Aywawera: Elemen atau Ornamen?

'Aywawera' atau ‘haywa werah’ adalah sebuah kata majemuk atau klausa imperatif (subjek orang kedua lesap) bentukan dari 'aywa atau haywa (jangan, janganlah)’ dan ‘werah atau wera (membuka rahasia, lalai, ceroboh; ribut, heboh)’. Kata ini passim ditemukan terutama dalam teks-teks tutur berbahasa Jawa Kuna dan Kawi-Bali yang umumnya ditulis 'ajawera'. Khusus untuk kata 'aywa', bentuknya beragam dalam bahasa Jawa Kuna, seperti ‘haywa’, ‘aywa’, ‘hayo, ayo, aja' belakangan berubah menjadi ‘ojo’ dalam bahasa Jawa Modern. Secara definitif ‘aywawera’ dapat berarti (engkau) janganlah membuka rahasia, jangan lalai, janganlah ceroboh, dlsb. ‘don’t divulge if (boleh dibubuhi tanda seru (!) di akhir).

Bentuk yang beragam di atas menunjukkan bahwa penulisan maupun pelafalan selalu berkembang sesuai keberterimaannya pada suatu ruang dan waktu penanggapan. Selalu ada negosiasi dalam penulisan maupun pelafalan suatu bahasa, termasuk kata ‘aywawera’. Yang terpenting adalah makna yang dipahami sesuai zamannya. Sama halnya dengan kata 'siva' yang dibaca 'siv' dalam bahasa Sansekerta yang kemudian berubah menjadi ‘shiva’, dalam bahasa Jawa Kuna menjadi 'ceiwa', dan dalam bahasa Bali menjadi ‘siwa' yang dibaca siwa — walaupun para filolog tidak henti-hentinya melakukan pengembalian ke bentuk aslinya.

Aywawera, haywa werah, atau ajawera merupakan warning untuk tidak menyebarkan teks-teks rahasia. Disebut “rahasia” karena teks-teks tersebut awalnya hanya dimiliki oleh para brahmana, seperti Buwana Sangksepa, Buwana Kosa, Wrehaspati Tattwa, Sarasamuscaya, Tattwa Jnana, Kandampat, Sajotkranti, Tutur Kamoksan. Jika ditelisik satu per satu, disebut “rahasia” juga karena teks-teks tersebut mengandung pengetahuan bathin mengungkap diri sejati paling dalam, meningkatkan kesadaran setahap demi setahap sampai mencapai ‘kebenaran sejati’ melalui yoga. Pengertian ‘pengetahuan rahasia’ dimaksud adalah tidak dapat diberitahukan kepada orang lain, namun harus ditemukan sendiri. Pengetahuan itu tidak hanya dengan proses membaca atau melalui proses mendengar, namun melalui sadhana spiritual pribadi dengan tuntunan seorang guru.

Belakangan istilah 'aywa-wera' menjadi lazim sebagai semacam ornamen (penghias dengan tujuan estetis untuk menciptakan kesan menakutkan) yang disematkan pada lontar-lontar berbau mistik, magis, dan esoterik, khususnya di Bali. Ia bahkan menjadi elemen tak terpisahkan dari teks-teks suci keagamaan - menjadi kearifan lokal dalam menjaga tradisi bathin Bali. Sayangnya, ia juga berkembang menjadi semacam instrumen diskriminatif bagi mereka yang mengaku sebagai kaum brahmana. Begitu juga kepada mantra-mantra pemujaan dengan aksara Modre yang khusus digunakan oleh para brahmana - dalam arti pandita - dalam memimpin suatu upacara. Aywawera menjadi pewanti kepada mereka yang bukan brahmana untuk tidak membaca teks-teks dimaksud. Ia boleh dikatakan sebagai instrumen kekuasaan atas teks-teks penting yang didorong oleh will to power.

Yang menjadi persoalan adalah istilah ‘brahmana'. Kata ini telah sedemikian panjang menyisakan sejarah perdebatan berbau fasisme, konflik antar soroh. Padahal, yang dimaksud sebagai 'brahmana' adalah seorang dwija, yang sudah melalui proses dwijati, lahir untuk kedua kalinya; lahir dari ibu (guru rupaka) dan lahir dari guru pangajian (pendidik). Tahapan yang dilalui tidaklah mudah, yaitu harus melalui tahap-tahap tapa, brata, yoga, dan samadhi dengan tuntunan dan arahan seorang guru brahmana. Dalam dunia pendidikan sekarang, boleh jadi, seseorang disebut 'dwija' adalah mereka yang telah mengenyam pendidikan sesuai bidangnya sampai tuntas, telah mencapai gelar Doktor. Yang dimaksud adalah doktor sebenarnya, bukan dok-tor-doktoran sebatas gelar atau bukan dwijati-dwijatian sebatas merek promosi dagangan! Yang dimaksud adalah mereka yang teruji dan memperoleh upacara pawintenan (disucikan) menjadi guru jagat, penerang segala kegelapan, pewacana kebenaran sejati. Pengertian ‘guru’ tidak hanya berwujud manusia, namun segala yang dapat mendidik dan menuntun ke arah kebenaran sejati itu.

Boleh jadi, sekarang segala teks ‘keagamaan Hindu’ telah disematkan pewanti 'aywawera'. Ancamannya tidak main-main, orang yang sembarangan membaca dikatakan dapat menjadi gila, sakit-sakitan, kadewan-dewan, dlsb. Gila dimaksud adalah berhenti pada suatu kebenaran monolitik, menggilai, tiada hirau dengan ‘yang lain’, sampai mengalami mental disorder. Orang seperti ini selalu menganggap orang lain salah, ini salah itu salah, menertawai kesalahan orang lain, sakit, padahal dirinya yang sakit. Ia menjadi angkuh, sombong, menyombongkan ‘dewa’ yang ia pahami sendiri. Ia berhenti pada suatu ruang dan waktu, seperti para veteran yang selalu menganggap perang masih berkecamuk, selalu siap membunuh musuh. Egonya tak ketulungan. Sampai akhirnya, ia hidup di masa lalu tanpa pemah beranjak ke masa kini, apalagi ke masa depan. Ia bagai Bhisma yang akhirnya dihujam ratusan panah ‘pikiran yang lain’ dari segala arah, tanpa segera mengalami meninggalkan tubuhnya, dunianya, keagungannya itu.

Aywawera
merupakan warning untuk tak menyebarkan teks rahasia yang awalnya hanya dimiliki para brahmana: Buwana Sangksepa, Buwana Kosa, dll.
“Rahasia ” karena teks-teks tersebut mengandung pengetahuan bathin mengungkap diri sejati, sampai mencapai ‘kebenaran sejati ’ melalui yoga.

Apakah teks-teks suci hanya untuk orang suci? Ya! Kata ‘suci’ artinya bebas dari segala 'leteh', kekotoran, keburukan - bukan suci karena disucikan dengan suatu ritual semata - tapi suci sebenarnya. ‘Suci’ juga berarti bebas dari segala prasangka, dogma-dogma, segala persepsi, segala anggapan. Ia yang telah bebas dari semua itu bahkan harus siap bebas dari tubuh, dunianya; siap dengan kematian, karena hanya kematianlah masa depan yang pasti bagi kelahiran.

Ia yang bebas dari semua itulah yang dimaksud sebagai orang dwijati. Bagai bayi baru lahir, bersih, tanpa sehelai ‘pakaian’ pun tersemat, tanpa pengaruh apapun, dan tanpa pikiran. Ia bagai Pariksitmati dan hidup kembali dalam kandungan - yang menjadi raja di raja setelah perang Mahabharata. Segala yang dilihatnya ‘baru’, segala teks dibaca dengan tanpa prasangka; menerima apapun yang diungkapkan teks. Ia bebas dari aywawera, bebas dari segala keributan pikiran menuju rahasia, ruang bathin, ruang rohani. Pada akhirnya ia pun melampaui teks, lepas dari teks, bahasa, kemeruangan, kemewaktuan, kemenubuhan, dan kemenduniaan, bahkan bebas dari kematian apalagi kehidupan. Rahayu!

Oleh: W.A Sindhu Gitananda
Source: Majalah Wartam, Edisi 33, November 2017