Belajar Pada Karakter Tokoh Hindu

Sejak dua tahun belakangan ini, istilah revolusi mental menggema baik sebagai "ideologi baru" maupun gerakan. Tak sedikit yang sebetulnya mahfum, namun diskursus ini sudah kadung menggelinding kencang, terutama dari pewartaan media. Saking terkenalnya, hampir semua aspek kehidupan menjadi sasaran revolusi mental. Bahkan, tidak gagah kalau alfa menyebut istilah ini, terutama ketika menggambarkan keinginan untuk mengubat keadaan. Gregetan, bahkan ketidaksabaran sering terekpresikan jika perubahan, terutama yang menjangkiti birokrasi, administrasi dan perilaku yang berhubungan dengan pelayanan publik itu lemot dan berbelit-belit. Lalu, apa sih revolusi mental?

Revolusi mental adalah program nasional yang bertujuan mengubah mentalitas masyarakat, bahkan bangsa menjadi lebih baik dan dilakukan secara massif. "Revolusi" umumnya dimaknai sebagai perubahan cepat, kalau tidak radikal untuk menuju arah yang lebih baik. Berkebalikan dengan evolusi yang perubahannya berjalan lambat, kata "mental" merefleksikan watak, karakter dan batin manusia, yang dalam kamns bahasa Indonesia diartikan sebagai aktivitas jiwa, cara berpikir, dan berperasaan. Pendeknya, revolusi mental ditafsirkan sebagai aktivitas mengubah kualitas manusia, terutama watak dan karakternya ke arah yang lebih baik dengan waktu yang relatif cepat.

Istilah revolusi mental lalu kembali "dihidupkan" oleh pemerintahan Joko Widodo, meskipun istilah ini sudah lawas diwacanakan Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI saat berpidato pada Hari Proklamasi tahun 1962. Dalam banyak kesempatan yang lain, Bung Karno ingin rakyatnya menjadi bangsa beradab, berkarakter dan berdikari. Ajakannya diformulasikan ke dalam falsafah Trisakti, yaitu kemandirian di bidang politik, ekonomi, dan budaya. Untuk bisa mengais cita-cita besar ini, Putra Sang Fajar ini mencanangkan nation and character building melalui Pembangunan Semesta Berencana yang mengamanatkan karakter sebagai mental inves-tment.

Jadi kata kunci yang mengalasi metawacana revo-lusimental adalah karakter yang kuat. Dan memadupadankan istilah ini ke dalam terminologi Hindu, tentu saja tidak mudah, kecuali hanya untuk melakukan simplikasi masalah. Namun cara paling sederhana adalah mengelaborasi emanasi-emanasinya dalam plot wiracarita Hindu yang jamak sehatkan pembentukan karakter yang kuat, watak yang kokoh, dan pekerti yang berbudi luhur. Revolusi mental berbasis adab wiracarita dapat ditelisik dari Purana, Itihasa dan hingga satua-satua.

Kita bisa mulai dari Ramayana, yang bahkan pengarangnya sendiri, Rsi Walmiki adalah contoh orang berkarakter ketika ia menyadari kesalahannya saat menjadi Ratnakara, tukang rampok kelas kakap di hutan. Begitu juga Wibhisana, saat kekuasaan Rahwana runtuh, ia menjadi protagonis yang me-repesentasikan kokohnya sebuah karakter, tidak saja raga tetapi juga mentalnya. Karena alasan itulah, ia terpilih mendapatkan Rama Asta Bratha.

Walmiki juga menghiasi sembilan tokoh kunci Ramayana dengan beragam karakter yang kuat. Misalnya, Dasarata memiliki kemampuan mendalikan 10 indria; Kausalya sebagai pemberi kesejahteraan yang adil; Kaikayi adalah simbol kejujuran dan kebenaran; Sumitra selalu menjadi orang yang bertugas memperkuat persaudaraan, kesatuan dan persatuan; Rama sebagai pelindung peradaban dan semesta; Barata memiliki rasa tanggung jawab yang tulus untuk kelangsungan kehidupan; Laksmana adalah pengabdi yang berkomitmen tinggi untuk agama dan negara; Satrugena adalah solutif bagi keuntungan semua pihak; dan Sita adalah wujud kesetiaan suci untuk menegakkan dharma. Bagaima-na dengan Mahabharata?

Berkelindan dengan Ramayana, epos agung Mahabharata menggambarkan Panca Pandawa dengan simbolisasinya masing-masing. Pandhita adalah karakter untuk Yudistira; Giri menjadi karakter Bhima; Jaya sebagai karakter Arjuna; Nala adalah karakter untuk Nakula; dan Aji adalah karakter bagi Sahadewa. Namun kelima karakter itu berada dalam diri sang sutradaranya, Krishna.

Tentu saja masih banyak tokoh lain yang sanggup menggambarkan betapa karakter kuat menjadi modal sosial berharga dalam merealisasikan gerakan revolusi mental. Sebut saja yang lain, Karna atau Ekalawya. Begitu juga Adiparwa yang menceritakan bagaimana Bhagawan Dornya menyeleksi ketat karakter Sang Weda, Utamanyu dan Arunika sebelum benar-benar diterima sebagai sisya terpilih sang acarya. Sementara dalam Siwa Ratri Kalpa, kita menemukan karakter pemenang dalam diri Lubdaka, yang mirip Walmiki ketika menemukan kebenaran sejati justru dijalan yang sesat. Pun, dalam Purana kita mendapati banyak sekali tokoh berkarakter, seperti Dewi Sabhari, Tulsidas, dan yang lainnya. Dalam periode kontemporer, beberapa tokoh nyata, macam Mahatma Gandhi, Swami Wiwekanada, dan para filosof Hindu lainnya, ajaran etika, moralitas dan integritasnya menginsprasi untuk memperkokoh karakter.

Kisah para tokoh di atas menjadi tiang pancang bagi pembentukan karakter manusia Hindu, sesuatu yang segera dibutuhkan bangsa ini untuk melakukan perubahan. Jika tidak, keinginan untuk, mewujudkan visi besar Indonesia sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-2" (........ mengantarkan rakyat Inodnesia kedepan pinta gerbang kemerdekaan negara Indoensia, yang merdeka bersatu, berdaulat adil dan makmur", akan menguap begitu saja, nirhasil. Melui Revolusi Mental saatnya bangkit, ayo kerja.

Oleh: Dr. Nyoman Yoga Segara
Source: Wartam Edisi 16 tahun 2016