Bentuk Yadnya Bukan Hanya Ritual

Secara terminologi kata yadnya berasal dari urat kata "yaj" yang berarti kurban suci atau persembahan. Dalam konteks Tri Kerangka Agama Hindu, istilah yadnya sering dipersamakan dengan upacara, sehingga menjadi upacara yadnya, dengan materi pokok berupa upakara (bebantenan) sebagai sarana persembahan yang biasanya disertai juga dengan acara persembahyangan.

Harus jujur diakui bahwa sebagian besar umat Hindu dalam melaksanakan Tri Kerangka Agama Hindu cenderung ke aspek upacara daripada ke arah Tatwa. Hal ini bisa disadari bahwa aspek upacara adalah hal yang paling mudah dilakukan oleh umat Hindu. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah penyebaran Hindu di Bali yang dilakukan oleh para maharesi pada zaman dahulu, seperti Resi Markandeya, Mpu Kuturan, dan juga Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwi Jendra.

Karena pada saat kedatangan para rsi tersebut kondisi umat Hindu secara intelektual sangat rendah, maka tidak mungkin para rsi tersebut menanamkan aspek Tatwa kepada umat Hindu pada waktu itu. Maka kemudian para rsi pada waktu itu mencari jalan yang mudah untuk menanamkan konsep Hindu terhadap masyarakat Bali waktu itu, maka cara ritual yang dilakukan. Misalnya, bagaimana membuat ceper, tamas, porosan, pejati, dan lain-lain yang semuanya itu mudah untuk dipelajari.

Seiring berjalannya waktu, kini kondisi umat Hindu berbeda dengan keadaan waktu masih di zaman para rsi dan mpu menyosialisasikan Hindu di Bali. Kini umat Hindu secara intelektualitas sudah jauh berkembang lebih maju. Oleh karena itu sudah tidak pada tempatnya lagi kalau umat Hindu lebih menekankan aktivitasnya pada kegiatan ritual saja. Apalagi kita hidup di zaman Kali Yuga, di mana nilai-nilai hidup dan kehidupan sudah banyak bergeser ke arah yang lebih rendah. Sudah saatnya kita lebih mentikberatkan pada aspek Tatwa (filsafat agama). Sebenarnya makna yadnya yang hakiki tidak terbatas hanya dalam bentuk persembahan (ritual) semata. Ada beberapa makna lainnya yang amat jarang dipahami apalagi dilaksanakan, yaitu:

(I) yadnya dalam arti pengorbanan, dalam bentuk selain ritual misalnya pengorbanan harta benda (materi) untuk membangun ashram, membangun Panti Asuhan. Sungguh ironis Pulau Bali yang mayoritas berpenduduk Hindu jumlah Panti Asuhan yang ada secara kuantitas kalah banyak dibandingkan Panti Asuhan dari agama lain, misalnya Panti Asuhan Islam atau Kristen. Harus diakui bahwa umat Hindu khususnya di Bali lebih mengutamakan hubungan vertikal daripada hubungan horizontal atau mudahnya lebih menekankan hubungan manusia dengan Tuhan daripada sesama manusia. Implementasi Panca Yadnya lebih banyak berbentuk ritual daripada yang berbentuk nonritual.

Kini yang perlu dikembangkan adalah bagaimana aspek-aspek dalam ajaran Tri Hita Karana tersebut menjadi seimbang. Karena kurangnya perhatian terhadap hubungan horizontal ini menyebabkan para misionaris dari agama nonHindu begitu mudah mencuri kesempatan melakukan invasi dan konversi kepada anak-anak Hindu. Ini adalah kesalahan yang begitu mendasar yang telah kita lakukan.

Apabila ada kegiatan mlaspas pura atau odalan di pura umat begitu antusias memberikan kontribusi, tetapi begitu ada gagasan untuk mendirikan ashram atau Panti Asuhan maka umat umumnya sulit untuk melepaskan sedikit hartanya untuk menyumbang pendirian ashram atau Panti Asuhan ini. Ini yang kita katakan bahwa membangun hubungan horizontal masih amat sulit dilakukan oleh umat kita. Di samping pengorbanan harta benda pengorbanan bisa juga berupa tenaga. Kita menyumbangkan tenaga kita sebagai tukang bangunan baik itu tukang batu maupun tukang kayu adalah tindakan beryadnya. Yang tidak kalah pentingnya adalah sumbangan dalam bentuk pikiran.

Ide-ide kita yang cemerlang adalah yadnya yang sangat berharga bagi kemajuan Hindu di antaranya ide atau gagasan untuk mendirikan rumah sakit Hindu, Panti Asuhan Hindu, Bank Hindu dan sebagainya yang ini pada agama nonHindu jauh lebih maju.

Kita merasa miris hati mendengar dan melihat seorang anak Hindu yang otaknya cerdas dan nantinya bisa mewarisi Hindu ternyata disekolahkan oleh Yayasan nonHindu dan pada akhirnya dia digiring secara halus untuk menganut agama nonHindu. Kasus seperti ini banyak terjadi di Bali. Ini adalah kesalahan kita kurang memperhatikan salah satu aspek Tri Hita Karana, yaitu Pawongan. Juga aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah pemberian fasilitas kepada umat Hindu, memberikan mereka akses yang mudah dalam mempelajari Tatwa Hindu termasuk dorongan agar mereka senang membaca dan menulis.

Dari kelima agama yang hidup di Indonesia SDM Hindu memang terbukti yang paling rendah sehingga dibutuhkan kerja keras bagaimana memajukan SDM Hindu ini. Pada akhirnya yang terakhir adalah memberikan kesempatan kepada umat Hindu untuk memajukan SDM Hindu. Fakta menunjukkan masih sangat sedikit umat Hindu yang duduk di pemerintahan dan menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan. Peluang itu tetap ada bila umat Hindu memiliki komitmen untuk maju.

(2) Yadnya dalam bentuk pelayanan atau pengabdian (seva) kepada orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan. Bukankah dalam agama Hindu dikenal filosofi "manava seva madava seva" yang artinya menolong sesama manusia (makhluk) pada dasarnya sama dengan melayani Tuhan. Tidak sedikit umat Hindu yang menderita kemiskinan oleh karena itu yadnya dalam bentuk pelayanan ini sangat kita harapkan. Miris hati kita bila mendengar ada umat Hindu yang karena kemiskinannya kemudian dia lompat pagar alias berpindah agama. Sebelum itu terjadi marilah kita beryadnya untuk saudara-saudara kita yang nasibnya kurang beruntung dengan cara memberikan pelayanan kepada mereka.

(3) Yadnya dalam arti sebagai penghormatan kepada siapa saja sesuai tatanan norma (etika) berperilaku seperti menghor-mati orang tua. Di dalam ajaran Hindu kita mengenal ajaran Catur Guru, yaitu Guru Sejati (Guru Swadhyaya) yang tidak lain adalah Ida Sang Hyang Widi Wasa, Guru Rupaka (orang tua kita), Guru Pengajian (guru dalam proses belajar mengajar baik formal maupun nonformal), dan Guru Wisesa (pemerintah yang sah). Juga penghormatan terhadap pemimpin, orang suci (disucikan), tempat suci, dan juga simbol suci.

Pada zaman Kaliyuga ini penghormatan terhadap orang suci,tempat suci dan simbol-simbol suci sudah mulai ditinggalkan oleh umat Hindu. Contoh yang mudah adalah bagaimana beberapa waktu yang lalu pencurian alat-alat upacara (pratima) begitu marak dan ironisnya pencurinya adalah orang-orang Bali (Hindu) sendiri. Pura yang tenget dan angker sudah tidak ditakuti lagi karena tergoda oleh gemerincingnya dolar.

(4) Yadnya dalam makna (bentuk) pengendalian diri untuk tetap teguh menjalankan Dharma. Dalam ajaran Catur Marga, salah satunya adalah Raja Marga mengajarkan tahapan-tahapan untuk pendakian spiritual, yaitu Astangga Yoga dimulai dari Panca Yama Brata, Panca Niyama Brata, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, dan Samadi. Astangga Yoga ini adalah sistem pengendalian diri yang tidak semua orang bisa menjalaninya. Dalam tahap pertama saja, yaitu Panca Yama Brata (lima pengendalian berdasarkan Jasmani) ini tidak mudah untuk dilaksanakan, yaitu ahimsa (tidak membunuh dan menyakiti), satya (tidak berbohong), asteya (tidak mencuri), brahmacari (tidak melakukan hubungan seksual), dan aparigraha (tidak menerima pemberian/suap). Tahapan Astangga Yoga yang pertama ini saja sulitnya minta ampun untuk dilaksanakan apalagi tahapan-tahapan berikutnya. Memang menundukkan musuh dari dalam diri sendiri jauh lebih sulit daripada menundukkan musuh yang datangnya dari luar diri.

Pada kenyataannya, umat Hindu cenderung lebih memahami sekaligus melaksanakan makna yadnya hanya sebagai wujud bhakti melalui persembahan berupa upacara (upakara beban-tenan) yang dalam konteks Tri Kerangka Agama Hindu sesungguhnya masuk kategori "kulit" (bagian luar). Jadi diibaratkan telur, maka upacara atau ritual itu barulah cangkang atau kulit telur. Memang dalam praktik yadnya (ritual) unsur susila dan tattwa dinyatakan sudah lebur menjadi satu. Hanya saja masih bersifat implisit dalam bentuk simbol-simbol bermakna (nyasa) yang amat jarang nampak dalam pelaksanaan. Sehingga timbul kesan bahwa praktik upacara (ritual) yadnya itu berjalan sendiri tanpa ditopang susila dan tatwa.

Semestinya, ketika umat Hindu begitu total pengorbanannya dalam urusan ritual yang tidak jarang menghabiskan dana besar, maka logikanya akan terjadi perubahan dalam bentuk perbaikan memori, baik menyangkut sikap mental, akhlak moralnya dan kemudian memuncak pada pencapaian kesadaran spiritual. Konkretnya kesemarakan atau kegairahan umat melaksanakan upacara (ritual) semestinya diikuti dengan perbaikan segala aspek kehidupan. Misalnya, karena konsep yadnya bertujuan mengharmoniskan alam, maka seharusnya alam dan lingkungan semakin terawat, terjaga dan harmonis, tetapi faktanya alam lingkungan Bali dengan sumber daya hayatinya sudah semakin tidak mampu memberi daya dukung, hingga tergantung pada daerah luar. Kebutuhan akan bahan-bahan upacara atau upakara harus didatangkan dari luar Bali. Ketergantungan pada daerah luar Bali ini disebabkan antara lain maraknya alih fungsi lahan menjadi wujud bangunan yaitu hotel, villa dan lain-lain di samping tidak menjanjikannya sektor pertanian dibandingkan menekuni sektor pariwisata.

Mulai ada tanda-tanda pemda Bali melirik sektor pertanian ini setelah sektor pariwisata ada indikasi kemerosotan karena persaingan antar hotel yang tidak sehat. Tidak kurang Wayan Supadno seorang perwira TNI yang terjun ke bidang agrobisnis yang meraih sukses dan membagi ilmunya kepada orang-orang Bali untuk menekuni kembali dunia agraris yang sempat terbengkalai ini dan dulu pernah jaya.

Demikian juga soal bersusila (etika) dengan semakin disiplinnya umat Hindu melaksanakan yadnya, seyogyanya umat Hindu dapat menjadi teladan bagi perilaku yang sopan, santun, tidak suka kekerasan. Kenyataannya, semakin banyak saja umat Hindu yang gemar melakukan praktik hedonisme, anarkhisme, premanisme, kriminalisme, dengan segala bentuknya mulai dari gemar mengejar kenikmatan (mabuk-mabukan dan judi) melakukan pencurian (termasuk mencuri pratima), pemerkosaan terhadap anak di bawah umur, pembunuhan dan lain-lain yang di waktu lalu jarang terjadi karena waktu itu benar-benar takut akan hukum Karma Phala.

Di waktu dulu setiap terjadi aksi kriminal yang dicurigai adalah para pendatang, karena mitosnya orang-orang Bali (Hindu) adalah orang-orang yang dikenal jujur, polos dan tidak neko-neko. Tetapi kini persaingan hidup semakin ketat, peluang kerja semakin sulit dan pengangguran semakin meningkat padahal dalam keadaan menganggur pun manusia butuh makan. Apabila tidak bekerja dan tidak memiliki uang, maka potensi untuk melakukan kejahatan sangat riskan terjadi. Oleh karena itu jangan heran kalau kita melihat acara KRIS (Kriminal Sepekan) di Bali TV, banyak juga pelaku kejahatan adalah orang-orang Bali asli.

Oleh: Drs. Ida Bagus Manuaba,M.Pd
SMAN 1 Pesanggaran Banyuwangi

Source: Majalah Raditya, Edisi 233, Desember 2016