Beda Agama dan Bela Agama

"Lihat kebunku penuh dengan bunga,
ada yang putih dan ada yang merah,
setiap hari kusiram semua,
mawar melati semuanya indah
"

Demikian sebait lagu anak-anak yang ternyata baru disadari mengandung nilai-nilai penghargaan terhadap perbedaan. Termasuk perbedaan agama, yang dianalogikan seperti kebun atau taman yang justru semakin indah dengan hadirnya beragam aneka warna bunga. Bayangkan kalau kebun itu hanya ditumbuhi bunga kamboja, asosiasi orang kebanyakan pastilah mengingatkan pada keberadaan kuburan, seram menakutkan.

Lagi pula, sejarah "kelahiran" atau kehadiran agama-agama memang sudah sedemikian rupa keberadaannya, melekat dengan label perbedaan. Kesemua perbedaan agama itu adalah kehendak Tuhan, sebagai berkah anugrah di atas segala bentuk, rupa, dan nama yang berbeda-beda. Di dalam kitab Bhagawadgita, VII. 21, dengan jelas dinyatakan: "Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, Dengan bentuk apapun keyakinan yang tak berubah itu sesungguhnya Aku sendiri yang mengajarkannya.

Untuk itu, di dalam kitab Bhagawadgita, IX. 3 diingatkan,: "Manusia tanpa keimanan, yang mengikuti jalan ini, tidak mencapai Aku, dan kembali ke jalan dunia kematian, menderita". Artinya, setiap umat, apapun agamanya yang sama-sama berisikan ajaran Tuhan, tinggal melaksanakan segala perintah sekaligus menghindari larangan-Nya. Tidak perlu, bahkan tidak penting lagi mempersoalkan perbedaan nama, isi, "sosok" yang dipuja, dan lain sebagainya yang sebenarnya memiliki substansi kebenaran yang tunggal, sebagaimana keesaan Tuhan itu sendiri.

Jika kemudian agama dengan kebenaran absolutnya dipandang, bahkan dengan "pongah" dinilai salah atau sesat oleh umat dengan keyakinan berbeda, tentu ini sebuah bentuk pengingkaran atas kebenaran ajaran Tuhan. Apalagi kalau kemudian, dengan mengatasnamakan kebenaran agama sendiri, selain menjustifikasi juga hendak menghegemoni keberadaan agama minoritas, jelas hal itu semakin menggambarkan betapa karakteristik keimanan umat tersebut semakin jauh dari sikap religius yang humanis.

Sejatinya agama, apalagi Tuhan Yang Serba Maha, menurunkan agama yang berbeda bukan untuk dibela, apalagi dengan cara-cara yang justru bertentangan dengan kebaikan dan kebenaran ajaran-Nya. Sebab, Tuhan dalam ajaran-Nya sudah membuatkan hukum (Rta), yang dengan sendirinya mengatur seluruh kehidupan dengan segala konsekuensinya. Dharma raksatah raksitah, demikian dinyatakan yang artinya, barang siapa membela dharma maka dia akan dibela dan dilindungi oleh dharma itu sendiri. Membela dharma, sama artinya dengan membela agama atau sebaliknya membela agama sama juga maknanya dengan membela dharma-kebaikan dan kebenaran.

Hanya saja, manakala hendak membela dharma, maka cara-cara dharma jugalah yang sepatutnya digunakan. Bukan sebaliknya, bermaksud membela dharma/agama tetapi dilakukan dengan cara-cara adharma (kekerasan atau kejahatan). Cara dan tujuan seharusnya selaras. Karena, cara itulah yang akan menentukan pencapain dan hasil dari tujuan yang di dapat. Kalau dilakukan dengan cara baik tentu kebaikan yang akan di dapat. Kebalikannya jika menggunakan cara-cara tidak baik dan tidak benar, maka keburukan yang akan diperoleh, setidaknya pahala yang didapat akan sesuai dengan cara yang digunakan. Makanya di Bali ada petuah luhur yang menyatakan: alagawe ala tine-mu, ayu kinardi ayu kapanggih, bahwa apabila kita melakukan kejahatan maka keburukan yang akan ditemui, dan kalau kita melakukan kebaikan dan kebenaran maka kerahayuan pula yang akan didapat.

Itulah hukum Rta yang di dalam konsep Hindu disebut dengan "karmaphala". Hukum Tuhan yang bergerak atas dasar hubungan sebab akibat. Bahwa setiap 'sebab' akan menghasilkan 'akibat', dan apapun 'akibat' yang di dapat adalah karena adanya suatu 'sebab'. Karmaphala ngaran ika phalaning gawe hala hayu, begitu kitab Slokantara 68 menyebutkan bahwa karmaphala itu artinya akibat (pahala) dari suatu sebab perbuatan baik buruk.

Dikaitkan dengan situasi perkembangan belakangan dalam kasus bela agama dalam konteks penistaan agama, sesungguhnya sah-sah saja. Tetapi ketika kemudian berkembang dan terkontaminasi dengan kepentingan beraroma politik untuk menjatuhkan nama baik seseorang, apalagi dengan cara kekerasan dan memaksakan kehendak, tentu patut dipertanyakan tingkat religiusitasnya sebagai insan agama yang katanya cinta damai dan selalu membawa berkah anugrah bagi semesta alam.

Sejatinya, secara filosofis (tattwa) Tuhan dan agama yang diwahyukan tidak pernah meminta pembelaan. Karena ber-Tuhan atau beragama adalah pilihan keyakinan pribadi yang paling asasi yang tidak boleh dibenturkan dengan keyakinan lainnya yang pada hakikatnya "sama-sama benar". Tuhan adalah "Maha Kuasa", semua yang ada sudah "teratasi" oleh kemahakuasaan-Nya. Jadi tidak perlu ada pembelaan atas diri Tuhan atau agama. Satu hal yang justru patut dan penting dilakukan semua umat beragama adalah "membenahi" diri dengan selalu berjalan di jalur dharma bukan berkubang terus di muara adharma. Caranya dengan membela kepentingan umat, sesama, dan segenap makhluk agar semuanya dapat hidup semakin sejahtera dan bahagia: sarve sukhino bhavantu.

Oleh: I Gusti Ketut Widana
Source: Koran Bali Post, Minggu Kliwon 15 Januari 2017