Banda dan Moksa

Bandha memiliki pengaruh kuat pada pengetahuan intlek maupun pada ketidaktahuan. Intlektual tinggi akan melahirkan kecemerlangan jiwa menuju pembebasan menyatu dengan Brahman. Ketidak-tahuan melahirkan kegelapan pada organisme psikofisik, menuju kesengsaraan. Banda (belenggu) tidak akan memiliki pengaruh maupun dampak kepada Brahman, karena sifatnya mutlak dan absolut.

BANDHA
Pemahaman berdasarkan pengetahuan intlek mengenai Bandha (belenggu), akan dapat membantu memberikan pengetahuan tentang pengendalian diri, guna jiwa-jiwa mencapai kebebasan, bila mana ketidaktahuan mengenai Bandha (belenggu), usaha belenggu akan melilitnya, akan melahirkan kegelapan, maka jiwa-jiwa tidak akan mendapatkan "kebebasan" yang diperoleh jiwa, sesungguhnya berdasarkan yang satu, eternal dan universal, yang merupakan realitas dari atman.

Bandha (belenggu) adalah kegelapan (Avidya), tentu akan perbedaan antara jiwa dan Tuhan, karena non kejelasan dari hakikat aksidental jiwa, karena pembatasan organisasi psikofisik. Ia penyebab belenggu penderitaan dan dihancurkan melalui pengetahuan Atman atau Brahman. Kompleksitas pikiran, tubuh, penglihatan, kebencian, tipuan, kenikmatan aktivitas membentuk hakikat empiris roh individu, karena kegalapan. Ketika kegelapan dihancurkan, hakikat dalamnya yang murni suci diketahui, bahkan seperti hakikat nyata tak diketahui ketika ilusi ular dihancurkan.

Pengalaman intergral mengikis kegelapan, yang merupakan akar penyebab kelahiran dan kematian. Ia menghancurkan kelahiran kembali karena pertemuan Atman dengan kompleksitas tubuh pikiran. Atman secara eternal terbebaskan, tetapi kebebasan intrinsiknya tidak diketahui, karena ditutupi oleh kegelapan. Pembebasan bukanlah sebuah pencapaian tetapi sebuah penemuan. Sankaracharya percaya dalam perpindahan roh empiris. Roh berbeda dari tubuh dan tidak sirna dari kematian tubuh dan kematian adalah perpisahan roh dari tubuh.

MOKSA
Atman adalah realitas jiwa yang merupakan eksistensi eternal, kesadaran dan kebahagiaan serta identik dengan Brahman. Pengalaman identitas atman dengan Brahman merupakan tujuan tertinggi, karena ia menghancurkan semua jenis penderitaan. Brahman secara eternal adalah suatu fakta sempurna dan tidak dapat didapatkan melalui tindakan. Ia hanya dapat dirasakan melalui intuisi saja. Atman secara eternal terbebaskan.

Moksa (kebebasan) adalah hakikat esensialnya. Moksa adalah hakikat esensial Brahman dan tidak menerima produksi apapun di dalamnya. Moksa (kebenaran) bukanlah ada dalam hakikat dari hal-hal tersebut, oleh karena itu tidak dapat dipengaruhi oleh aktivitas apapun.

Moksa (kebenaran) adalah suatu bebas tindakan. Ini adalah eksistensi dalam keadaan esensial Atman, yang merupakan keadaan yang tidak beraktivitas. Aktivitas terjadi pada jiwa dan tidak berlaku pada roh transendental. Ini merupakan efek pengetahuan yang lebih rendah, dan mungkin terjadi dalam dunia empirik yang diwarnai oleh dualitas dan pluralitas, di mana ada pemisahan antara agen, tindakan, obyek, hasil-hasilnya, alat dan tujuan-tujuan. Hal-hal ini tidak mungkin terjadi pada tataran eternai, absolut, transendental, realitas non dualitas atau Atman.

Atman sebagai realitas alam semesta, bergembira di dalam dan di satukan bersamanya serta dipenuhi oleh kebahagiaan tertinggi (ananda) dan menjadi mandiri. Kebahagiaan eternai ananda merupakan esensi Atman yang tersembunyi karena dibatasi oleh pertemuannya dengan organisme psikofisik karena kegelapan. Apabila kegelapan disingkirkan melalui pengalaman integral, kebahagiaan transendental Atman memanifestasikan diri.

Ia tidak berhenti memiliki isi kognisi-kognisi benda-benda eternai. Tetapi kognisi-kognisi mereka tidak diwarnai oleh kemelekatan, kedengkian, kepalsuan dan ketaksempumaan-ketaksempurnaan lainnya. Ia tahu hal-hal tersebut sebagai hal yang tidak berbeda dari Brahman. Keinginan-keinginannya ditarik dari obyek-obyek eksternal dan diarahkan ke dalam penyadaran atman Ia tidak melenyapkan dunia empiris yang pluralistik tetapi ia menghancurkan rasa pluralistik. Pengetahuan tentang pluralistik dirubah oleh intuisi identitas. Ia membuat pengaruh benda-benda empiris.

Sankaracharya mengakui adanya kebebasan berjenjang dan kebebasan semasa hidup di dunia ini. Orang yang selalu bermeditasi atas suka kata mistik "Om" simbul Brahman, pergi ke Brahman Loka atau Sorga setelah kematian. Ia mendapatkan kembali kepribadiannya di sana, dan secara berjenjang mencapai pengalaman integral Brahman. Memuja Brahman yang terbatas atau Tuhan berpribadi mengantarkan pada kebebasan berjenjang. Brahman yang tak terbatas tidak dapat dipahami oleh orang yang mempunyai intlek rendah. Tetapi bagi orang yang telah mendapatkan intuisi Brahman yang tak terbatas, menyadari keabsolutan atau ketidak terbatasan dalam keadaan masih hidup di dunia ini. Ia menjadi spirit eternal dan tak terbatas.

Source: Ida Bgs. Subali P l Warta Hindu Dharma NO. 480 Januari 2007