Artha

Artha merupakan milik, artha benda, kekayaan, segala material sebagai sadhana bagi umat Hindu. Artha juga diartikan tujuan. Cara mendapatkan artha adalah dengan cara kebaikan berlandaskan dharma dan sukerta, dengan cara bekerja yang ulet, bekerja yang rajin, bekerja sebagai buruh, bekerja sebagai pegawai negeri sipil maupun sebagai pegawai swasta, dengan cara berjualan/berdagang, dengan cara mohon bantuan kepada yang iklas membantu dan sebagainya. Namun ada juga cara mendapatkan artha dengan cara kejahatan yang berlandaskan adharma atau duskerta, seperti dengan merampok, mencuri, menadah, memirat, menipu (dengan alasan meminjam secara baik-baik dengan perkataan yang lembut tetapi tidak kunjung dikembalikan walaupun telah diminta berkali-kali), ada juga yang berpura-pura sebagai dagang, tetapi itu hanya sebagai kedok saja, karena hanya mencari kesempatan yang selebar-lebarnya untuk berkarma asusila di sana-sini, melakukan pekerjaan yang dilarang agama Hindu seperti melakukan alasan bekerja saat malam-malam padahal yang dikerjakan adalah pekerjaan gelap yang tergolong asusila demi untuk mendapatkan rejeki, atau yang sejenisnya yang dilarang dalam ajaran agama Hindu.

Adapun manfaat artha atau kekayaan adalah disumbangkan, dimanfaatkan atau musnah. Artha yang musnah maksudnya adalah kekayaan yang secara otomatis tidak bisa dinikmati lagi, baik olrh yang mencarinya maupun oleh generasinya. Seseorang tidak menyumbangkan kekayaan atau diman-faatkan untuk diri sendiri dan keluarga, kekayaan tersebut akan mencapai tujuan yang ketiga yaitu musnah. "Danam bhogo asastistro gatayo bhavanti vittasya, yo na dadati na bhunkte tasya tritiya gatirbhawati". Bila artha terkait dengan ajaran catur purusa artha, bahwa artha atau kekayaan, uang, material, benda milik itu hendaknya diperoleh atas dasar dharma (kebaikan atau kemuliaan). Artha merupakan tujuan hidup semua umat manusia.

Artha sebagai sadhana atau alat menuju kepada tujuan hidup yang terakhir. Artha hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk keperluan diri, keluarga, disumbangkan serta untuk dipersembahkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atau lda Sang Hyang Widhi Wasa. Dasar agama Hindu untuk mencapai tujuan hidup adalah hendaknya selalu menegakkan ajaran agama Hindu yaitu dharma (kebaikan dan kebenaran). Selain itu raihlah artha sesuai karma yang baik yang dinamai sukarma atau subha karma. Pada intinya yang diajarkan dalam agama Hindu bahwa segenap umat Hindu agar bekerja dengan tekun, uler, rajin, bekerja dengan pantang menyerah {satatam karmani), serta bekerja dengan motif untuk mencapai kebebasan atau kemuliaan hidup dengan cara bekerja yang uler (bahu karma).

Wujud artha dalam pandangan agama Hindu yakni artha dalam bentuk benda atau material serta artha dalam bentuk nonmaterial atau kekayaan spiritual. Artha material yang bersifat keduniawian seperti : uang rumah, benda-benda, pusaka, benda berharga, benda perhiasan, kekayaan dalam bentuk konsumtif maupun yang lainnya yang dinamai drawya dana. Sedangkan artha yang bersifat rohani atau spiritual adalah segala pikiran mulia, pikiran suci, pikiran tenang, pikiran damai, pikiran harmonis, serta pikiran yang berlandaskan dharma untuk mendapatkan kekayaan rohani sebagai bekal sejati menuju alam niskala atau svarga. Kekayaan rohani sesungguhnya artha uttama yang dibawa sebagai karma wasana ke alam sizvaloka.

Sebagaimana dijelaskan dalam "prihen temen dharma dumaranang sarat, saraga sang sadhu sireka tutana, tan artha tan kama pidonya tan yasa, ya sakti sang sajjana dharma raksaka". Maknanya bahwa umat manusia hendaknya selalu mengutamakan kebenaran itu sendiri, hendaknya orang berlaku mulia dan baik selalu dijadikan teladan, bukan kekayaan, kesenangan, cinta kasih, dan juga bukan karena jasa, namun demikian bagi orang mulia memiliki keutamaan hidup hanyalah ada pada orang yang selalu menegakkan dharma atau ajaran agama Hindu. Dalam menumbuhkembangkan jiwa sosial serta hidup bersama dalam masyarakat, maka umat Hindu yang memiliki artha hendaknya: 1) gemar berdana punya; 2) gemar memberikan pertolongan kepada fakir miskin (dena Janman daridra); 3) gemar dalam memajukan pendidikan dengan cara memberikan beasiswa (siksaca catrawerti); 4) gemar membantu umat untuk keperluan membangun tempat suci atau pura, dan sebagainya.

Source: I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 495 Maret 2008