Api Merapi dan Pembangunan Peradaban

Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta mendapat perhatian kita semua. Meletusnya gunung teraktif di dunia itu dianggap sebagai bencana besar bagi daerah di kakinya, sekaligus membangung sebuah renungan: Rencana apa yang hendak dilakukan Sang Pencipta atas kehidupan manusia. Api Merapi berkobar, bersamaan dengan itu semangat kemanusiaanpun menyala, sekaligus semangat membangun kembali peradaban di kaki Merapi.

Entah berapa kali sudah Gunung Merapi meletus dan memporak-porandakan kehidupan yang ada di punggung dan kakinya. Berapa juta kubik lahar panas dan dingin telah mengaliri sungai-sungai yang ada di kaki gunung merapi, dan sekaligus telah menenggelamkan berbagai situs yang ada di sana. Bersamaan dengan itu masyarakat tidak pernah berhenti mengembangkan kehidupan, membangun kebudayaan dan peradaban di kaki gunung itu.

Memutar Gunung

Sebuah teks berjudul Tantu Pagelaran menyuratkan tentang kejadian gunung-gunung di pulau Jawa, sekaligus menceritrakan tentang kehadiran para dewa untuk mengajarkan berbagai pengetahuan dan keterampilan kepada manusia. Ada yang mengajarkan ilmu asrsitektur seperti yang dilakukan oleh Wiswamitra, ada yang mengajarkan melukis seperti yang dilkukan oleh Cipta Gupta, Mahadewa mengajarkan keahlian mengolah emas, dan Batari Sri mengajarkan keahlian menenun dan sebagainya.

Kehadiran gunung Sumeru (juga disebut Mahameru) di pulau Jawa memang terangkai dengan usaha membangun kebudayaan dalam peradaban manusia yang tinggi: maka dipengallah puncak gunung Mahameru di Bharatawarsa untuk di bawa ke pulau Jawa yang tengah gonjang-ganjing. Di suatu tempat yang terpilih puncak gunung yang teramat tinggi itu diletakkan, lalu di putar oleh para Dewa, Raksasa, Pisaca sebagaimana pernah dilakukan terhadap gunung Mandara atau Mahameru dahulu. Pemutaran gunung ini memang dimaksukan juga untuk mendapatkan amreta.

Dalam pemutaran yang maha dahsyat itu ternyata ada sejumlah gunung baru yang muncul yang merupakan serpihan dari puncak gunung yang tengah diputar. Disebutkan sebagai berikut :

puncak nira pinalih mangetan, pinutgr kinSmbulan dening dewasa kabeh, runtuh teka sang hyang Mahameru. Kunang tembening lgmah runtuh matemahan gunung Katong, kapingrwaning lgmah matemahang gunung Wilis, kaping tiganing lemah runtuh matemahan gunung Kampud, kaping pating lemah runtuh matemahan gunung Kawi, kaping limaning lgmah runtuh matgmahan gunung Arjuna, kaping ngming lgmah runtuh matemahang gunung Kumukus.

Artinya:
Puncaknya bergerak ke Timur, di putar bersama-sama oleh para Dewata, maka bagian-bagian puncak gunung Mahamerupun runtuh. Tanah yang pertama-tama runtuh menjadi gunung Katong, yang kedua menjadi gunung Wilis, yang ketiga menjadi gunung Kampud, vang keempat gunung Kawi, yang kelima gunung Arjuna dan yang keenam gunung Kumukus). Disamping itu disebutkan juga adanya gunung vang menjadi penyangga gunung Semeru yaitu gunung Brahma yang boleh jadi adalah gunung Bromo sekarang. (Kunang pwa tan apageh sang hyang Mahameru, sumanda ring gunung Brahma sira wekasan, apan wiyakti rubuh sang hyang Mahameru yan tan sumandaha ring gunung Brahma... Tegaklah gunung Mahameru karena disangga oleh gunung Brahma, karena pasti rubuh gunung Mahameru kalau tidak disangga oleh gunung Brahma...)

Demikianlah gunung Semeru, gunung Brahma, gunung Kawi, gunung Arjuna dan yang lain hadir dalam mitologi, tetapi sungguh-sungguh hadir di hadapan kita. Gunung-gunung yang memberi kemakmuran kepada manusia yang mendiami lerengnya, lambungnya dan juga kakinya. Di tempat-tempat yang subur itulah terbangun peradaban dan kebudayaan yang tinggi, kerajaan-kerajaan dengan kulturnya, tumbuhnya arsitektur dan literatur (kesastraan dan kesusastraan) yang menunjukkan ketinggian kualitas manusia. Mpu Kanwa menyebut gunung sebagai "sangkan ikang ayun teka" dari mana kerahayuan itu datang.

Di Kaki Merapi

Di kaki gunung merapi berserakan sejumlah candi baik dari agama Hindu maupun Buddha, dari sejak awal masuknya Hindu di Jawa Tengah. Kerajaan Mataram dikenal dari sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Canggal (Baratdaya Magelang) Prasasti berangka tahun 732 M, ditulis dengan hurup Pallawa digubah dalam bahasa Sanskerta yang sangat indah. Isinya terutama adalah memeperingati didirikannya sebuah lingga untuk memuja Siwa di atas sebuah bukit oleh raja Sanjaya. Prasasti ini menunjukkan bahwa Sanjaya telah mendirikan sebuah kerajaan dan ia adalah pendiri dinasti kerajaan Mataram.

Sesudah Sanjaya muncul sebuah peasati dari keluarga yang lain yaitu dari Sailendra Wamsa. Ternyata antara keluarga Sanjaya dengan Sailendra telah mengadakan kerjasama dalam banyak hal. Pada pertengahan abad ke-9 kedua wamsa itu yang masing-masing beragama Hindu dan Buddha itu bersatu dengan perkawinan Rakaipikatan dengan Pramordawardani. Rakaipikatan diketahui mendirikan kelompok candi Prambanan sedangkan Pramordawardani yang kemudian bergelar Sri Kahulunan mendirikan kelompok candi Buddha. Sri Kahulunan juga meresmikan pemberian tanah dan sawah untuk berlangsungnya pemeliharaan candi Borobudur yang mungkin telah didirikan oleh ayahnya sendiri.

Sampai saat ini kedua candi megah itu masih berdiri dan malah diakui sebagai salah satu keajaiban dunia. Dan candi Borobudur kini masih diselimuti oleh debu gunung Merapi. Jadi di kaki gunung Merapi telah terbangun peradaban besar umat manusia, yang terwariskan sampai saat ini. Nilai-nilai yang ditanamkan dan diakarkan dalam peradaban itu perlu mendapat perhatian dan pendalaman dalam rangka membangun peradaban masa sekarang dan masa datang. Candi-candi batu itu sesunggunya merekam perjalanan kebudayaan dan pemikiran manusia yang mengagungkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, moralitas, keindahan, dan lain-lain, tanda ketinggian kualitas manusia.

Gunung dan Pemimpin

Disamping candi-candi batu kaki gunung Merapi atau Jawa Tengah juga mewariskan candi pustaka kakawin Ramayana. Karya sastra yang satu ini adalah karya sastra terbesar, terindah dan terunggul dalam jenisnya. Kepada karya sastra Jawa Tengah ini pujian tinggi diberikan. Mulai dari keindahan bahasanya sampai dengan keindahan isinya. Dalam karya sastra inilah kita menemui ajaran kepemimpinan yang begitu dikenal dengan istilah Asta Brata, yang merupakan nasehat sang Rama kepada Wibisana. Kali ini  kita  akan mencatat nasehat sang Rama kepada sang Bharata sebelum ia meninggalkan kerajaan, sebelum sang Bharata menggantikan menjadi raja :

Gunung ya ta padanta bhupati ikang prajangken dukut/ paruti gunadosa ning ngulahika matang-nyang suka/ ikang prawara pora warga wana tulya yangkSn alas/ kitekana ta singha raksaka dumeh nya sobhan katon// (Gunung itulah samanya adinda sebagai raja, rakyat bagaikan rumput/ tegaskan salah dan benar perilakunya, sehingga menyebabkan mereka senang/ warga negara yang terkemuka bagaikan hutan/ dan adinda bagaikan singa, menjaga dan melindunginya sehingga tampak indah).

Di sini ditegaskan bahwa seorang pemimpin adalah bagaikan gunung yang teguh dan memberikan kemakmuran kepada rakyatnya yang mendiami lerengnya punggung, lambung, maupun kakinya. Diantara para pemimpin raja bagaikan seekor singa yang menjaga hutan, sehingga hutan tetap lestari. Jadi gunung, hutan, singa menjadi renungan bagi seorang pemimpin.

Disamping itu Sri Rama juga menjelaskan bahwa ada lima hal yang benar-benar merupakan bahaya bagi rakyat yang harus dibinasakan oleh para pemimpin. Kelima hal tersebut adalah : Utusan sang raja yang datang ke desa-desa menyakiti rakyat; pencuri dan koruptor yang banyak berkeliaran; juga para penjahat yang lain; anak emas atau kesayangan yang tergolong jahat; dan terakhir adalah ketamakan sang raja sendiri.

Oleh karena itu Sri Rama sangat menekankan kepada adiknya untuk memperhatikan rakyatnya. Sang pemimpin juga harus memperhatikan orang-orang yang bijaksana, orang-orang yang memiliki keahlian dan setia bakti kepada negeri. Seorang pemimpin hendaknya juga menghindari perbuatan mencelakakan  orang lain, tidak pemarah dan tidak senang dipuji. Akhirnya Sri Rama sangat menekankan supaya Sang Bharat menegakkan hukum (Sawuwus ikanang sasana tinut).

Apa yang disuratkan di dalam candi pustaka ini tentu tetap relevan dewasa ini. Inilah nilai-nilai yang disuratkan di kaki gunung Merapi, oleh seroang pujangga besar dikenal sebagai sang Yogiswara. Merapi menjadi saksi abadi bagaimana kreatifitas orang-orang yang sempat mendiami lereng, punggung maupun kakinya dalam rangka bergumul dengan pemikiran dan kehidupan, bersamaan dengan itu dalam rangka memahami hakikat api Merapi itu sendiri. Ketika marah gunung Merapi bagaikan Dewa Rudra, dan ketika tenang penuh rasa damai gunung Merapi bagaikan Dewa Siwa. Merapi memang penuh misteri.

Oleh: Ki Dharma Tanaya
Source: Warta Hindu Dharma NO. 527 Nopember 2010