Beragama Kekinian

Agama adalah institusi illahi, di mana kesadaran tertinggi setiap insani memuncak pada keyakinan kuasa Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa. Beragama sama dengan berobsesi mencapai Tuhan, sebagai reahtas tertinggi yang mewajibkan umat-Nya mengejawantahkan ajaran Tuhan ke dalam reahtas membumi yang bersifat manusiawi.

Beragama adalah hak asasi manusia sebagai anugrah Tuhan kepada setiap insani. Sebagaimana lazimnya setiap hak selalu membawa konsekuensi pada kewajiban. Kewajiban beragama adalah kewajiban menjalankan ajaran Tuhan.

Sejatinya agama berisi teori, bahkan metode atau cara berpikir tentang apa itu (ajaran) agama, mengapa kita wajib meyakininya dan bagaimana melaksanakannya. Hanya saja, jika menyangkut apa itu agama dan mengapa kita meyakininya lebih banyak berada di tataran idealitas transendental yang hanya bisa dipahami lewat jnana tattwa. Tetapi untuk urusan bagaimana melaksanakan ajaran agama, terutama dalam konteks kekinian, itu adalah persoalan reahtas sosial.

Oleh karena itu, beragama kekinian adalah bagaimana umat berkemampuan mentransformasi rumus ajaran agama menjadi kamus pegangan keseharian. Teori ajaran agama yang bersifat hafalan menjadi praktik amalan, metode pembelajaran dan pendalaman menjadi mode pengamalan, dan doktrin agama yang bersifat esoteris menjelma menjadi cara praktis berkehidupan, dengan tetap berdasar landasan teologis, tatanan filosofis, dan tuntunan etis, baik dari dimensi spiritualis maupun berorientasi humanis.

Hakikat ajaran agama adalah perintah Tuhan yang wajib dijalankan. Tuhan itu sendiri ada di mana-mana, dan ketika kita melihat Tuhan berada pada segala yang ada, maka semestinya kita tidak melepaskan diri dari ajaran Tuhan. Karena dengan begitu Tuhan pun tidak akan membiarkan kita terbelit dari berbagai persoalan kehidupan. Penegasan ini tersurat di dalam kitab Bhagawadgita, VI.30: Yo mani pasyati sarwatra, Sarwam ca mayipasyati, Tasyaliam riapra-nasyámi, Sa ca me na pranasyati : Dia yang melihat Aku dimana-mana dan melihat segalanya ada pada-Ku, Aku tidak bisa lepas dari padanya dan dia tidak bisa lepas dari pada-Ku.

Jika demikian adanya, beragama kekinian adalah tidak melepaskan Tuhan dengan segala ajarannya agar menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan. Konsekuensinya, ketika kita meyakini dimana-mana ada Tuhan, maka di-manapun kita berada hendaknya selalu men-jalankan ajaran Tuhan. Sesungguhnya beragama itu adalah mempertanggungjawabkan perintah/ ajaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengacu arti kata "Agama" yang berarti "tidak pergi" (a = tidak, gam = pergi), menyiratkan makna bahwa agama dengan ajaran Tuhannya tidak boleh pergi, tetapi selalu dekat, ada dalam diri, di hati, yang kemudian terimplementasi ke dalam perilaku sehari-hari. Tanggung jawab umat beragama adalah menerjemahkan bahasa kitab suci yang bersifat rahasia menjadi umum dilaksanakan, tidak terhenti pada batasan doktrin, tetapi dengan rajin dan rutin menjadi bagian dari disiplin hidup.

Bagaimanapun juga, agama tidak semata-mata menyangkut realitas absolut tetapi juga berkaitan dengan reahtas relatif, dimana manusia selaku umat-Nya mendapat "kuasa" melalui tanggungjawabnya atas apa dan bagaimana kehidupannya diberlangsungkan. Keberlangsungan hidup yang tentunya menjamin terjalinnya hubungan religis antara umat dengan Tuhan lewat aktivitas bhakti (sembah sujud), hubungan sinergis antara manusia dengan sesama melalui rasa tresna (cinta kasih), dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam lewat sikap ehng (sadar lingkungan).

Intinya, beragama kekinian adalah menjadikan reahtas absolut kuasa Tuhan lewat perintah/ ajarannya ke dalam reahtas hidup, dan itu adalah kuasa manusia untuk memenuhi tanggungjawabnya untuk: 1) dalam konteks bhakti kepada Tuhan, memenuhi kewajiban ritual yang diharapkan memuncak pada pencapaian kesadaran spiritual; 2) dalam kehidupan sosial, wajib mematuhi tuntunan untuk selalu hidup beretika, dan bermoral; 3) dalam kaitan lingkungan, wajib merawat, menjaga, dan melstarikan alam beserta segala sumber daya hayatinya. Inilah tanggungjawab manusia yang sekaligus merupakan hutang (rna) kepada Tuhan yang wajib dibayar (di-tawur), tidak saja lewat dominasi aktivitas ritual, tetapi lebih penting lagi melalui aksi-aksi sosial, perbaikan mental, peningkatan akhlak bermoral dan pencapaian kesadaran spiritual.

Oleh : I Gusti Ketut Widana

Source : Koran Bali Post, Minggu Wage 20 Maret 2016