera di dunia dan setelah meninggal mencapai pembebasan dari kesengsaraan duniawi atau moksa.

Menurut pustaka Bhakti Rasamrita Sindhu, ketika orang mencapai kesadaran bhakti yang mendalam gambhira di dalam hati, karena ia tidak terekspresikan keluar melalui ekspresi wajah, maka orang-orang biasa tidak akan mudah dapat mengenalinya (na laksyante sphutam janaih). Dengan demikian, gambhira berarti kesadaran bhakti spiritual yang mendalam secara alami, dialami di kedalaman hati, ia tidak terekspresikan ke luar, karena arah aliran bhaktinya mengarah ke dalam, kepada junjungan dari sadhana-bhakti-nya, yaitu Ida Hyang Parama Kawi sehingga orang-orang duniawi tidak mampu mengenalinya, bahkan dapat mengartikannya para Yogi dan Sadhaka tersebut orangnya sombong dan tidak ramah.

Pustaka-pustaka Veda yang memuat tentang ajaran bhakti yang tingkat tinggi, menyebutkan bahwa ketika Tuhan hendak memberikan karunia-Nya yang lebih khusus dan manis maka akan disampaikan oleh-Nya dalam kerahasiaan yang maha rahasia.

Selain itu, gambhira juga dipergunakan untuk menunjukkan sifat maha mulia Tuhan yang tiada sebabnya, yang bahkan tetap menerima abdi-Nya yang sudah mengabaikan dan menghina-Nya. Kedalaman sifat maha mulia Tu-han diumpamakan dengan mempergunakan kata gambhira sangat dalam bagaikan dalamnya lautan yang tidak terukur (vicitra gambhira mahimabdhir madisvarah).

Gambhira adalah kesadaran spiritual dalam disiplin sungguh-sungguh karena ia merupakan anubhava atau pengalaman spiritual di dalam diri, yang sering disebabkan kedalaman pengalaman spiritual tersebut, bahkan yang bersangkutan pun tidak mampu mengenali atau menelaahnya. Sang Sadhaka pun kehilangan kata dan kalimat untuk menerjemahkan apa, siapa, bagaimana, kemana, dan dirinya sedang berada di mana. Demikian pengaruh kesadaran gambhira ketika orang sudah diizinkan memasuki dan menyelam di dalam lautan amrta-sindhu.

Para Sadhaka dalam level kesadaran gambhira memiliki kesadaran yang ajeg mantap secara spiritual sehingga ia tidak membedakan lagi antara suka dan duka, panas dan dingin, hinaan atau pun pujian (sitosna-sukha-duhkhesu tatha manapamanayoh). Ia tidak akan terbawa oleh “guncangan” loncatan serta lompatan kesadaran dan pikiran akibat dari sentuhan-sentuhan objek-objek duniawi. Ia akan mampu menempatkan kesadaran yang tenang damai, masuk dalam yoga persamaan (samatvam yoga ucyate). Di sana ia akan mengalami suka dan duka itu sama (sukha-duhkhe same krtva) atau pun untung rugi, menang dan kalah, sukses atau gagal, kesadarannya akan tetap sama dalam kedamaian yang baik (labhalabhau jayajayau). Itulah kesadaran gambhira yang dapat dimasuki oleh mereka yang bersungguh-sungguh dalam praktik spiritualnya.

Sang Sadhaka akan memasuki keadaan riang spiritual (modita-rasa) dimana hubungan spiritual sangat intim dengan Tuhan mulai tercipta. Ia menjadi gambhira atau sungguh-sungguh, serius, mantap ajeg tidak tergoyahkan, tetapi di saat yang sama ia mengalami keriangan serta kebahagiaan yang tiada batas. Di sanalah Sang Sadhaka memasuki yoga yang maha utama, menyelam di dalam kebahagiaan spiritual tanpa gangguan suka maupun duka, melihat Tuhan di dalam semua dan semua di dalam Tuhan, semua dilihatnya sama, maka di sanalah ia memasuki kesadaran suci sebagai seorang yogi utama (samam pasyati sukKam va yadi va duhkham sa yogi paramah).

Keberadaan Sang Yogi Utama menjadi terbalik 180 derajat dengan keberadaan orang-orang duniawi. Pada zaman dahulu, walaupun orang tidak mampu menerima atau berada di dalam kesadaran mulia dan mendalam spiritual seperti itu, tetapi orang-orang biasa masih tetap menjaga rasa hormat bhakti kepada orang-orang suci. Mereka tidak berani “menyentuh” atau menghujat orang-orang suci karena memahami dirinya belum mempunyai “kamus” untuk menerjemahkan kegiatan dan keberadaan orang-orang suci.

Indria-indria dan kecerdasan duniawi sama sekali tidak mampu menyentuh “alam” di mana orang-orang suci berada atau melakukan kegiatannya. Orang-orang biasa gagal memahami bagaimana Maharesi Visvamitra yang mempunyai kesaktian luar biasa namun ternyata membiarkan para pendeta dibunuhi dan dimakan oleh para raksasa di hutan, membiarkan para raksasa mengobrak-abrik upacara-upacara yang dilakukan oleh para brahmana, seolah-olah beliau tidak mampu melakukan apa pun? Semua menjadi tanda tanya bagi orang-orang kebanyakan, khususnya orang-orang pada zaman Kali (yuga) ini. Setelah melihat bagaimana beliau menurunkan segala kesaktiannya kepada Rama, lalu Rama yang membasmi raksasa-raksasa sakti tersebut, barulah orang-orang dapat memahami bahwa Visvamitra memang seorang Maharesi yang sakti luar biasa.

Orang suci yang berada di tengah-tengah dalamnya lautan karunia spiritual, mereka memiliki kesadaran gambhira yang mantap. Kata gambhira inilah yang “menjelma” menjadi kata gembira dalam bahasa Indonesia. Hanya saja pesan gembira dalam bahasa Indonesia hanya membawakan kesenangan duniawi, terutama jika mendapatkan undian, gaji naik, dibelikan baju baru pada hari ulang tahun, dan lain-lain kesenangan akibat sentuhan indria duniawi dengan objek-objek indria.

Gembira dalam gambhira merupakan kesadaran sangat rahasia dan mendalam spiritual. Ia terlepas dari sentuhan suka dan duka, selalu riang dan bahagia melalui sentuhan indria-indria spiritual dengan objek-objeknya yang didapatkan dalam samadhi. Keriangan dan kebahagiaan spiritual tersebut semakin meningkat terus membawa serta menuntun Sang Sadhaka kepada tujuan hidup sejati, memasuki alam samadhi yang maha dalam dan rahasia.

Gambhira merupakan keadaan kesadaran yang sangat didambakan oleh para Sadhaka spiritual. Orang-orang suci berusaha mencapainya melalui usaha bersungguh- sungguh dalam tuntunan Guru Suci dan Sastra Suci.

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Wage, 12 Agustus 2018