Berbagai Cara untuk Mendekatkan Diri Kepada Tuhan

Sejak zaman dahulu banyak orang telah berusaha mencapai Tuhan dengan mempraktekkan empat jenis ibadat sebagaimana telah ditentukan oleh kebudyaan leluhur (Hindu): (1) Satyavati Aaraadhana, (2) Anggavati Aaraadhana, (3) Anyavati Aaraadhana, (4) Nidanavati Aaraadhana. Berikut penjelasannya.

Satyavati Aaraadhana
Dalam jenis pemujaan ini penyembah yang menyembah Tuhan memiliki keyakinan bahwa Beliau ada dalam setiap partikel alam semesta sebagaimana mentega ada dalam setiap tetes susu.Seperti minyak dalam biji wijen dan seperti api di dalam kayu, Tuhan (kesadaran semesta) meliputi segenap ciptaan. Penyembah melakukan ibadat kepada Tuhan dengan menyadari bahwa Tuhan meliputi seluruh alam semesta dan percaya bahwa dunia ini merupakan akibat sedangkan Tuhan adalah penyebabnya.

Anggavati Aaraadhana
Merupakan jalan spiritual lain yang mendalam. Mereka yang mengikuti jalan spiritual ini menganggap setiap unsur alam (eter,udara,tanah, api, dan air) sebagai perwujudan Tuhan, dan memuja mereka. Kelima elemen ini memainkan peran dalam badan manusia sebagai kemampuan mendengar (shabda), kemampuan merasakan sentuhan (sparsha), kemampuan melihat (rupa), kemampuan mengecap (rasa), dan kemampuan membaui (gandha). Bahkan kini pun orang-orang memuja air sebagai Ibu Gangga (Gangga Mata), udara sebagai Dewa Vayu, dan hujan sebagai Dewa Varuna. Dengan demikian, dari zaman dahulu para putra leluhur (Hindu) telah memuja kelima unsur alam sesuai dengan kebudayaan mereka masing-masing. Inilah Anggavati Aaraadhana.

Anyavati Aaraadhana
Orang yang mengikuti jalan spiritual ini menganggap Tuhan mempunyai berbagai nama dan wujud dengan sifat atau per-lengkapan tertentu seperti misalnya "Kodandapanf 'yang me-nyandang busur Kodanda,dan Ganggadhari 'yang mengenakan Sungai Gangga di kempalan rambut-Nya' untuk menunjukkan Ishwara (Shiwa).

Demikian pula Wishnu adalah Beliau yang memegang cakra, sangka, gada, dan padma (bunga teratai) di keempat tangan-Nya. Krishna adalah Beliau yang mengenakan sehelai bulu merak di kepala-Nya dan memainkan sending suci. Demikian pula Dewi Saraswati dilukiskan sebagai memegang alat musik vina. Dengan cara ini para leluhur kita memuja Tuhan dengan menghubungkan (aspek-aspek-Nya) dengan berbagai simbol. Mereka memuja Tuhan dengan mempertalikan-Nya dengan nama serta wujud tertentu. Kita hanya dapat menghayati Tuhan bila menyadari kesatuan antara nama dan wujud.

Ada sekotak korek api. Kekuatan yang sama ada dalam kotak korek api dan juga dalam batang-batang koreknya.Yang satu melambangkan wujud dan satunya melambangkan nama. Sebagaimana api timbul bila sebatang korek digoreskan di kotaknya, demikian pula api kebijaksanaan (Jnanagni) timbul bila nama dan wujud Tuhan bergabung. Kekuatan Tuhan yang sama ada dalam nama-nama-Nya maupun dalam wujud-Nya. Nama Tuhan menujukkan wujud-Nya dan wujud-Nya mengingatkan kita pada nama-Nya. Prinsip kemanunggalan dan ketuhanan yang sama ada dalam nama dan wujud Tuhan. Bila nama dan wujud Tuhan bergabung (seperti mengulang-ulanh nama Tuhan sambil merenungkan wujud-Nya) prinsip ketuhanan akan timbul di situ. Para putra leluhur telah mengikuti prinsip ini sejak zaman Weda dan mereka memperoleh penghayatan Tuhan. Mereka percaya penuh pada kesatuan antara nama dan wujud. Mereka percaya bahwa di dunia ini tidak ada objek atau nama yang tidak bersifat Tuhan.

Misalnya nama Tuhan. Dari mana asal nama Tuhan ini? Jika Tuhan tidak ada, bagaimana nama Tuhan bisa ada? Meskipun demikian, mungkin ada orang-orang yang membantah hal ini. Kata "Gagana Pushpam" 'bunga di angkasa'. Adakah bunga di angkasa? Jika Gagana Pushpam tidak ada, bagaimana ada kata seperti itu? Gagana Pushpam itu bukan satu kata, me-lainkan kombinasi dua kata: gagana 'angkasa' dan pushpam 'bunga'. Sedangkan "Tuhan" adalah satu kata. Tanpa adanya Tuhan, dunia ini tidak akan ada. Oleh karena itu, sejak zaman dahuilu orang-orang percaya bahwa ada hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara nama dan wujud. Tidak ada yang dapat menyangkal kebenaran ini.

Nidanavati Aaraadhana
Adalah ibadat jenis keempat.Orang-orang yang melakukan latihan rohani ini mengikuti kesembilan jalan bakti, sebagai berikut. (1) Shravanam: mendengarkan (wacana mengenai kitab-kitab suci,Sang Avatar,dan sebagainya); (2) Kiitanam: menyanyikan nama Tuhan; (3) Vishnusmaranam: merenungkan nama Tuhan; (4) Paadaseevaanam: memuja kaki suci-Nya; (5) Vandanam: bersembah sujud kepada Tuhan; (6) Archanam; melakukan ritual pemujaan; (7) Daasyam: mengabdi Tuhan; (8) Sneeham: bersahabat dengan Tuhan; (9) Aatmaniveedanam: pasrah diri pada Tuhan.

Dengan mengikuti kesembilan jalan bakti ini orang-orang merenungkan Tuhan dan mencapai tujuan hidup. Kita dapat mencapai tujuan hidup dengan kekuatan ibadat. Jangan sampai kita melupakan tujuan hidup ini atau menyimpang dari jalan spiritual yang telah dipilih; kita harus mencapainya dengan bakti yang terpusat.

Para peminat kehidupan spiritual masa itu mencapai Tuhan dengan mengikuti jalan spiritual yang ditetapkan Weda. Karena pengaruh waktu, tempat, dan keadaan, kaum muda modern mengabaikan latihan atau pelaksanaan-pelaksanaan suci ini. Apa arti pernyataan Weda, "Ishvarah sarva bhutanam " 'Tuhan bersemayam dalam segala makhluk'. Sebagaimana Weda menjelaskan bahwa kebenaran bahwa Tuhan ada dalam segenap ciptaan, Sains menyatakan bahwa segenap ciptaan ini terbuat dari kumpulan atom. Tiada apa pun yang tidak terbuat dari atom. Kekuatan atom ada dalam bukit sarang semut, bebatuan, tanah, pepohonan, dan sebagainya. Bila ilmuwan berdebat bahwa kekuatan atom ada dalam segala sesuatu, itu berarti Tuhan ada dalam segenap ciptaan.

Kini para ilmuwan modern menyatakan dengan bangga bahwa mereka telah mencapai kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi dan sains. Mereka berkata bahwa segala sesuatu di dunia ini didasarkan pada sains.Tetapi jangan lupa bahwa seiring dengan sains (vijnanam), ketidaktahuan juga meningkat.Yang satu mengikuti yang lain, tepat seperti bayangan mengikuti kenyataan. Apakah sains itu? Ketidaktahuan yang berkaitan dengan sains tidak ada dalam hal apa pun lainnya. Kita tidak dapat memupuk iman kepada Tuhan, jika kita tidak memahami kontradiksi ini.

Oleh: A.A. Gede Raka
Source: Majalah Raditya, Edisi 230, September 2016