Apa Itu Meditasi Eling Lan Waspada?

There is no distinction between subject and object. The world and the pairs ofopposites
vanish absolutely. This is a state beyond all relativity -
though it is not a state of inertia. It is a condition of complete, perfect
awareness. It is indescribable,
It must be felt and experienced by the aspirant himsel
In this state the triad - the knower, known and knowable - disappears

~ Sri Sivami Sivananda Saraszvati ~

Pertama-tama Kita Harus Eling

Pertama-tama kita harus 'sadar', harus eling. Dari sinilah kita memulainya; memulai semuanya. Sadar disini bisa diibaratkan dengan bangun tidur, ia juga bisa diibaratkan dengan terbitnya sang surya. Kita mengawali segala aktivitas keseharian kita, sejak bangun tidur. Terbitnya matahari berarti dimulainya hari; terbitnya matahari juga berarti dunia mulai terang; kegelapan malam dan kegelapan tidur serta buaian mimpi-mimpi telah usai.

Mengawali segala sesuatunya dalam sadar juga berarti mengawalinya dalam terang, dalam kejelasan, dengan jernih, jujur, tulus, dan dengan polos. Ini sangat sedikit orang yang mengawali melakukan sesuatu dengan 'sadar' -seperti yang kita maksudkan ini. Kebanyakan dari kita mengawali segala sesuatunya dengan maksud, dengan motif, dengan niatan-niatan untuk memperoleh sesuatu, dengan pamerih. Seorang pebisnis misalnya, mengawali setiap tindakannya dengan pamerih bisa meraup keuntungan yang sebesar-besarnya; seorang penjudi mengawali setiap tindakannya dengan pamerih memenangkan taruhan dalam jumlah besar.

Seorang prajurit di medan perang memulai hari-harinya dengan motif memenangkan setiap pertempuran, yang juga berarti mengalahkan semua musuh-musuhnya. Teramat sangat sedikit di antara kita yang mengawalinya dengan 'sadar'. Oleh karenanyalah kita jadi tabrak-sana-tabrak-sini, serempet-kanan-serempet-kiri, senggol-kanan-senggol-kiri.

Bila kita 'sadar', dan mengawali segala sesuatunya dengan 'sadar', akan kecil sekali kemungkinannya mengalami 'kecelakaan'. Kesadaran itulah yang akan membimbing kita, menerangi setiap langkah kita, melapangkan jalan yang kita lalui. Mari kita awali setiap langkah kita dengan eling!

Mengapa Keclingan Sedemikian Pentingnya?

Berikut adalah tanya-jawab yang membicarakan tentang seputar signifikansi dari keelingan.

Mengapa Keelingan sedemikian pentingnya di dalam hidup ini?
Tidak eling sama dengan mati; sama dengan tidak ada. Benda mati tidak punya keelingan sama sekali. Tanpa keelingan bahkan si aku-pun tidak ada. Eling itulah hidup, eling itulah seluruh keberadaan kita.

Eling seringkali dikaitkan dengan waspada; ada ungkapan 'eling dan waspada misalnya. Disini  apa  yang  mesti diiwaspadai?
Kecendrungan 'tidak eling'. Dan kecendrungan ini sangat kuat. Inilah yang perlu diwaspadai.

Mengapa ada kecendrungan 'tidak eling' ini pada kita, padahal kita nyata-nyata hidup - dimana dikatakan bahwa 'tidak eling' itu sama dengan mati?
Penyebab utamanya adalah rena kita berjasad materi vang 'tidak eling'. Tubuh ini terbuat dari elemen-elemen dasar materi, dan dia kepunvaan alam materi ini. Kita mengenakaruwa, dan oleh karenanya pengaruhnya sangat kuat pada diri ini.

Tidaklah keelingan itu sendiri juga merupakan hasil dari reaksi atau sintesa -yang sedemikian rumitnya - dari bentuk-dentuk materi?
Tidak. Keelingan 'bukan hasil'. Ia ada, Seperti juga keberadaan itu sendiri. Kalau keelingan merupakan hasil dari reaksi atau sintesa dari bentuk-bentuk materi, maka tumbuhan dan khewan-pun punya 'derajat keelingan' yang sama dengan manusia. Nyatanya tidak bukan?

Derajat keelingan'... ini istilah yang relatif baru lagi buat saya. Apa yang dimaksudkan dengan 'derajat keelingan' ini?
Inilah yang membedakan martabat makhluk hidup yang satu dengan yang lainnya; inilah yang membedakan antara manusia dengan binatang, binatang dengan tumbuhan, tumbuhan dengan mineral atau benda mati, atau manusia dengan dewa atau malaekat. Anda tak mau dipersamakan begitu saja - jangankan dengan tumbuhan - dengan khewan, karena Anda bermartabat manusia. Setidak-tidaknya Anda 'merasa' demkian bukan?

Kalau manusia punya 'derajat keelingan' yang tidak sama dengan khewan ataupun tumbuhan, apakah semua manusia punya 'derajat keelingan' yang sama?
Pada dasarnya ya. Tapi tidak sama, melainkan setara. Pada dasarnya manusia punya 'derajat keelingan' yang setara. Oleh karenanyalah Anda dan saya punya perhatian yang besar terhadap masalah ini. Bila tidak, Anda tak akan peduli soal ini. [keduanya tertawa]

Baiklah..........., Tetapi, secara faktual, mengapa masing-masing mengekpresikan 'derajat keelingan' yang berbeda-beda, bertingkat-tingkat, berkelas-kelas; bahkan pada sementara orang tampak sedemikian rendahnya hingga mendekati binatang?
Itulah bukti dari sedemikian besarnya pengaruh jasad yang kita kenakan ini. Pengaruh dari alam material terhadap diri manusia. Semakin besar pengaruh jasad pada diri seseorang, semakin rendah pula 'derajat keelingan'-nya. Inilah yang harus-diwaspadai.

Baiklah .... sekian dulu bincang-bincang kita soal ini. Camkanlah itu baik-baik, sebelum kita lanjutkan lebih jauh lagi dalam sesi berikutnya. Jalanilah kehidupan Anda dalam 'eling dan waspada' selalu!

Jangan Cepat-cepat 'Merasa Sudah' Eling!

Alkohol atau Narkoba boleh jadi merupakan substansi memabukkan, namun dalam penggunaan yang proporsional ia juga berfungsi sebagai obat. Kita tahu kalau banyak sekali hal-hal dalam kehidupan ini yang berpotensi memabukkan, yang bisa membuat kita lupa-diri, hilang-ingatàn, atau sejenisnya. Namun, apabila seseorang bisa mengambil 'jarak-aman' terhadapnya, yang tidak berarti menjauhinya atau tidak mau menggu¬nakannya sama-sekali, mereka malah bisa memberi banyak manfaat. Demikian pula sebaliknya.

Yang eling, bukan saja tidak mabuk, akan tetapi juga tidak akan membiarkan dirinya dimabukkan oleh apapun, kendati dikelilingi oleh berbagai hal atau substansi yang memabukkan. Yang eling tahu persis seberapa ia mesti menetapkan 'jarak-aman' terhadap semua itu, karena ia juga akan dibekali dengan kearifan. Keelingannya itulah yang membawa-serta kearifan itu.

Ia yang sudah benar-benar eling bisa saja tampak bermain-main dengan berbagai hal yang memabukkan itu, balikan menggunakannya secara sangat bermanfaat, menggunakannya untuk 'menyembuhkan' banyak orang misalnya, akan tetapi, bila kita belum yakin kalau kita sudah benar-benar eling, akan sangat arif untuk menjauhi substansi ataupun hal-hal yang berpotensi memabukkan itu. Jangan coba-coba bermain dengan mereka. Jangan ikut-ikutan. Jangan pula cepat-cepat 'merasa sudah' eling! Ini, pada gilirannya, akan memberi kita kemampuan untuk menetapkan 'jarak aman' itu.

Langsung Mengembalikan Kepada 'Yang Eling' itu

Kegelisahan kegundahan, kejemuan, kebosanan, kejenuhan dan uring-uringan bagi kita yang biasa sibuk yang umumnya disebut-sebut sebagai ciri dari 'manusia moderen' itu - seolah-olah tiada terhindari. Setidak-tidaknya, sekali kita pernah mengalaminya. Kondisi mental seperti itu tentu sangat tidak mengenakkan. Ia membuat kita tidak fokus, merasa tidak betah.

Tapi, bila kita "sadar mengapa" kita gundah, bisa jadi kegundahan itu malah sirna. "Sadar mengapa" gundah bukanlah sekedar sadar kalau kita sedang gundah, atau sekedar tahu kalau kita mengalami kegundahan. Sekedar sadar ataupun sekedar tahu kalau gundah tidak menghilangkan kegundahan itu.

"Sadar mengapa" bukanlah manuver intelek. Intelek tidak menyirnakan kegundahan dan membual semakin gundah. "Sadar mengapa" langsung mengembalikan Anda kepada 'yang eling' itu. Itulah Anda.

Menyokong Penempatan Sebagai 'Yang Sudah Eling'

Manakala mencermati soal 'si aku', kita mesti sadar kalau 'si aku' punya dua peran-utama yang senantiasa melekat, menyatu dengan keberadaannya yakni : sebagai subjek (the I) dan sebagai objek (the me). Bila tidak, kita cenderung dibingungkannya. 'Aku-subjektif bersifat agresif, aktif dan sebagainya, layaknya semua subjek; sedangkan, layaknya semua objek, 'aku-objektif bersifat agresif, aktif dan sebagainya, layaknya semua subjek; sedangkan, layaknya semua objek, 'aku-objektif bersifat defensif, pasif dan sebagainya.

Hanya dengan bermodalkan kesadaran atas fakta inilah, kita bisa mencermatinya secara lebih lengkap dan menyeluruh. Sekarang ini misalnya, saat kita mencoba mencermatinya ini, kita memposisikan-diri sebagai si aku-subjektif yang sedang mencermati si aku-subjektif. Kita butuh 'jarak imajiner' tertentu agar bisa mengamatinya dengan seksama. Dimana 'jarak imajiner' itu tiada lain dari perbedaan peran dari si aku yang notabene sama. (Selanjutnya)

Oleh : Anatta Gotama

Source : Warta Hindu Dharma NO. 513 September 2009