Benih Keikhlasan Pendidikan Hindu

Keihklasan dalam konteks Hindu sebenarnya dapat dipadankan dengan konsep Yajna. Yajna dalam agama Hindu merupakan bagian yang utuh dari seluruh ajaran dan aktivitas keagamaan. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa yajna merupakan unsur penting dari kehidupan beragama Hindu.

Jika dianalogikan yajna itu bagaikan kulit telor yang membungkus dan melindungi bagian dalam dari telor yang merupakan inti telor tersebut. Selanjutnya, jika dilihat dari aspek etirn loginya kata "yajna” berasal dari kata yaj (bahasa sanskerta) yang berarti korban pemujaan atau upacara korban suci.

Terkait dengan pemaknaan yajna sebagai suatu pemujaan dengan menggunakan berbagai sarana yang dilandasi oleh rasa pengorbanan yang suci (ihklas), maka pelaksanaan sebuah yajna harus didasari oleh sikap mental yang suci pula. Berangkat dari konsep tersebut, maka istilah yajna kemudian tidak hanya menandai identitas keagamaan, akan tetapi lebih dari itu, yakni merupakan pengejawantahan ajaran agama Hindu dalam praktik kehidupan keagamaan. Hal ini sejalan dengan salah satu sloka dalam Kitab Atharva Veda (XII. 1.1) yang menyebutkan sebagai berikut.

Satyam brhad rtam ugram
Diksa tapo brahma yajnah,
Prthivim dharayanti,
Sa no bhutasya bhavy asya patnyurum lokam prrthivi nah krnotu.
(Atharva Veda, XII. 1.1)

(Kebenaran (satya) merupakan hukum yang agung, yang kokoh dan suci (rta), tapa, brata, doa, dan yajna, inilah yang menegakan bumi. Semoga bumi ini, ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang lega bagi kami)

Demikianlah yajna merupakan salah satu penyangga tegaknya kehidupan di dunia ini, dan Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan manusia dengan yajna (korban suci) yang dilandasi oleh rasa keihklasan. Dengan yajna pulalah manusia mengembang dan memelihara kehidupannya. Jadi intinya, keihklasan dan kesucian diri adalah dasar yang utama dari pelaksanaan sebuah yajna.

Jika hal ini dianalisis dari perspektif pendidikan Hindu, maka nampaklah bahwa yajna merupakan salah satu bentuk pengejawantahan ajaran Veda, yang dilukiskan dalam bentuk simbol-simbol (niasa). Melalui niasa dalam bentuk yajna inilah ajaran agama Hindu diwujudkan, sehingga lebih mudah dapat dipahami dan dihayati oleh umat kebanyakan, di samping juga dapat dimaknai sebagai upaya untuk lebih memantapkan praktik kehidupan beragama bagi umat itu sendiri.

Jadi, intinya yajna yang dilandasi oleh rasa tulus dan ihklas sesungguhnya merupakan sumber belajar yang baik untuk mengembangkan kepribadian anak-anak dalam rangka mencapai tingkat kedewasaannya. Dikatakan demikian sebab melalui praktik upacara (yajna) berbagai nilai dapat digali sebagai landasan pembentukan karakter anak-anak. Contoh sederhana misalnya, ketika seorang Ibu atau anak-anak sedang mempersembahkan sebuah yajna, yakni berupa banten saiban, jangan dikira mereka sedang bermain-main sebagaimana anak-anak kecil pada umumnya yang suka bermain dagang-dagangan. Mereka itu benar-benar membawa sesajen untuk dipersembahkan, sebelum mereka menikmati makanan yang mereka masak setiap hari.

Jika hal ini dikaji dari perspektif pendidikan Hindu sebenarnya umat Hindu di lingkungan keluarganya selalu mendidik anak-anak mereka, agar tidak menikmati makanan yang dibuatnya sebelum dipersembahkan terlebih dahulu kehadapan Tuhan sebagai causa prima dalam segala bentuk manifestasinya. Landasan filosofinya cukup sederhana, mengapa umat Hindu melakukan persembahan berupa banten saiban (jotan) sebelaum mereka menikmati makanan yang dimasaknya setiap hari? Jawabnya juga sangat sederhana, yakni umat Hindu pantang menikmati makanan sebelum melakukan persembahan terlebih dahulu kehadapan yang Mahakuasa dengan segala manifestasinya.

Hal ini menunjukkan pula bahwa cara berpikir masyarakat Hindu sangat simpel, yakni mereka menyadari bahwa beras yang dimasak menjadi nasi bukanlah milik mereka, karena manusia tidak bisa membuat beras, meski pun mereka bisa menanam padi. Demikian pula sayur-sayuran yang dibuat menjadi lauk pauk itu bukanlah miliknya karena manusia juga tidak bisa membuat sayur-sayuran walaupun dia bisa menanamnya. Akan tetapi yang membuat tanaman sayur itu bisa hidup kita tidak pernah tahu. Menyadari semua inilah, kemudian umat Hindu menyampaikan rasa puji syukur dan rasa terima kasihnya kehadapan Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dalam wujud sebuah niasa (symbol) berupa persembahan banten saiban (jotan) atas segala rakhmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada umat manusia.

Jadi, dalam konteks pendidikan Hindu secara normatif sebenarnya anak-anak di lingkungan keluarga dari sejak dini telah ditanami benih-benih keihklasan dalam bentuk pelaksanaan yajna sesa. Namun, dalam praktiknya pelaksaan niasa dalam bentuk persembahan banten saiban tersebut sering hanya berhenti pada tataran tradisi mula keto (memang begitu), sehingga anak-anak sebagai pelakunya kurang memahami makna dari pelaksanaan yajna tersebut. Padahal intinya adalah ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang dilimpahkan untuk kesejahteraan umat manusia di muka bumi ini.

Hal ini menandakan pula bahwa segala bentuk niasa (symbol) yang digunakan dalam praktik keagamaan oleh umat Hindu, khususnya di Bali perlu dikupas maknanya, sehingga dapat memberikan pemahaman yang benar kepada generasi muda, sehingga dalam melaksanakan praktik kehidupan beragama mereka tidak hanya bersandar pada "ideomatikrasa" tetapi juga mampu memaknai praktik kehidupan beragama dengan menyandarkan diri pada "ideomatik rasio”. Hal ini penting sebab bagaimana pun juga masyarakat sekarang, khususnya anak-anak muda lebih mengandalkan cara-cara berpikir rasional-kritis dibandingkan normative-konpensional.

Oleh: I Ketut Suda
Source: Majalah Wartam, Edisi 32, Oktober 2017