Anggara Kasih Wujud Misi Perdamaian dan Kasih Sayang

Anggara secara harafiah terjemahan bebasnya adalah mengulurkan atau memberikan. Sedangkan kasih adalah adalah damai/shanti. Kasih juga bisa diartika sebagai perwujudan cinta tak bersyarat. Seperti kasih sayang orang tua kita kepada anaknya. Cinta kasih orang tua kepada anaknya tidak selalu mengharapkan imbalan. Begitulah juga seharusnya kasih sayang umat manusia kapada pencita-Nya. Tuhan (Ida Sang Hyang) memelihara umat manusia dengan berbagai fasilitas yang disediakan oleh-Nya secara Cuma-Cuma. Air, udara, matahari, tanah, api, tumbuh-tumbuhan, semua fasilitas itu kita nikmati secara gratis. Karena kasih-Nya yang tidak terbatas, beliau tidak pernah menuntut agar fasilitas itu dibayar oleh umat manusia.

Namun kita sebagai umat manusia yang telah menikmati fasilitas itu mewujudkan “kasih” itu dengan jalan beryadnya kepada-Nya. Kasih dibalas dengan Kasih pula. Yadnya yang murni dan tulus iklas disertai rasa suka cita pada saat mempersembahkannya itulah yang disebut “Yadnya yang utama atau Yadnya kasih”. Meskipun jumlahnya sedikit dan sederhana. Meskipun upakaranya mewah dan mahal, tapi tidak disertai dengan ketulusan serta terkesan menjaga gengsi, Yadnya itu adalah “Yadnya yang nista”. 

Anggara Kasih jatuh pada setiap hari Selasa. Satu minggu ada 7 hari yaitu : Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu (Soma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, Saniscara, Redite). Anggara kasih berarti mengulurkan persahabatan atau perdamaian. Anggara kasih secara umum bisa juga disebut dengan “hari kasih sayanag”. Jika pada penanggalan Masehi, hari kasih sayang sedunia dirayakan tiap-tiap tanggal 14 Februari, yang popular disebut dengan hari “Valentine Days” dirayakan setiap setahun sekali. Maka, umat Hindu khususnya di Bali merayakan 9 kali dalam setahun. Yaitu pada hari yang disebut dengan “Anggara Kasih”. Di Bali selatan dan Bali timur perayaan ini tidaklah begitu meriah. Lain halnya dengan di Bali Barat dan Bali Utara. “Rerahinan Anggara Kasih” dirayakan dengan kidmat oleh umat di sana. Upakaranya biasanya terdiri dari Canang Burat Wangi dan Canang Lenge Wangi dan Pesucian. Dihaturkan di tiap-tiap Pelinggih yang ada di Sanggah Kemulan dan tiap-tiap rumah tangga. Dan bagi mereka yang sedang bertunangan atau sedang menjalin kasih perjodohan biasanya oleh orang tua mereka dibuatkan dengan “Sesayut Jati Smara, Sesayut Pengipuk Smara, dan Sesayut Tulus Dadi”. Maksud dibuatkannya upakara ini adalah agar pertunangan mereka berakhir sampai kejenjang perkawinan. Tidak putus di tengah jalan atau salah satu calon menantu itu menjalin hubungan dengan wanita lain.

Upakara ini dulu di Bali Barat dan Bali Utara sangat populer, namun kini karena perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu pesatnya maka upacara semacam ini dijadikan satu pada saat melangsungkan upacara perkawinan. Namun meskipun begitu, hari Anggara Kasih tetap dilaksanakan dan dirayakan oleh umat di sana. 

Perdamaian, persahabatan, cinta dan kasih sayang adalah hal yang sangat didamba-dambakan dan dielu-elukan oleh umat manusia diseluruh dunia. Misi para tokoh-tokoh dunia untuk mewujudkan perdamaian selalu gagal, dengan kenyataan yang kita hadapi saat ini. Perang antara Bangsa masih tetap berlangsung, berbagai macam tindak kekerasan dan kejahatan hampir tiap hari terjadi dimana-mana khususnya di Kota-kota besar. Di Bali kasus-kasus adat yang berakhir dengan tindakan kekerasan sangat rentan dan sering bermunculan akhir-akhir ini.

Pertikaian demi pertikaian tak henti-hentinya terjadi. Kasih sayang antara sudah semakin menipis, keharmonisan di lingkungan keluarga kini pun agaknya mulai menyurut. Zaman Kali Yuga yang oleh sebagain oaring dianggap sebagai penyebab kekalutan dunia ini hendaknya jangan selalu dikambing-hitamkan. Meskipun kenyataannya zaman Kali Yuga ini memang kemerosotan moral dan kejahatan umat manusia semakin hari semakin bertambah. 

Generasi muda Hindu dimanapun berada, meri kita menjadikan “Hari Suci Anggara Kasih” sebagai momentum untuk menjalin perdamaian dan persahabatan antar umat manusia. Kasih sayang yang terjalin harmonis hendaknya dimulai dari diri kita dulu dilingkungan keluarga. Masyrakat sekitarnya dan wilayah lingkungan tempat tinggal kita menuntut ilmu, ditempat kerja dan organisasi kemasyrakatan. Kita pupuk dan kita galang terus misi dan makna susi “Anggara Kasih” (Mengulurkan Perdamaian) pada diri kita masing-masing dan orang lain. Para Awatara, orang-orang suci dan guru-guru rohani selalu menekankan “Kasihilah setiap mahluk hidup di dunia ini”. Balaslah kebencian dengan kasih sayang”.

Anggara Kasih yang kita rayakan 9 kali dalam setahun ini memberi kita kesempatan untuk merenungi segala tingkah laku kita sehari-hari. Apakah setiap tindakan yang kita lakukan berdasarkan kasih ataukah pamrih? Apakah kita bekerja mencari nafkah semata-mata untuk keuntungan diri sendiri atau demi keharmonisan alam semesta? Menjalin hubungan dalam ikatan tali perkawinan hanya untuk meneruskan keturunan ataukan punya misi melahirkan anak yang suputra? Malaksanakan upacara yadnya karena tridisi ataukah takut dicap murtad? Berbuat amal kebajikan untuk mengumpulkan pahala ataukah memang suatu kewajiban? Bersembahyang ke Pura-Pura untuk mengharapkan sesuatu ataukah mempersembahkan kasih? Menolong orang lain karena kesadaran dan kewajiban ataukah ada keterikatan karma phala? Mengurangi keterikan duniawi karena kesadaran kasih atau ego? Keterikatan duniawi yang begitu kuatnya sehingga sulit untuk melepaskannya apakah karena kasih ataukah memang hokum karma?.

 

Source:  Niken Tambang Raras l Warta Hindu Dharma NO. 429 November 2002