Batur Dan Baturenggong

Pura Batur yang berada di kaki Gunung Batur dan juga di tepi Danau Batur adalah Pura Agung yang begitu indah, yang juga menjadi sungsungan Umat Hindu di Bali khususnya. Pura besar ini ternyata sempat mendapat bencana, diguyur oleh lahar Gunung Batur. Hampir tak tersisa karena dahsyatnya bencana itu, kecuali yang tersisa adalah kori agung pura itu di tengah-tengah hamparan lahar yang berbukit-bukit. Maka Pura baturpun kemudian dibangun di tempat yang baru, di atas sekaligus di tepi jalan besar Kintamani. Sungguh kita telah kehilangan Pura dengan arsitekturnya yang megah, yang terbangun di sebuah tempat (yang sangat indah, yang pada masanya sangat sulit dijangkau kecuali dengan dorongan ikthiar yang kuat.

Di balik terbangunnya Pura Batur di tempat seperti itu tentu ada pemikiran spiritual yang tinggi dan mendalam. Ada konsep agama yang ditanamkan di sini. Maka para raja yang memerintah jagat Bali harus melaksanakan tugasnya membangun pura agung ini demi menjaga nilai-nilai spiritual, sekaligus membangun peradaban Bali yang tinggi. Dalam banyak sumber kita ketahui perhatian besar yang diberikan oleh raja Baturenggong yang memerintah di Bali pada zaman keemasan jagat Bali sekitar abad ke-15. Baturenggong memang beristana di Gelgel di Kabupaten Klungkung sekarang, tapi beliau melihat Bali secara utuh, menjaga pusat-pusat kerohanian seperti Pura Agung Besakih di Kaki Gttnung Agung, Gunung tertinggi di Bali, dan Pura Batur di tepi danau Batur, danau terluas di Bali. Maka konsepsi linggayoni mendapat tempat yang sangat tepat: Bila Gunung Agung sebagai Lingga, maka Danau Batur sebagai Yoni. Persatuan linggayoni adalah simbol pemberi kerahayuan atau kemakmuran bagi masyarakat luas. Itulah sebabnya di Pura Batur bersthanakan seorang Dewi, disebut Dewi Danu atau Bhatari Danu.

Secara nyata danau adalah sumber air yang kemudian muncul sebagai mata air yang mengaliri sungai-sungai jagat Bali. Sungai-sungai lalu diempang, airnyapun dialirkan menjadi sawah-sawah sehingga masyarakat Bali menemui kemakmuran. Masyarakatpun tidak pernah lupa mengucapkan terimakasih dan menghaturkan bhakti ke hadapan Bhatari Danu karena Sang Dewi telah memberikan kesejahtraan pada mereka. Pura-pura Subakpun dibangun di seantero jagat Bali sebagai tanda bhakti kepada Dewi Kemakmuran, dan peradaban pertanian yang tinggi tak tertandingi telah terbangun di Bali.

Demikian antara lain peran para pemimpin Bali di masa lalu, antara lain peran Maha Raja Baturenggong yang telah membangun, memelihara dan menjaga kesucian Pura Batur.

Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 531 Maret 2011