Beragam Cara Jadi Saudagar

Beragama itu bukanlah hanya memuja Tuhan dengan upacara-upacara keagamaan semata. Hakikat upacara agama sesungguhnya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran manusia akan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Dari kesadaran diri itu manusia dapat berbuat baik secara nyata pada sesama dan alam lingkungannya. Salah satu ciri manusia sebagai ciptaan Tuhan yang lebih sempurna dari makhluk lainnya adalah ia bisa bekerja sama dengan sesamanya untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Kata upacara dalam pengertian agama Hindu berarti mendekatkan. Melalui upacara keagamaan Hindu itu umat mendekatkan diri pada Tuhan dengan bakti, kepada sesamanya dengan punia dan kepada alam lingkungan dengan asih. Upacara agama Hindu itu berdimensi sekala niskala. Upacara yadnya itu baru wujud mendekatkan diri secara niskala.

Mendekatkan diri dengan niskala itu seharusnya dilanjutkan dengan pendekatan diri dengan cara sekala. Dengan menjadi saudagar sebagai salah satu wujud mendekatkan diri pada sesama dengan cara sekala. Dengan menjadi saudagar manusia membangun kerja sama yang saling menguntungkan.

Kerja sama dengan sesama manusia itu sebagai wadah untuk meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai indikasi ia hidup makin berkualitas. Kerja sama yang paling intensif itu adalah kerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi secara adil dan membangun hidup yang aman dan damai.

Keberhasilan kerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi ini akan menjadi dasar untuk membangun aspek hidup yang lainnya di dunia ini. Misalnya meningkatkan dinamika kehidupan berkebudayaan. Memajukan kebudayaaan membutuhkan dasar ekonomi yang kuat. Ekonomi yang kuat itu adalah ekonomi yang dibangun berdasarkan teori ekonomi yang normatif, wajar dan benar dengan landasan moral yang luhur.

Kalau bisnis dipisahkan dengan pengamalan agama maka bisnis itu akan menjadi garang hanya mengejar keuntungan saja bahkan sampai dapat merusak nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu hendaknya dikembangkan suatu paradigma bahwa berbisnis itu sebagai media beragama. Karena lewat bisnis kita bisa menolong banyak orang.

Menolong sesama itu diajarkan oleh semua agama. Lewat bisnis yang benar kita dapat menolong orang lain lebih nyata. Pertolongan itu adalah pertolongan yang terhormat. Bukan seperti memberikan uang recehan seorang pengemis di jalanan. Apa lagi sekarang orang akan lebih menghargai perbuatan nyata dari sekadar memberikan nasihat. Lewat bisnis kita dapat menampung berbagai bahan baku dari masyarakat.

Dengan demikian, bisnis itu sebagai media membuka pasar untuk menyalurkan produk masyarakat. Bisnis yang benar dapat memberikan lapangan kerja kepada banyak pihak. Seperti petani, peternak, pelaut, perajin, penambang.

Demikian juga bisnis dapat menampung orang-orang yang memiliki keterampilan dan keahlian. Apa lagi kalau bisnis itu menggunakan uang bank sebagai penguat modalnya. Ini artinya kita juga menggunakan uang rakyat yang nabung di bank bersangkutan. Bisnis yang menggunakan uang bank juga banyak dapat menolong orang lain. Masyarakat yang menabungkan uangnya di bank tersebut mendapatkan bunga. Bank yang mengelola simpanan masyarakat juga mendapatkan untung. Dari keuntungan tersebut bank dapat menampung tenaga kerja yang juga berasal dari masyarakat. Kalau kita betul-betul melakukan bisnis yang baik dan benar hal itu sesungguhnya media untuk melakukan ajaran agama.

Agama mengajarkan agar tiap orang saling memperlakukan sesamanya dengan penuh kasih sayang. Lewat bisnis itu dapat berinteraksi sesama manusia untuk mengembangkan kasih sayang saling melayani kehidupan bersama. Bisnis itu akan langgeng apa bila dalam berbisnis itu tidak saling menghancurkan. Bisnis itu justru harus diupayakan untuk saling memelihara dengan sistem sinergi. Bisnis juga harus saling mempercayai dan memelihara kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya.

Kalau konsep dan etika bisnis itu benar-benar dijalankan maka bisnis itu sesungguhnya wadah pengabdian pada sesama yang lebih nyata. Lewat bisnis yang benar itulah perputaran saling mengabdi dapat dilakukan. Hidup untuk saling mengabdi adalah hal yang diajarkan oleh agama mana pun. Lewat bisnis yang normative dapat menguatkan daya beli rakyat. Dengan makin kuatnya daya beli rakyat perputaran ekonomi pun akan makin sehat, sepanjang hal itu dijaga dengan norma-norma etika ekonomi yang berlaku.

Jadinya hakikat bisnis itu sesungguhnya memberikan banyak peluang untuk mengamalkan berbagai ajaran agama. Karena bisnis dipisahkan bahkan dibuat berdikotomi dengan agama maka seringlah terjadi malapetaka dalam kehidupan berbisnis.

Citra bisnis pun menjadi tercoreng. Saling percaya mempercayai pun menjadi makin rapuh dalam kehidupan bisnis. Kalau bisnis itu diyakini sebagai media untuk mengamalkan agama, maka pebisnis itu tidak akan merasa bahwa bisnis itu miliknya. Usaha bisnis itu adalah titipan Tuhan yang harus dirawat sebagai media memberikan pekerjaan dan kesejahteraan kepada sesama umat yang memiliki akses dalam usaha bisnis tersebut.

Apakah itu pemodalnya, manajemennya, karyawanya tidak akan merasa bahwa usaha bisnis itu miliknya. Itu adalah milik Tuhan yang harus dirawat bersama-sama untuk mengembangkan kesejahteraan sampai anak cucu kita seterusnya. Dalam Manawa Dharmasastra ada dinyatakan betapa pun meriah dan mahalnya suatu upacara keagamaan, kalau ada orang yang kelaparan di sekitarnya maka upacara yadnya itu tidak ada nilainya sama sekali secara spiritual maupun fisik material.

Karena itu dalam tradisi Hindu di Bali tiap ada upacara keagamaan Hindu pada umumnya ada yang disebut ngejot nasi lengkap dengan lauk pauknya pada sesama terutama yang ada di sekitar Upacara Yadnya tersebut. Hal ini dalam tradisi Hindu di India disebut Anna Seva. Ini maksudnya agar jangan ada pihak yang sampai kelaparan di sekitar upacara yadnya yang sedang dilangsungkan.

Ngejot atau Anna Seva itu tentunya sebagai simbol yang mengandung kekuatan magis religius untuk mendorong umat agar peduli pada sesama. Hal itu berdimensi niskala. Selanjutnya dapat diwujudkan dengan sekala dalam wujud membangun bisnis atau menjadi saudagar. Tujuan menjadi saudagar bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri agar hidup enak.

Menjadi saudagar adalah sebagai media untuk mengabdi pada sesama. Suba Sita Weda menyatakan Para Upakara Punyaya. Para pidana papaya artinya siapa yang senantiasa melayani hidup orang lain, ia akan mendapatkan punia artinya pemberian yang terhormat dan membahagiakan. Mereka yang menyakiti orang lain akan hidupnya selalu papa neraka.

Source: I Ketut Wiana l Weda Wakya Edisi 2