Angsa Putih Nan Bijak

Meragukan itu alami sifatnya Setiap orang mengawalinya dengan peraguan.
Anda bisa belajar banyak darinya. Yang penting adalah,
Anda tidak mengidentifikasikan-diri Anda dengan keragu-raguan Anda itu.
Yang adalah, tidak terjebak di dalamnya
- Ajahn Chah -

Dalam ikonografi Hindu, Dewi Saraswati, Dewi S Pengetahuan Suci nan Sejati, digambarkan berwahanakan angsa. Angsa adalah unggas yang kendati mengais makanannya di lumpur, namun bulu-bulunya yang putih tetap bersih dan tidak memakan lumpur, konon ia bisa memisahkan antara lumpur dengan susu, memisahkan lumpurnya dan hanya meminum susunya.

Angsa adalah simbul daya pemilah-milah antara maya dengan sunyata. Angsa adalah simbol viveka, ia juga dianggap sebagai simbol dari kebijaksanaan ilahi. Inilah yang mewahanai pengetahuan Suci, Jnana. Yang merupakan kendaraan dari Sang Dewi Pujaan setiap jnana-yogi di jalan pengetahuan suci.

Disebutkan juga kalau Sang Dewi adalah shakti dari Brahma, Maha Pencipta itu. Penciptaan maupun, kalau tanpa lahir Pengetahuan Suci, alih-alih melahirkan kebaikan bagi semesta, malah hanya mengantar ke jurang kehancuran bukan?

Urgennya Kemampuan Memilah-milah

Agaknya setiap orang punya sesuatu yang paling digandrunginya, melebihi yang lainnya. Dimana, bila ia dihadapkan pada suatu situasi memilih, maka ia akan cenderung lebih memilih yang digandrunginya. Bagi kebanyakan dari kita, kecendrungan-yang juga bermakna keberpihakan - itu seakan-akan berjalan seiring kegandrungan. Akan tetapi, apakah memang hal begitu? Haruskah kita selalu cenderung memilih yang kita gandrungi, kendati itu tidak baik, merusak misalnya-dimana dalam banyak kesempatan kita akan memilih yang menyenangkan dan bukannya yang baik?

Mungkin, kecuali hidup di suatu negara yang menganut ideologi tertentu, kita memang punya cukup kebebasan didalam memilih dan tidak ada aturan umum yang melarang orang untuk memilih yang menyenangkan, yang dirasa menguntungkan baginya, atau yang telah merupakan tradisi turun-temurun yang tabu buat dirubah, atau tidak ada aturan umum yang melarang orang bersenang-senang. Namun apakah kita akan menggunakan kebebasan itu sedemikian rupa, dengan tanpa memperdulikan apakah itu merugikan-baik diri sendiri, lingkungan alam maupun lingkungan sosial, baik secara meteriil maupun secara moril atau tidak?

Disinilah sebetulnya kita dihadapan pada fakta akan betapa urgennya viveka kemampuan memilah-milah, yang akan menyertai kebebasan memilih. Dan urgensinya kitab jelas belakangan ini.

Menilai dan Menimbang

Kita mengenal beberapa aktivitas mental lain, selain berfikir, seperti: menilai, menimbang, merenung dan yang lainnya. Kita pun tahu kalau berfikir sendiri, kendati penyelenggara utamanya adalah di pikiran, bukanlah semata-mata kerja dari di pikiran secara mandiri, secara independen. Berpikir juga melibatkan persepsi, perasaan, ingatan atau kesan-kesan mental, bahkan kecerdasan atau nalar.

Nah......sekarang bagaimana dengan meniai dan menimbang? Spakah menilai dengan berpikir? Atau, seberapa besarkah peran pikiran di dalam menilai ataupun menimbang?

Berpikir dan menilai memang sama-sama aktivitas mental, tapi mereka tidak penis sama. Kalau dalam berpikir - Penyelenggaraan utamanya adalah pikiran, dimanan kerja si pikiran mendominasi khasanah mental kita, maka di dalam menilai ia tak lagi sedominan itu. Disini, porsi kerja perasaan, ingatan dan kesan-kesan mental serta kecerdasan jauh lebih besar. Menilai lebih merupakan kerja dari kecerdasan; kecerdasan yang bertindak sebagai penyelenggara utamanya, dimana porsinya kian meningkat di dalam menimbang. Jadi ada perbedaan mendasar antara berfikir dan menilai, dalam hal penyelenggara utamanya. Semakin besar porsi peran kecerdasan, dan semakin kecil peran pikiran-perasaan di dalam menilai, semakin baik pula hasil penilaian itu.

Menimbang sudah merupakan proses yang lebih maju, lebih matang. Menimang bisa dianggap sebagai kelanjutan dari menilai. Walaupun dalam menimbang masih terjadi pembandingan, di dalamnya sudah mulai terlibat fungsi 'rasa'-yang bukan perasaan atau emosi - dan 'hati'. Oleh karenanya, kalau hasil dari kerja menilai-terasa 'kering', maka hasil dari kerja menimbang sudah 'menyentuh' sisi-sisi humanistik kita, mencerminkan kearifan.

Begitulah gambaran kasarnya. Namun betapapun juga, mengingat sedemikian kompleknyasnya aktivitas-aktivitas mental ini, dimanan semuanya terjadi di dalam, di 'jembatan' tataran mental, untuk bisa melihatnya secara langsung kejadian yang sebenarnya, mau-tak-mau keita mesti masuk ke dalam dan mampu menyelam hingga ke dalam tertentu dengan tidak mengidentifikasikandiri baik pada kecerdasan, apalagi pikiran-perasaan-dan hanya bertindak sebagai 'asksi bisu'. Dan ini merupakan meditasi tersendiri.

Menimbang dan Memilah-milah

Kemampuan memilah-milah sangat diperlukan di dalam menimbang, sebelum dikeluarkannya sebentuk keputusan, apakah yang bersifat resolusi maupun solusi. Dapat dikatakan bahwa, kemampuan memilah-milah inilah perangkat utama yang digunakan untuk menimbang-nimbang. Untuk kedua kemampuan mental dan intelektual dari para bijak ini, di Bali dikenalkan setidak-tidaknya 3 istilah terkait yakni : pangelokika, pangiviweka dan pangunadika.

Pangelokika kurang-lebih berarti: daya rasioanal atau kemampuan penggunaan nalar-logis. Pangiviweka berarti kemampuan menggunakan viveka atau daya memilah-milah atau kemampuan membedakan antara yang sejati dengan yang semu, antara sunyata dengan maya. Dan pangunadika berarti kemampuan membedakan antara yang baik dengan yang tidak baik, yang benar dengan yang salah atau yang keliru, yang pantas dengan yang tak pantas, yang patut dengan yang tak patut.

Mereka inilah yang paling sering dikecualikan di dalam penggunaan sehari-hari baik secara verbal maupun literal. Pengunadika seringkah teramah dikecualikan penggunaannya dengan pangwiweka, saking sedemikian berdekatan artinya. Bedanya pada 'kehalusan'-nya. Untuk hal-hal yang bersifat hakekat, yang berkaitan dengan kesujatian, dengan satya-dharma, maka pangwiveka-lah yang paling pas untuk digunakan. Sedangkan, untuk yang bersifat duniawi, sekuler, berkaitan dengan hukum dan tata aturan dunia atau vyavaharika-dharma, maka pangunadika-lah yang paling tepat.

Kita tahu kalau pangwiweka berkata-dasar viveka yang berasal dari bahasa Sanskrit, yang bahkan seringkah dipadankan dengan kebijaksanaan. Jadi ia bukan sembarang kemampuan. Ia berkaitan erat dengan pengetahuan (jnana) -yang bukan sekedar vidya -yang merupakan sumber dari kebijaksanaan halus (prajna), yang jelas tidak dimiliki oleh sembarang orang. Kemampuan serupa umumnya hanya dipunyai oleh seorang yogi, atau setidak-tidaknya seorang sadhaka yang telah maju. ia lebih merupakan kerja-instuisi ketimbang kerja-intelek.

Sri Swami Vivekananda misalnya, bisa kita jadikan contoh dari sosok yang telah punya kemampuan ini. Kitab Viveka-Chudamani karya Adi Sankara juga dapat digunakan sebagai contoh lain di dalam penggunaannya. Viveka merupakan salah satu prabot utama bagi seorang jnana di dalam menggapai kemahardikaan, disamping Vairagya Shad-Sampat dan Mumukshutva.

Memilah-milah bukan Mwmbeda-bedakan

Memilah-milah tidak sama dengan membeda-bedakan. Kedua prilaku mental ini sangat sering dikacaukan orang. Kenapa? pada keduanya bekerja-apa yang disebut dengan daya-pembeda. Namun, tidak seperti pada membeda-beadakan dimana di dalamnya ada juga pilih kasih sehubungan dengan kehadiran dari rasa suka-tak-suka, di dalam memilah-milah rasa suka-tak-suka itu tidak hadir dan oleh kerenanya tak ada pilih-kasih, sikap tak adil itu.

Saking halus dan dalamnya perbedaan antara memilah-milah ini dengan membeda-bedakan itulah mereka sering dikacaukan. Untuk bisa memahaminya, jelas tidak cukup secara intelektuall seperti ini. Kita mesti benar-benar merasakannya. Kita mesti bisa memperhatikan ke dalam diri dan melihat serta merasakan apa yang sedang terjadi di dalam ketika kita membeda-bedakan; dan apa yang terjadi di tataran yang sama ketika kita memilah-milah.

Adakah rasa suka-tak-suka hadir disini saat ini? Bila tidak, Anda akan bisa memilah-milah betapa mestinya. Bila ada, apapun yang Anda lakukan, bagaimanapun Anda berkilah untuk menyangkal dan menyakinkan orang, apa yang Anda lakukan itu bukanlah memilah-milah melainkan membeda-bedakan.

Makanya, bila kita ingat-ingat lagi apa yang kita lakukan selama ini, akan kita temukan kalau sebetulnya kita sangat jarang, atau balikan tidak pernah, memilah-milah. Apa yang kita lakukan selama ini hanyalah membeda-bedakan -antara yang baik dan yang buruk, antara yang (menurut anggapan kita) benar dengan yang (menurut anggapan kita) salah, antara yang menyenangkan dan yang tak menyenangkan, antara yang kita sukai dan yang kita benci, dan sebagainya .........Itulah yang selama ini kita lakukan; membeda-bedakan, pilih kasih, diskriminatif -dan oleh karenanya jadi tidak adil; tak pernah memilah-milah.

Semasih rasa suka-tak suka - yang mau-tak-mau akan selalu didampingi oleh tindakan pilih-kasih, oleh sikap tidak adil - bercokol di hati ini, selama itu pula kita tak akan pernah becus memilah-milah.

Memilih bukan Memilah

Ketika kita melihat sesuatu seperti apa ia adanya, kita tak perlu lagi menduga-duganya sebagai begini atau begitu. Bahkan, kita pun tak perlu menilainya sebagai baik atau buruk, benar atau salah menyenangkan atau menyedihkan. Inilah melihat atau memandang dengan bijak. Pandangan bijak seperti inilah yang membebaskan.

Bila Anda memandang sesuatu dengan bijak, Anda tak akan merasa perlu menginginkan untuk kemudian memburunya, pun menolak untuk kemudian menghindarinya, karena toh ia hanya seperti apa adanya, apakah kita inginkan ataukah kita tolak, apakah kita buru ataukah melarikan diri darinya. Namun umumnya, kita tidak melihat seperti itu. Kita umumnya melihat lewat kacamata suka dan tidak suka. Akibatnya, kita akan menolak dan menghindari yang tak kita sukai sebaliknya memburu yang kita sukai.

Kita sepertinya diharuskan memilih -yang ini atau yang itu atau yang lainnya, dan bukannya hanya memilah - yang ini memang seperti ini atau yang itu memang seperti itu adanya, tanpa mesti memuatinya dengan rasa suka-tidak-suka. Alhasil, kita tak kian becus memilah sebaliknya sangat piawai memilih untuk kemudian terjebak sendiri di dalam pilihan kita itu. Padahal, yang ada dalam melihat yang benar, dengan bijak, adalah memilah, bukan memilih.

Daya-pemilah bukan sumber konflik

Guna membedakan antara yang baik dengan yang buruk, antara yang benar dengan yang salah, antara yang cocok dengan yang keliru, antara yang menyenangkan dengan yang tak menyenangkan, atau yang sejenisnya, kita menggunakan -apa yang kita sebut dengan- daya-pembeda.

Daya pembeda memang perlu di dalam menjalani hidup ini. Tanpanya, bukan hanya semuanya bisa kacau-balau, namun kita mencelakai diri sendiri. Namun, ia tak mesti dipekerjakan bagi semua hal. Dan bila itu kita lakukan, bukan saja kita akan sering diterpa keragu-raguan, namun ia hanya akan menjadi sumber konflik. Namun, konflik -baik eksternal maupun internal- tak perlu terjadi bila Anda menggunakan daya- pemilah sebagai penggantinya. Andapun tak perlu selalu ragu-ragu. Walaupun daya-pemilah sangat mirip dengan daya-pembeda, namun daya-pemilah tidak melahirkan sikap yang membeda-bedakan walaupun ia juga menyodorkan perbedaan di mata kita.

Daya-pemilah tidak mendesak kita untuk memilih yang satu dan menolak yang lainnya. Karenanya, daya-pemilah tak perlu melahirkan keragu-raguan, walaupun selalu membuka kesempatan bagi kemunculan peraguan. Ia hanya menyodorkan fakta, memperlihatkan apa yang ada sebagaimana adanya.

Daya Pemilah-milah itulah filternya

Tak dipungkiri lagi,seluruh kehidupan kita dipenuhi bahkan didikte oleh berbagai bentuk pengaruh dari segala arah. Ada banyak pengalaman dan kejadian yang sedemikian mempengaruhi jalan hidup kita; ada banyak orang dan pengetahuan, pendapat serta pandangan-pandangan yang ternyata sedemikian berpengaruhnya terhadap kehidupan kita selama ini. Sadarkah kita akan fakta ini? Bila anda menyadarinya, pernakah kemudian terlintas di benak anda, 'apakah saya bisa bebas dari semua pengaruh?'.

Tapi sebelumnya, kita mesti mempertanyakan dulu, 'Mengapa kita sedemikian mudahnya menerima pengaruh luar, sedemikian mudahnya terpengaruhi?'. Ambil contoh ketika anda sudah kenyang, Anda baru saja menikmati makanan yang terlesat yang pernah Anda rasakan. Apakah bila Anda melihat orang sedang makan dengan lahap lalu Anda terpengaruh ingin makan lagi? Besar kemungkinan tidak bukan? Contoh lain lagi; Anda sudah pernah merasakan kecap dengan merek tertentu, yang menurut Anda tidak enak. kemudian, apakah Anda terpengaruh oleh propaganda melambung dari seorang penjaja kecap yang sama lagi? Tidak bukan?

Kita hanya mudah dipengaruhi bila kita tak punya 'daya-tahan' terhadapnya. 'Daya-tahan' ini bisa bermacam-macam jenisnya; ia bisa berupa pengalaman , pengetahuan, pemahaman, kekuatan mental, ketenangan , tekad, keteguhan-hafi, iman dan lain sebgainya. Bila kita punya'daya-tahan' itu. kita tak akan mudah dipengaruhi. Bahkan bisa jadi sebaliknya -Andalah yang akan dengan mudah mempengaruhi orang. Kita semua berpotensi besar untuk dipengaruh pun mempengaruhi. Makanya, kalaupun kita bisa sama sekali bebas dari pengaruh, itu belum tentu baik buat kita. Pengaruh yang kita tebar, baik sengaja maupun tidak, cepat atavi lambat akan kita rasakan ada dampaknya. Ia mengikuti hukum alam.

Disini kita memang tidak membatasi pembicaraan kita hanya pada pengaruh buruk saja. Semua pengaruh luar, bisa berdampak buruk dan juga baik terhadap kehidupan kita. Kita bisa disadarkan oleh sebuah pengalaman pahit bukan? Yang tidak menyenangkan tidak selalu berpengaruh buruk bagi kita. namun betapa baiknya, betapa menyenangkannyapun suatu pengaruh buat Anda, ia selalu berpotensi besar menyimpangkan Anda dari 'apa adanya' Anda. Kalau ia menyimpangkan Anda ke arah yang lebih baik, syukurlah.....Tapi bila sebaiknya?

Oleh karenanya, 'daya-tahan' disini seharusnya juga berupa kemampuan atau daya pemilah-milah. Dialah yang akan menjalankan fungsi filtrasi; dialah filter itu; dialah yang akan menghindarkan Anda dari penyimpangan-penyimpangan akibat pengaruh yang tak diharapkan. Miliki! Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita. Semoga Kedamaian dan Kebahagiaan menghuni kalbu semua insan.

Oleh: Anatta Gotama
Source: Warta Hindu Dharma NO. 518 Pebruari 2010