Belajar dari Jam Dinding

Dilihat orang tua atau tidak, ia tetap berdenting. Dihargai orang atau tidak, ia tetap berputar. Walau tak seorangpun mengucapkan terimakasih, ia tetap bekerja. Setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Itulah makna belajar dari jam dinding, terus berbuat baik,meskipun tidak dilihat, tidak dianggap apalagi dihargai, sekalipun bermanfaat bagi orang lain.

Hidup adalah kesempatan belajar, tentang kehidupan atau bahkan tentang diri kita sendiri yang sebenarnya belum banyak kita ketahui, apalagi pahami, mengerti, dan sadari. Belajar bisa dari apa saja, siapa saja, dan dengan cara bagaimana saja. Bisa dari guru, orang lain, buku, kejadian/peristiwa, alam, termasuk benda. Jam dinding sebagai benda/alat penghitung waktu tanpa disadari telah memberikan pelajaran. Bahwa meski dibutuhkan, bahkan teramat penting bagi perjalanan hidup manusia, keberadaannya lebih sering disepelekan. Hanya karena ingin tahu pukul/jam berapa saat itu, baru dilihat, itupun sekadar melirik.

Pelajaran penting yang dapat dipetik atas pelajaran yang didapat dari jam dinding, tetap dan berusaha bergerak, bekerja atau berbuat untuk sebesar-besarnya ber/dimanfaatkan orang lain, meski sama sekali tidak dihargai. Penghargaan bukanlah tujuan, kalaupun ada, itu hanya kesempatan untuk bersyukur. Bekerja atau berbuat adalah kewajiban soal hasil bukanlah menjadi tujuan, biarkan Tuhan mengatur apa yang terbaik untuk sebuah pekerjaan/perbuatan baik. Dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari hari ke hari, seterusnya beranjak ke hitungan minggu, bulan, dan tahun, seperti halnya jam dinding terus ajeg berputar.

Sama halnya matahari, tanpa mengenal waktu, terus saja terbit dan tenggelam, menjadi penanda pergantian waktu, dari waktu ke waktu, terus berlalu, tanpa ragu. Itulah sang kala, sang waktu, menjandi penentu apakah kita bisa mengisi dan memanfaatkannya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, atau hanya untuk diri sendiri. Jika hanya untuk kepentingan sendiri, tak bedanya dengan kincir air, setiap putaran harus mendapat pasokan air, ia tak akan bisa berputar, pasti berhenti kemudian mati.

Analogi jam dinding dan kincir air ini menjadi gambaran paradoks tentang perilaku manusia, yang satu bekerja atau berbuat tanpa mengharapkan hasil, sementara satunya lagi setiap pergerakan, pekerjaan atau perbuatannya selalu berharap mendapatkan balasan.

Sejatinya, setiap gerak, kerja, atau perbuatan adalah bagian dari putaran hukum “Karma”, sesuatu yang berhubungan dengan gerak hidup, dalam hal ini hidupnya manusia sebagai mahluk karmany (pelakon) yang bertugas seperti halnya jam dinding tanpa berpikir hasil.

Hal ini sejalan penegasan suratan kitab Bhagawadgita III.19,20: “Laksanakan segala kerja sebagai suatu kewajiban yang tanpa terikat (pada akibat/hasil), sebab kerja yang bebas dari keterikatan bila seseorang dapat melakukannya, maka ia akan mendapat tujuan tertinggi; sesungguhnya dengan kerja itu saja (orang) akan mencapai kesempurnaan, janaka dan lainnya. Terpeliharanya dunia sesungguhnya demikian juga, supaya engkau perhatikan dalam melakukannya”.

Dengan demikian, Karma disadari menjadi cara mencapai sesuatu, mulai dari meraih tujuan hidup duniawi (jagadhita) hingga memuncak pada pencapaian kesadaran tertinggi/sempurna secara rohani yang disebut kelepasan (moksa). Persoalannya, hidup adalah nyata, dan kehidupan itu  sendiri masih bergulir, dan terus bergerak di seputaran duniawi yang tidak lepas dari keterikatan materi, sementara obsesi tertinggi mewajibabkan  melepaskan segala kemelekatan materi duniawi? Membangun surgawi di dunia, tampaknya menjadi satu-satunya jalan kea rah itu. Bagaimana agar di tengah kehidupan yang semakin kuat ikatan materinya, dapat memberikan makan berarti bagi kehidupan ini, tidak saja untuk diri sendiri, lebih penting lagi bagi sesame insani.

Karena dengan membangun surgawi di dunia, sama artinya dengan menebar kebaikan dan kebenaran demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, bahkan alam semesta. Hanya dengan begitu, akan terjadi kesinambungan karma yang dilakukan, tidak berhenti sebagai bentuk aktivitas karma kara, kerja untuk mendapatkan hasil (upah), atau terbatas pada kegiatan karma sangga, berbuat untuk membangun relasi social (sobyah), tetapi terus meninggikan derajat karma menuju karma yoga (ngayah/sembah), melakukan pendakian mencapai puncak kesadaran rohani, jalan spiritual kembali pada asal muasal--Tuhan Kekal Transendental.

Gerak putaran jam dinding telah memberi pelajaran sekaligus mengingatkan kita untuk terus saja bergerak, berputar melalui karma, kerja atau perbuatan yang tiada henti dilakukan agar ‘sekali mendayung dua tiga pula terlampaui’. Melalui gerak karma, dalam berbagai bentuk aktivitasnya, dua sisi obsesi kehidupan dapat tercapai; hidup sejahtera di dunia materi dan merasakan bahagia di dunia rohani.

Oleh: I Gusti Ketut Widana
Source: Koran Bali Post, Minggu Umanis 21 Mei 2017