Anak Perempuan Sebagai Pemberi Cinta Kasih Dalam Keluarga

Pernahkah Anda membaca kisah dua orang ibu yang memperebutkan seorang bayi laki-laki, sembari menelantarkan seorang bayi perempuan? Dikisahkan bahwa ada dua orang wanita melahirkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Yang satu melahirkan bayi laki-laki, yang lain melahirkan bayi perempuan. Kedua bayi tersebut dibaringkan di tempat yang sama. Namun ternyata kedua wanita itu saling mengklaim bahwa bayi laki-laki tersebut adalah miliknya. Di sisi lain, keduanya tidak ada yang mau mengakui bayi perempuan yang tergolek tidak jauh dari bayi laki-laki itu. Seorang hakim yang bijak sampai harus didatangkan untuk memutuskan siapa wanita yang berhak atas bayi laki-laki tersebut.

Kisah di atas berasal dari tradisi masyarakat Timur Tengah, yang memang sangat mengutamakan anak laki-laki. Banyak orang yang terkagum-kagum dengan kisah tersebut, terutama bagaimana sang hakim dengan kecerdikannya mampu mengungkapkan siapa wanita yang benar-benar melahirkan bayi laki-laki tersebut. Namun ada hal yang aneh dari cerita tersebut, yang mungkin luput dari perhatian masyarakat Timur Tengah, yakni kenyataan bahwa ada orang yang tidak mau mempunyai anak perempuan, sampai dibela-bela mengklaim anak laki-laki orang lain? Apakah mempunyai anak perempuan menjadi beban baginya? Bukan sebagai anugerah?

Mempunyai anak adalah anugerah dari Tuhan. Tidak peduli, apakah itu anak laki-laki ataupun perempuan. Kehadiran seorang anak diyakini dapat menghadirkan kebahagiaan bagi keluarganya. Dalam Kitab Canakya Nitisastra III, sloka 12 disampaikan pesan sebagai berikut: Ekanapi suvksena, Puspitena suganddhita, Wasistem tadvanam sarwam, Suputrena kulam yatha

Artinya: Seluruh hutan menjadi wangi hanya karena sebuah pohon dengan bunga yang indah dan harum semerbak. Begitu juga di dalam keluarga yang mempunyai seorang anak yang suputra. Canakya Nitisastra III, sloka 15 juga memberikan pesan sebagai berikut: Ekenapi suputrena, Vidya yuktena sadhuna, Ahladitam kulam sarwam, Yatha candrena sarwari

Artinya: Sebagaimana bulan menerangi malam hari dengan cahayanya yang terang menyejukkan, begitulah seorang anak suputra yang berpengetahuan jiwani, insaf akan dirinya dan bijaksana. Anak suputra ini menyebabkan seluruh keluarganya selalu dalam kebahagiaan.

Jadi, mempunyai anak yang suputra akan memberikan kebahagiaan bagi orangtua dan orang-orang di sekitarnya, seperti halnya keberadaan sebuah pohon dengan bunga yang indah dan harum, yang menyebabkan seluruh hutan menjadi wangi. Atau bagaikan cahaya bulan yang menyejukkan seluruh lingkungan yang disinarinya. Namun bagi sebagian masyarakat, terutama masyarakat patriarkat, mempunyai anak laki-laki dianggap sebagai anugerah yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak perempuan.

Banyak orangtua yang beranggapan bahwa mempunyai anak laki-laki adalah suatu kebanggaan karena merekalah yang akan bertanggung jawab dan melindungi keluarganya. Lalu bagaimana dengan anak perempuan? Swadharma seorang anak perempuan tentu bukan dalam bentuk tanggung jawab dan melindungi keluarganya. Menurut hemat saya, swadharma anak perempuan adalah memberikan cinta kasih dan menghidupi (dalam arti memberi suasana kehangatan) dalam keluarganya. Anak perempuanlah yang sebenarnya menjadi dasar terciptanya kebahagiaan bagi keluarga maupun orang-orang di sekitarnya.

Bagaimana anak-anak perempuan bisa memberikan cinta kasih dan kehangatan dalam keluarga, tentu sulit dilihat secara sepintas, karena itu merupakan bagian dari proses perjalanan hidup suatu keluarga. Akan tetapi itu dapat dirasakan seiring dengan perjalanan waktu yang dilalui orangtua yang memiliki anak perempuan. Meskipun demikian, cinta kasih dan kehangatan yang diberikan anak perempuan dapat tergambarkan secara jelas melalui tayangan film, khususnya film yang bergenre keluarga. Hal ini dikarenakan perjalanan waktu yang panjang dalam kehidupan sebuah keluarga dapat “dipersingkat” dalam durasi film yang hanya 1-3 jam. Film itu sendiri adalah refleksi dari kehidupan nyata yang bisa jadi benar-benar dialami oleh sebagian orang.

Banyak film bergenre keluarga yang menggambarkan bagaimana anak perempuan memberikan cinta kasih dan kehangatan bagi keluarga dan orang di sekitarnya, baik film nasional maupun film mancanegara. Di sini saya akan memberikan contoh dua film yang menurut saya dengan jelas menggambarkan bagaimana seorang anak perempuan memberikan cinta kasih dan kehangatan, yakni Kuch Kuch Hota Hai (1998) dari India dan Senyum di Pagi Bulan Desember (1975) yang merupakan film nasional. Kedua film tersebut merupakan film-film box office di zamannya, karena meraih begitu banyak penonton.

Kuch Kuch Hota Hai
Kuch Kuch Hota Hai adalah salah satu film terbaik Bollywood yang meraih banyak penghargaan. Di dalam film ini terdapat tokoh gadis kecil bernama Anjali, anak dari Rahul dan Tina. Ibunya meninggal beberapa saat setelah melahirkan dirinya. Namun sebelum meninggal, ia sempat menulis delapan surat untuk Anjali. Tina berpesan pada suaminya agar setiap surat dibacakan pada setiap hari ulang tahun putrinya. Dalam suratnya yang terakhir, yang diberikan pada Anjali pada ulang tahun ke-8, Tina menceritakan bahwa sebelum kawin dengan dirinya, Rahul mempunyai seorang sahabat perempuan teman kuliahnya, yang juga bernama Anjali.

Tina meminta tolong putrinya untuk mempertemukan ayahnya dengan Anjali karena ia menyadari bahwa cinta sejati Rahul sebenarnya tertambat pada sahabat wanitanya itu. Terdorong untuk memenuhi pesan mendiang ibunya dan rasa kasihan melihat penderitaan ayahnya yang menjadi orang tua tunggal sejak dirinya masih bayi, Anjali kecil pun berusaha mencari tahu keberadaan Anjali sahabat ayahnya itu. Setelah melalui proses yang panjang dan berliku-liku, Anjali kecil pun berhasil mempertemukan ayahnya dengan sahabat wanitanya itu, yang hampir saja kawin dengan pria lain. Rahul dan Anjali sahabatnya itu pun akhirnya menjadi suami istri.

Senyum di Pagi Bulan Desember
Film Senyum di Pagi Bulan Desember berhasil memenangkan Piala Citra untuk kategori Film Terbaik. Dalam film ini dikisahkan seorang gadis kecil bernama Bunga yang tinggal bersama orangtuanya di sebuah rumah yang terpencil jauh dari tetangga. Selain rumah yang mereka tinggali, keluarga kecil ini juga mempunyai sebuah bangunan gudang yang terletak agak jauh dari rumah, sehingga jarang disinggahi orangtuanya.

Bunga sering bermain sendirian di gudang itu. Pada suatu saat ada tiga orang narapidana yang berhasil melarikan diri dari penjara dan terdampar di gudang tua itu. Tanpa sengaja mereka bertemu dengan Bunga yang hendak bermain-main di gudang itu. Bunga yang kesepian (karena tidak ada anak-anak desa yang mau bermain ke rumahnya yang jauh dari para tetangga), meminta para narapidana itu untuk menjadi temannya. Para narapidana tersebut menyanggupi permintaan Bunga dengan syarat tidak boleh memberi tahu siapapun tentang keberadaan mereka di situ.

Ketiganya juga meminta bila ada makanan di rumah Bunga, dapat dibawa ke gudang itu untuk dimakan bersama-sama. Bunga menyanggupi permintaan itu. Ia merahasiakan pertemuan dengan para narapidana tersebut dari orangtuanya. Setiap hari ia juga membawakan makanan untuk ketiga narapidana tersebut.

Bunga memberikan makanan kepada mereka bukan karena takut (karena ketiga pria tersebut bertampang sangar), tetapi karena merasa kasihan melihat mereka kelaparan. Ia juga merasa gembira karena mendapatkan teman, meskipun bukan anak-anak yang usianya sebaya dengan dirinya.

Bunga tidak menyadari bahwa ketiga narapidana itu adalah para penjahat yang kejam dan jahat, yang sewaktu-waktu bisa mencelakai dirinya. Apalagi ketiga narapidana buronan itu pada awalnya memang merencanakan akan menghabisi Bunga bila sampai memberitahukan keberadaan mereka pada orang lain, atau menjadikan sebagai sandera apabila tempat persembunyian mereka diketahui polisi.

Namun senyuman, kepolosan, dan perhatian tulus yang diberikan Bunga sedikit demi sedikit mampu meluluhkan niat jahat mereka. “Gadis kecil itu telah memberikan kita cinta. Apakah kita akan membalasnya dengan mencelakainya?”, demikian kata salah seorang narapidana tersebut, yang disetujui oleh teman-temannya.

Pada akhirnya, persembunyian mereka berhasil diketahui dan dikepung polisi. Mereka ditangkap kembali tanpa melakukan perlawanan. Mereka juga tidak menjadikan Bunga sebagai sandera. Sebelum digiring masuk mobil polisi, salah seorang dari mereka bahkan sempat memeluk erat-erat Bunga dengan penuh rasa sayang.

Ia mengucapkan terimakasih karena selama dalam persembunyian mendapatkan pelajaran berharga tentang artinya cinta kasih dari seorang gadis kecil bernama Bunga.

Pembaca, bagaimana seandainya peran gadis-gadis kecil pada kedua film tersebut digantikan dengan anak laki-laki? Tentu jalan ceritanya menjadi tidak wajar dan kurang menarik, bukan? Kedua film itu tentu menjadi kering dan kurang menyentuh rasa kemanusiaan kita.

Pesan moral yang ingin disampaikan pada kedua film tersebut, bahwa cinta kasih yang diberikan seorang anak akan mampu menciptakan kebahagiaan bagi orang lain (pada film Kuch Kuch Hota Hai). Cinta kasih yang diberikan seorang anak juga akan mampu meluluhkan sifat kasar, bengis, kejam pada diri orang lain (pada film Senyum di Pagi Bulan Desember).

Pesan-pesan moral itu menjadi tidak mengena bila peran kedua gadis kecil tersebut digantikan dengan anak laki-laki. Mengapa? Karena swadharma anak laki-laki adalah bertanggung jawab dan memberikan perlindungan bagi keluarganya, bukan memberikan cinta kasih dan kehangatan seperti halnya pada anak perempuan. Hal ini yang menyebabkan film-film yang mengangkat pesan cinta kasih dan kehangatan lebih memilih menggunakan anak-anak perempuan sebagai pemerannya.

Dengan demikian, baik swadharma anak laki-laki (bertanggung jawab dan melindungi) maupun swadharma anak perempuan (memberikan cinta kasih dan kehangatan), keduanya sama-sama penting untuk keberlangsungan kehidupan sebuah keluarga.

Keduanya saling melengkapi, bukan yang satu lebih penting daripada yang lain. Oleh karena itu tidak pada tempatnya bila kita menganggap bahwa anak laki-laki lebih utama daripada anak perempuan. Lebih tidak tahu diuntung lagi apabila ada orangtua yang menolak anak perempuan dan mati-matian berusaha mendapatkan anak laki-laki, sebagaimana cerita dua orang ibu di atas, yang berebut bayi laki-laki, sembari menelantarkan bayi perempuan.

Oleh: Budiana Setiawan
Source: Majalah Media Hindu, edisi 168, Februari 2018