Basir dan Pisor Rohaniawan Hindu Kaharingan

Setiap agama memiliki orang yang dianggap suci atau rohaniwan. Demikian pula dengan umat Hindu suku Dayak Kaharingan. Orang suci atau rohaniwan mereka disebut Basir atau Pisor. Mereka ini mempunyai kedudukan terhormat di mata umat Hindu Kaharingan. Merekalah yang bertugas untuk memimpin setiap upacara keagamaan. Malahan mereka dijuluki pula sebagai Ulama Kaharingan.

Sebutan Basir atau Pisor disesuaikan dengan daerah masing-masing umat. Tidaklah semua orang dapat menjadi Pisor atau Basir. Kedudukan ini hanya dijabat oleh mereka yang secara turun-temumn nenek moyangnya telah menjadi Basir atau Pisor, di samping persyaratan lainnya. Jadi, Jabatan Basir atau Pisor ini adalah jabatan warisan berdasarkan keturunan.

Ajaran yang diberikan oleh para Basir atau Pisor kepada muridnya tergantung sekali kepada pengetahuan dan kemahiran gurunya yang diperoleh dari nenek moyangnya. Oleh sebab itu tidaklah perlu heran bila setiap Basir atau Pisor ajarannya berbeda-beda satu dengan lainnya. Dan hal ini berdampak pula pada upacara ritual yang mereka laksanakan. Satu sama lain berbeda. Dalam pemujaan bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Sangiang. Atau disebut pula sebagai bahasa Hatalla, bahasa Tuhan.

Persyaratan untuk menjadi Basir atau Pisor adalah sebagai berikut:

1. Dapat mengendalikan diri, bersikap dan berperilaku yang baik dan santun.
2. Menguasai bahasa Sangiang dengan baik.
3. Beragama Hindu Kaharingan.
4. Sudah dinobatkan atau dikukuhkan oleh Sangiang melalui Bahan.

Persyaratan untuk belajar menjadi seorang Basir atau Pisor Duhung Handepang Telun adalah menghaturkan berbagai peralatan untuk calon Guru, berupa:

1. Sepasang pakaian (sinde mendeng) untuk Guru yang akan mengajarkan berbagai cara untuk menolak bala, atau hal yang tidak baik.
2. Lilis lamiang I kapucuk untuk memberikan semangat bagi Guru yang akan mengajar maupun murid yang sedang belajar agar semangatnya seperti cahaya lamuing, tidak pernah luntur atau susut meskipun diasah berkali-kali. Lamiang juga merupakan alat penangkal terhadap pengaruh jahat.
3. Amas sakiping (2.700 mg) untuk memberikan cahaya terang, agar pikiran dan semangat guru dan murid menjadi lebih pandai, cerdas serta mudah memahami pelajaran yang diberikan.
4. Imbalan jasa, sesuai kesepakatan.

Tugas yang dilaksanakan oleh para Basir atau Pisor itu berbeda-beda. Pada saat sebagai pengobat yang bertugas adalah Basir Upu, Basir Pendamping, dan Basir Panggapit. Mereka yang bertugas pada upacara hanteran liau adalah Basir Duhung Handepang Telun atau Pisor sebagai tukang hanteran. Jadi, peranan Basir Duhung Handepang Telun yang utama adalah keterlibatannya dalam melakukan tugas memimpin upacara tiwah sebagai tukang hanteran Roh Liau Balaivang Panjang dan Roh Liau Karahang Tulang. Basir Duhun Handepang Telun ini mempunyai pengetahuan yang amat tinggi dan mahir dalam melaksanakan semua upacara agama Hindu Kaharingan. Beliau ini kemampuannya melebihi para Basir Upu, Basir Panggapit, dan Basir Pandamping.

Basir Duhung Handepang Telun adalah rohaniwan yang melaksanakan upacara tiwah bersama Basir Upu, Basir Panggapit dan Basir Pendamping. Beliau pada waktu melakukan upacara sebagai tukang hanteran mengenakan pakaian kebesaran seperti Raja Pampulau Hawun, Randin Talampe Batanduk Tunggal pada saat Beliau melaksanakan Tiwah Suntu di Batu Nindang Tarung Kereng Angker Batilung Nyaring.

Ada dua tugas yang harus dilaksanakan oleh seorang Basir atau Pisor, yakni sebagai:

1. Penuntunan dan pembimbing umat dalam bidang keagamaan

Dalam hubungannya dengan pembinaan umat, Basir Duhung Handepang Telun berkewajiban pula sebagai ulama Hindu Kaharingan. Beliau wajib memberikan tuntunan dalam tata kehidupan beragaman kepada umat yang datang memohon petunjuk tentang memilih hari yang baik untuk melaksanakan upacara keagamaan.

2. Pelayan umat dalam melaksanakan upacara keagamaan

Basir Duhung Handepan Telun mempunyai tugas yang amat berat dalam melaksanakan upacara ritual keagamaan Tiwah. Beliau bertugas sebagai Tukang Hanteran Liau, manaur padi, dan memandu para duda dan janda Kanjan Pahi.

Itulah gambaran sekilas tentang Basir dan Pisor sebagai rohaniwan Hindu yang ada di umat Hindu Kaharingan Kalimantan Tengah. (Sumber : Acara Agama Hindu Kaharingan STAHN Tampung Penyang, Palangkaraya, 2007).

Source: Ngurah Nala l Warta Hindu Dharma NO. 502 Oktober 2008