"Astungkara" Semoga Terjadi Atas Ijin Hyang Widhi

Astungkara bukan sekedar kata namun doa untuk bangkit dan sadar di jalan darma bahwa Hyang Widhi selalu hadir memendarkan cahaya sucinya untuk melindungi dan memberikan waranugraha. Astungkara populer dan melekat di hati umat Hindu yang berdimensi sosial sebagai ucapan sesama juga berdimensi religius mengandung doa permohonan dan harapan. Dalam agama lain di Nusantara di kenal alhamdulillah (segala puji bagi Allah), amin (terimalah; kabulkanlah; demikianlah hendaknya), puji Tuhan dalam agama Islam dan kristen, kreatifitas pergaulan multi agama, multi kultural yang terjadi di masyarakat menyebabkan adanya pencarian identitas untuk memperjelas jati diri sebagai Hindu dengan mengucapkan astungkara. Terjadi kesepakatan tidak tertulis diantara para pengguna "astungkara" walaupun memiliki pemahaman makna yang belum tentu sama.

Astungkara termuat dalam Atarwa Veda (9.4), Zoemulder, Kamus Jawa Kuna, kata astu artinya semoga terjadi. Dalam kamus sansekerta astungkara artinya 'orang yang mengatakan "astu" Dalam kamus sansekerta astungkara berarti memuji, berdoa; astuti artinya memuji, berdoa, terpuji. Astungkara berasal dari dua kata yaitu astu dan kara. Astu berarti jadilah begitu, baiklah, baik (menyiratkan izin, biarlah menjadi begitu, harus ada atau harus). Sedangkan kara berarti melakukan, menyebabkan, pembuat, memproduksi, yang menyebabkan sesuatu atau juga salam.

Astungkara termuat dalam sastra agung weda, ada tiga kata kunci dalam memahami astungkara yaitu:

1. Astu yang sudah sangat umum di gunakan, misalnya awignamastu, swastyastu, dirgayurastu, tatastu swaha dan sebagainya. Kalimat astu banyak pula terdapat dalam mantra Veda, salah satunya berbunyi demikian:

agnir na etat prati grnatu
vidvan brhaspatih pratiy etu prajjnan
indro marutvan suhutm krnotuv
ayaksmam anamivamte astu

Semoga Agni yang bijaksana menerima (persembahan) ini dari kami, sebagaimana yang dilakukan Brehaspati sejak zaman dahulu, Semoga Indra dan Maruts membuat penyembuhkan penyakit. Biarkan (semua ini) tanpa penyakit, semoga anda bebas dari penyakit. (Atharwa Veda 5.28.7)

2. Kara berarti melakukan, menyebabkan, pembuat, memproduksi, yang menyebabkan sesuatu atau juga salam, misalnya: namaskara atau anjali (salam dengan sikap mencakupkan kedua telapak tangan); karasodhana (membersihkan tangan).

3. Jika astu dan kara digabung seharusnya astukara, namun mendapat sisipan "ng" menjadi astungkara (pengaruh dialek daerah Bali. Dengan demikian maka astungkara dapat diterjemahkan sebagai terjadilah begitu, biarlah menjadi demikian atas seizin atau kehendak sang penyebab (Tuhan) atau merupakan salam yang menyatakan semoga demikian atau mengiyakan, atau dengan kata lain semoga (astu) terjadi atas kekuatan tangan (kara).

Astungkara lebih jauh menga-jak kita untuk mengenal kekuatan tangan, karena secara harfiah semoga dengan kekuatan tangan terjadi. Hal ini nampaknya bukanlah anggapan secara kebetulan belaka, oleh karena tangan memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Maka tidaklah mengherankan jika garis tangan ditelapak tangan turut menentukan nasib seseorang, baik jodoh, pekerjaan maupun rejeki. Tentang kekuatan tangan terdapat dalam kutipan stotra Kara Darshanam berikut:

Om Karagre Vasate Lakshmi
Karamadhye Saraswati
Karamule Sthitha Gowri
Prabhate Kara Darshanam

Terjemahan:
Lakshmi diujungjari, Saraswati di telapak tangan, Shakti terletak di pergelangan tangan, demikian keutamaan melakukan Kara Darshanam dipagi hari. "Karamule Sthitha Gowri" kadang-kadang diganti dengan "Karamule Tu Govinda"

Lakshmi merupakan kekuatan atau sakti Wisnu sebagai pemelihara dengan lambang aksara Ung, Saraswati merupakan kekuatan atau sakti Brahma sebagai pemelihara dengan lambang aksara Ang, Gowri/Durga merupakan kekuatan atau sakti Siwa sebagai pelebur dengan lambang aksara Mang. Sehingga tangan memiliki daya mencipta, daya memelihara dan daya melebur yang merupakan esensi hukum rta dijagat raya. Namun pada saat tertentu misalnya mencakupkan tangan (anjali) aksara Ang Ung Mang berubah menjadi dwi aksara yaitu Ang (tangan kiri lambang prakerti) Ah (tangan kanan lambang purusha), penyatuan Ang-Ah melahirkan eka aksara yaitu Om.

Hal ini sejalan dengan apa yang dilakukan para pandita yang ada di Bali, dengan menggunakan berbagai sikap mudra yang lebih dikenal dengan "tetanganan" melakukan pemujaan dengan sikap tangan tertentu yang pada intinya mengandung lambang proses utpetti, stiti dan pralina. Dimana mudra bukan hanya bentuk gerakan tangan biasa namun juga mengandung nilai magis religius, shingga tidak diperkenankan dilakukan oleh sembarang orang.

Dengan demikian maka astungkara merupakan menjadi mutiara dharma bagi pengabdi sanatana dharma untuk semakin kuatnya srdha dan bhakti Hyang Widhi dalam harmoni dengan sesama. Menjadi senjata bagi kita umat Hindu bahwa astungkara semoga terjadi demikian atas kehendak Tuhan. Kita yakin bahwa ada yang berperan sebagai sutradara atas kehidupan ini yaitu Bhatara Siwa, untuk itu kita harus menyadari bahwa utpeti, sthiti dan pralina dari Bharata Siwa (metu Una saking Bhatara Siwa). Oleh karenanya hidup adalah wayang, dengan membuka kesadaran, (tutur, eling, atanghi) bahwa Hyang Widhi Wasa sebagai Hyang Titah dan Tuduh (kuasa) atas segala.

Oleh: I Gede Adnyana, S.Ag
Source: Wartam, Edisi 20, Oktober 2016