Bahana Panggilan Kesujatian

Keabadian, Kesujatian, Tuhan, atau apapun yang kamu kehendaki,
hanya bisa engkau temukan sendiri.
Dia ada hanya ketika batin bebas, lepas dari kepercayaan,
lepas dari prasangka, tidak terperangkap di dalam jala nafsu, sakit hati dan keduniawian

— Krishnamurti —

MENSUBILIMASIKAN TUGAS MENJADI KEWAJIBAN

Ketik kita menyelesaikan tugas yang mesti diselesaikan saat ini, kita merasa lega. Kita merasa bebas, tanpa ada beban lagi. Namun itu hanya untuk sementara waktu, hanya sejenak saja; sebab beban tugas lainnya sudah menunggu untuk diselesaikan, dituntaskan. Padahal kelegaan itu sangat kita dambakan.

Begitu umumnya keseharian kita. Tugas terlanjur disanggupi cepat atau lambat menjadi beban, ia bukannya menjadi kewajiban yang melekatkan dengan keberadaan kita. Semasih tugas tetap sebagai tugas-yang adalah beban kita tak akan pernah dibiarkannya lega berlama-lama, atau bahkan untuk sekedar merasakan kelegaaan yang hanya sejenak itu saja sekalipun.

Secara superfisial, tugas memang kelihatan sama dengan kewajiban. Namun bila kita masuk sedikit lebih dalam akan tampak jelas bedanya; bahkan bisa-bisa sangat jauh bedanya. Hanya ketika kita berhasil mensublimasikan sebuah tugas menjadi kewajiban, baru ada kemungkinannya kita merasakan kelegaan yang lebih ajeg, kendati saat sedang mengerjakannya, di luar tampak luarbiasa sibuk, melelahkan.

BAKAT, PERAN DAN KEWAJIBAN

Disadari atau tidak, setiap orang melakoni peran apakah itu positif ataukah negatif di masyarakatnya, di dalam kehidupan ini. Ada yang memerankan satu peran seumur hidupnya, ada yang hanya dalam kurun waktu tertentu saja; ada juga yang tampak tidak jelas perannya karena terus berubah-ubah. Peran-perannya inilah yang kemudian diingat oleh orang-orang, sebagai peninggalannya, sebagai sejenis pengkat kalau seseorang memang pernah terlahir dan hidup di dunia ini.

Berperan di dalam kehidupan tidak mesti aktif, agresif, sarat dengan berbagai ambisi, seperti yang disangka oleh banyak orang. Oleh karenanya, untuk memerankan peranannya sebaik-baiknya apapun itu adanya di dalam drama kehidupan ini, telah merupakan kewajiban setiap orang, ia melekat pada kelahiran masing-masing. Seseorang yang terlahir di lingkungan para seniman misalnya, sedikit banyaknya punya bakat atau rasa seni. Makanya besar kemungkinan kalau ia memang telah dicanangkan untuk berada di dunia seni.

Demikianlah, peran seseorang bisa dideteksi dari bakat-bakatnya. Seseorang yang tidak berbakat seni, tidak akan punya "rasa keter panggilan" untuk menggeluti dunia seni, walau selalu terbuka kemungkinan bagi siapapun untuk memerankan diri sebagai pemikat sebentuk kesenian tertentu.

Karena seseorang bisa saja punya lebih dari satu bakat, disamping lingkungan sosialnyapun bisa berubah-ubah dalam kurun kehidupannya ini, maka peran yang dimainkannya pun bisa berubah-ubah, dan tidak harus hanya satu. Seseorang bisa berperan sebagai seorang seniman, dan pada saat yang bersamaan juga sebagai pembisnis misalnya. Jadi, pada saat yang bersamaan, seorang bisa memerankan dua atau tiga peran sekaligus dengan baik, sesuai bakatnya.

Mengukuhi suatu peran tertentu, hanya lantaran peran itu tampak menjajikan pencapaian ambisi kita, padahal sebetulnya kita tidak berbakat di bidang itu, adalah kebodohan. Itu hanya akan mengacaukan kehidupan kita dan ketertiban masyarakat. Oleh karenanya, adalah kewajiban setiap orang untuk benar-benar memahami bakatnya, dan tidak dapat mengambilkan peran hanya berdasarkan minatnya saja. Hanya memerankan diri sesuai bakat dan kecendrungan itulah seseorang mencapai keberhasilan, sekaligus secara aktif dan positif berkontribusi bagi kemajuan masyarakatnya.

PERNAHKAH ANDA MERASA TEPANGGIL

Ketika Anda "terpanggil" untuk berbuat sesuatu, apa yang terjadi? Pernahkah Anda merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu kecil maupun besar? Bila pernah, pernahkah Anda mengamati apa yang terjadi? Bila pernah, saya percaya anda mengetahui apa yang disebut dengan "lupa waktu" dan "lupa diri". Selama anda memfungsikan diri dalam rangka menyelenggarakan keterpanggilan itu, Anda lupa terhadap berjalannya waktu; bagi Anda, 'waktu psikologis' terhenti dan sebaliknya, secara relatif, waktu kronologis melaju kencang. Akibatnya, setelah kesadaran Anda akan waktu pulih, anda berseru,: "Lho sudah sore..." dengan takjim. Dimana si diri ini selama itu? Kemana rasa diri ini selama itu? Ia tersisih, terlupakan. Ia tercerap oleh keterpanggilan itu, seperti halnya waktu psikologis.

Selama itu, anda boleh berpikir keras, cerdas, bertindak dengan gesit, cermat, serta nampak penuh Vitalitas, disertai oleh merasa begini atau begitu, namun anda tak mengenal apa itu lelah. Segala perangakat si diri tercerap kedalam keterpanggilan itu, sehingga si diri sendiri melupakan dirinya. Yang ada hanya keterpanggilan itu. Dari luar, selama anda ada di dalam ketercerapan, anda boleh jadi kelihataan seperti 'orang gila' hanya lantaran tampak menyimpang dan tidak masuk-akal buat orang-orang; padahal Anda sepenuhnya waras; bahkan lebih waras dari sebelumnya, bahkan dari mereka. Kalaupun ketika itu anda sempat mengarahkan perhatian ke luar, pada hal yang tak berkaitan langsung dengan keterpanggilan itu, anda akan melihat kalau dunia ini dipenuhi oleh para pemabuk, mereka yang sedang kesurupan, bahkan mayat-mayat hidup.

Oleh karenanya, bisa saja rasa kemanusiaan anda jadi tergugah untuk menolong menyadarkan mereka dari kemabukannya itu, dari kesurupannya itu, dari prilaku hidup layaknya mayat-mayat hidup itu.

Si diri berikut segenap enerji dan daya -upayanya-memang tak bisa terlepas dari waktu, dari duet pikiran-perasaanya. Mereka seiring-sejalan. Dimana hadir si diri, di sana ada waktu-psikologis, waktu-subjektif. Kalau kita masih 'ingat-waktu', itu tandanya kita belum lupa- diri- yang juga berarti masih kokoh diapit sang waktu dan si pikiran. Karenanya, mau-tak-mau, suka-tak-suka, kita akan cenderung menerapkan pola untung rugi, pola kalah- menang, memilih-milih antara yang menyenangkan dan yang tak menyenangkan; karena itulah kerja pokok dari duet pikiran-perasaan pembentuk si diri semu ini.

APAKAH ANDA SUDAH BENAR-BENAR TERPANGGIL?

Seorang yang merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu, untuk mengemban suatu tugas tertentu, akan melaksanakannya secara total, dengan sepenuh hatinya. Baginya, pendisiplinan pihak luar manapun tidak diperlukan lagi. Ia akan bisa mendisiplinkan dirinya, dengan sukarela, dengan penuh rasa tanggung-jawab; karena ia merasakan langsung manfaat dari pendisiplinan-diri ini demi kebaikannya dan demi kelancaran pelaksanaan tugasnya itu. Rasa keterpanggilan inilah yang akan menggerakkannya.

Oleh karenanya, sebelum keterpanggilan itu muncul pada seseorang atas suatu tugas atau kewajiban yang harus diembannya, ia tak akan melakukannya dengan sepenuh hati, dengan rasa tanggung jawab dan disiplin tinggi; melangsungkannya dengan tanpa-pamrih. Seorang karma-yogi, atau penekun kehidupan spiritual-holistis manapun, mengawalinya disini; mengawalinya dari terbitnya rasa keterpanggilannya ini. Sebelum itu, kendati seseorang tampak sibuk, siang-malam, dan dengan tanpa mengenal lelah melaksanakan sesuatu yang kelihatannya bersifat spiritual, bisa saja itu sekedar ikut-ikutan, atau agar tampak trendy, tidak ketinggalan jaman, atau malah supaya diakui dan diterima oleh suatu linkungan sosial tertentu.

Makanya, karena menghidupi kehidupan spiritual adalah menghidupi sebentuk kehidupan yang boleh jadi tampak menyimpang dari kaidah-kaidah kehidupan duniawi pada umumnya-seumur-hidup, sebelum seseorang benar-benar terjun di dalamnya, adalah sangat perlu untuk mempertanyakan kembali : 'apakah saya sudah benar-benar terpanggil untuk melakukan semua ini?'. Sebab bila belum, sangat besar kemung-kinannya kalau ia akan mengorbankan terlalu banyak hal, untuk sesuatu yang sia-sia. Pertanyakanlah ini sahabatku.!

KETIKA KITA TERPANGGIL

Ketika kita terpanggil dan selama menyelenggarakan panggilan itu, kita melupakan-diri kita. Ketercerapan di dalam keterpanggilan itu, bukan saja muncul dari adanya cinta namun memperkuat kecintaan itu sendiri. Anda mencintai "yang memanggil" itu, dan dengan penuh kecintaan pula anda akan menyelenggarakan setiap gerak dan langkah guna memenuhi keterpanggilan itu.

Kalau keterpanggilan itu luhur sifatnya, kalau ia merupakan "keterpanggilan ilahi, " ia juga disebut "Sabdha Sunya" Bila sor-rendah nista, asusila, egois, jahat-sifatnya, ia merupakan "bisikan setan". Keduanya sama-sama mengambil format keterpanggilan, dan keduanya sama-sama menghadirkan cinta di hati. Bedanya, kalau yang satu adalah cinta yang menyebabkan kebatilan, maka yang satunya lagi justru melonggarkan hingga melepaskan dari segala bentuk kemelekatan, keterikatan dan belenggu. Keterpanggilan luhur inilah yang membebaskan anda, menjadikan anda "sang juru selamat"-sekurang-kurangnya bagi diri anda sendiri-yang berpotensi besar untuk menyelamatkan yang lainnya juga. Secara ekstrim, itulah dua jenis keterpanggilan yang kita bicarakan disini.

Umumnya, kebanyakan dari kita tidak sepenuhnya di dalam salah-satu jenis keterpanggilan saja. Terkadang, pada suatu kesempatan tertentu, kita panggil oleh "panggilan ilahi " dan pada kesempatan lainnya oleh "bisikan setan". Bedanya cuma, kalau anda lebih sering dan lebih lama menjalani kehidupan anda sesuai dengan panggilan ilahi" maka saya justru sebaliknya; saya lebih sering dan lebih lama menjalani kehidupan anda sesuai dengan "panggilan setan" itu saja.

Mungkin bagi kita persoalan adalah, mampukah kita mendengar "panggilan ilahi" yang terus-menerus membenahi itu, untuk kemudian bertahan mengikutinya? Kenapa saya tambahkan kata 'bertahan' disini? Karena umumnya kita sangat mudah mendengar dan tergoda oleh "bisikan setan" untuk kemudian mangkir dari "panggilan ilahi". Kecendrungan demikian besar sekali; ia seringkah membuat kita tak kuasa bertahan.

Mungkin lantaran teramat maklum akan fakta manusiawi ini, para yogi, para manusia bijak-ribuan tahun lampau telah -merancang apa yang dikenal sebagai yama dan nyama brata yang pada prisipnya berisikan anjuran dan larangan; sebentuk pelatihan moral luhur guna memperkokoh daya- tahan terhadap godaan dari "bisika setan."

Mengakhiri tulisan ini, sangat mengena untuk menyimak lagi kata-kata mendiang Shri Shri Anandamurti sebagai berikut:

Tuhan memanggil kalian melalui deru ombak di samudra,
melalui gemuruh guntur di langit, melalui kilatan-kilatan petir, melalui pancaran sinar meteor.

Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak langkah kita. Semoga kedamaian dan kebahagiaan menghuni kalbu semua insan.

Oleh: Anatta Gotama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 523 Juli 2010