Bela Negara Menurut Hindu dalam Konteks Kekinian

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 27 Ayat (3):
“Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembel- aan negara”.

Bela negara bukan hal yang baru lagi masyarakat Indonesia dewasa ini. Masyarakat Indonesia dari usia remaja hingga dewasa rasanya sudah banyak memahami bahwa pembelaan terhadap negara tercinta, Republik Indonesia telah dimulai sejak lama bahkan berabad-abad yang lalu.

Pembelaan terhadap bumi pertiwi Nusantara tiada lain tiada bukan tentunya karena keinginan untuk terbebas dari penjajahan dan seluruh masyarakat Indonesia terlibat di dalamnya. Pembelaan itu mencapai puncaknya pada tanggal 17 Agustus 1945, tepat pada hari kemerdekaan Bangsa Indonesia perjuangan atas pembebasan pertiwi Nusantara menuai hasil manisnya.

Namun sayangnya perjuangan membela pertiwi tidak cukup sampai di sana, pembelaan harus tetap dilanjutkan untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pembelaan itu tetap berlanjut hingga kini.

Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa pembelaan terhadap NKRI tercinta dilakukan karena adanya rasa cinta tanah air. Rasa cinta terhadap tanah air Indonesia adalah pondasi yang kokoh untuk membangun semangat juang para pahlawan nasional baik dalam memperjuangkan maupun mempertahankan kemerdekaan bahkan hingga tetes darah penghabisan yang berbalut asa tinggi akan NKRI tercinta.

Setelah perjuangan demi kemerdekaan selama lebih dari tiga setengah abad dan lebih dari setengah abad pasca proklamasi, lantas berakhirkah pembelaan itu? Apakah hanya sampai disini? TIDAK!!! Tidak hanya ini dan tidak sampai disini serta tidak akan berakhir pembelaan ini. Mengapa? Lantas dengan cara apa? Karena Pertiwi Indonesia senantiasa membutuhkan putra-putrinya untuk mempertahankannya dengan banyak cara.

Rasa cinta tanah air dan bela negara tidak hanya semata-mata untuk meraih kemerdekaan. Bela negara juga tidak hanya terbatas pada perjuangan fisik yang berdarah-darah dan berderai air mata. Bela negara yang berpondasikan cinta akan tanah air tetap diperlukan hingga masa ini dan masa yang akan datang. Tidak dengan bambu runcing, tidak dengan gerilya, tidak pula dengan darah dan air mata tetapi perjuangan non-fisik dengan kecerdasan.

Hal ini tidak berarti bahwa senjata dan tentara tidak dibutuhkan lagi, tetap saja Tentara Nasional Indonesia (TNI) beserta kelengkapannya senantiasa dibutuhkan untuk menjaga pertahanan wilayah Indonesia. Hanya karena sudah ada TNI, POLRI dan aparat lainnya, bukan berarti warga negara lainnya bisa ‘memeluk lutut’ dan merasa ‘aman’.

Sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), seluruh lapisan masyarakat diharapkan mampu melakukan tindakan berkesadaran yang merupakan wujud dari bela negara untuk mempertahankan kemerdekaan dan melanjutkan pembangunan bangsa ke arah yang lebih baik. Semua itu ditentukan oleh sikap seluruh masyarakat, bukan hanya aparat. Hal ini sudah dijelaskan dalam UUD 1945 yang sudah dicantumkan di bagian awal tulisan ini.

Warga Negara Indonesia, di manapun berada seharusnya paham bahwa perang yang sedang dihadapi dewasa ini bukanlah perang berdarah bermodal fisik seperti zaman lampau, namun proxy war, perang mental yang bermodal kecerdasan. Menilik kejadian-kejadian yang terjadi di NKRI dan himbauan-himbauan pemerintah yang dapat kita simak dari berbagai media, cukup menjelaskan bahwa Indonesia terdesak cukup kuat dalam perang mental ini.

Globalisasi dan kecerdasanlah yang menjadi akarnya. Globalisasi tidak hanya menjadi arus tetapi juga telah menginfeksi masyarakat Indonesia. Globalisasi yang menginfeksi demikian kuatnya dan kecerdasan masyarakat Indonesia yang tidak cukup kuat untuk melawan infeksi globalisasi tersebut menyebabkan keterdesakan bangsa Indonesia dalam perang ini.

Infeksi globalisasi dan kecerdasan yang tidak berimbang ini menggerogoti sedikit demi sedikit pilar-pilar kekuatan negeri tercinta ini. Perlahan namun pasti, kecerdasan yang tidak memadai dan kecerdasan yang kebablasan menyebabkan masyarakat dengan mudahnya teinfeksi dampak negatif globalisasi dan mulai mengabaikan dasar Negara: Pancasila. Hal ini berlanjut dengan pengabaian Negara Indonesia sebagai negara hukum yang berlandaskan Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945. Tidak sampai di sana, polemik ini juga menyebar luas hingga terancamnya kebhinekaan bangsa. Memang tidak ada manusia yang sempurna, namun jika semakin marak tindakan yang tidak mencerminkan jati diri Bangsa Indonesia, akan jadi apa bangsa ini?

Untuk memenangkan perang mental ini, tentunya masyarakat harus memperbaiki kualitas kecerdasan generasi bangsa. Khususnya bagi umat Hindu yang baru-baru ini sempat menjadi salah satu yang di-‘senggol’ bahwa Hindu bertentangan dengan ideologi bangsa, umat Hindu juga harus belajar lebih banyak lagi tentang bagaimana menerapkan bela negara pada era ini. Tentu saja tidak hanya umat Hindu, namun beberapa keyakinan lain yang juga sempat 'tersenggol’ harus banyak memupuk kembali rasa cinta tanah air dan bela negara agar ‘senggolan’ dari oknum yang tidak bertanggung jawab dapat diatasi dengan kepala dingin.

Agama Hindu sendiri memiliki ajaran yang sangat luar biasa tentang bagaimana memupuk persaudaraan antar-anak bangsa. Hindu menekankan ajaran etika Tri Kaya Parisudha yang mengajarkan agar manusia senantiasa berpikir, berkata, dan berbuat yang baik. Jika pikiran generasi muda sudah diarahkan ke arah yang baik, maka sudah pasti perkataannya pun akan baik sehingga terhindar dari pernyataan-pernyataan yang ‘menyenggol’ kebhinekaan bangsa kita. Dengan pikiran yang baik, tentunya akan menjamin output tindakan yang baik pula.

Dengan pondasi Tri Kaya Parisudha yang memadai, tentunya keharmonisan akan tercapai yakni keharmonisan dengan Sang Pencipta, keharmonisan dengan sesama manusia dan keharmonisan dengan alam lingkungan. Ketiga keharmonisan ini disebut dengan Tri Hita Karana dalam Hindu yang dikenal sebagai penyebab kebahagiaan.

Kedua konsep Hindu ini mengajarkan bela negara dengan cara yang sangat sederhana. Tidak perlu ribet membawa senjata dan tembak-menembak di sana-sini karena memang tidak ada yang perlu ditembak. Generasi muda Indonesia hanya perlu mengasah pikirannya sehingga menjadi lebih cemerlang dan bijaksana. Pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik merupakan wujud bela negara juga guna menjalin keharmonisan antar warga negara Indonesia khususnya. Bahkan sebuah kerajaan/negara yang luar biasa pun dapat hancur lantaran pikiran yang tidak baik sehingga menimbulkan perkataan dan perbuatan yang adharma sehingga menghancurkan keharmonisan dengan sesama bahkan dengan sepupu sendiri seperti yang terjadi pada Pandawa dan Kurawa.

Bela negara itu tidak norak dan kampungan seperti anggapan para generasi muda masa kini atau yang lebih kerap disebut 'kids zaman now'. Bela negara bersifat fleksibel. Bela negara itu murah, tidak mahal, tidak ribet. Para penghuni negara hanya diharapkan mampu saling merangkul satu sama lain, bersahabat dan solid satu sama lain tanpa pandang bulu. Bela negara tidak memandang apa agamanya, apa sukunya, apa bahasanya dan lain-lain. Seperti sebuah nasehat yang berbunyi:

Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”.

Kiranya nasehat itu dapat dijadikan acuan dalam melaksanakan bela negara di NKRI tercinta. Jalinlah hubungan yang baik dengan Tuhan, beribadat dan berdoa dengan baik. Jika Islam, maka ke masjid-lah. Jika Kristiani, maka ke gereja-lah. Jika Hindu, maka ke pura-lah. Jika Buddha, maka ke wihara-lah dan seterusnya.

Jika hubungan dengan Tuhan sudah terjalin dengan baik, maka pastinya akan saling menyayangi dengan sesama ciptaan Tuhan. “Vasudaiva Kutumbhakam", semua makhluk adalah bersaudara. Jika ajaran ini disadari dengan baik, maka tidak akan ada yang sampai hati menghina, menyakiti, mencaci, memukul, menyumpahi, membunuh bahkan membakar saudaranya sendiri.

Pada hakikatnya, bela negara dapat dilakukan dengan cara apa saja sesuai kemampuan masing-masing individu atau warga negara Indonesia. Sadarlah, Bung! Negara ini sedang morat-marit karena kemerosotan moral dan mental akibat tingkat kecerdasan pikiran warganya yang lemah sehingga dengan mudah 'terinfeksi’ hal-hal negatif.

Sudah menjadi tugas seluruh warga negara Indonesia untuk membangun pola pikir sehat sehingga meningkatkan kecerdasan generasi bangsa agar lebih selektif dan hati-hati dalam beraktivitas. Mungkin sesekali masyarakat Indonesia perlu diingatkan kembali akan sejarah NKRI seperti kata Bapak Proklamator, ‘Jangan melupakan sejarah’ atau yang biasa disebut ‘JAS-MERAH’ karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.

Dengan mengingat kembali perjuangan meraih kemerdekaan diharapkan masyarakat Indonesia paham akan makna sebuah keharmonisan sebagai wujud cinta tanah air dan bela negara. Bahkan Hindu pun sebagai salah satu agama yang terbilang minoritas di negeri ini sangat menjunjung tinggi ajaran tentang cinta tanah air dan bela negara.

Vayam rastre jagryama porohitah”. [Y.V.IX.23]
Vayam tubhyam balihrtab syama”. [Ath.V.XII.1.2]

Artinya: :
Semoga kami waspada menjaga dan melindungi bangsa dan negara kami.
Semoga kami dapat mengorbankan hidup kami untuk kemuliaan bangsa dan negara kami.

Salam Indonesia!!!
NKRI Harga Mati!!!

Oleh: Sri Kinanty Rahayu, mahasiswa semester VII Jurusan Dharma Duta STAHN Gde Pudja Mataram
Source: Majalah Media Hindu, Edisi 167, Januari 2018