Aktualisasi Pendidikan Agama Hindu Ke Arah Paradigma Pendidikan Masa Depan

Salah satu upaya untuk menata pendidikan agama Hindu di masa depan yang lebih baik adalah melalui pemahaman pendidikan secara komperhensif. Hal ini harus diartikan lebih luas ke arah pemikiran baru. Pendidikan berarti proses perubahan individualisasi, perubahan internalisasi dan perubahan sosialosasi.

Pendidikan ke arah perubahan individualisasi adalah usaha pendidikan untuk membantu, menolong dan membimbing peserta didik untuk megenali dirinya, memahami yang ia miliki sebagai kekuatan untuk mengetahui kemampuan yang ada pada dirinya sekaligus untuk memilih masa depan yang ia miliki sendiri. Selanjutnya, 'pendidikan ke arah perubahan internalisasi adalah usaha menyampaikan nilai pada peserta didik itu sendiri. Sedangkan pendidikan ke arah perubahan sosialisasi adalah proses transformasi nilai budaya. Hal ini di samping mengantarkan budaya yang diinstitusikan pada nilai formal pendidikan juga merupakan proses menyiapkan generasi masa depan untuk diproyeksikan sebagai alternatif masa depan itu sendiri.

Pembelajaran pendidikan agama Hindu yang dilakukan oleh seorang pendidik, sangat diharapkan sebagai salah satu usaha atau upaya untuk melakukan penataan pendidikan agama Hindu ke arah perubahan-perubahan itu sesuai dengan paradigma dalam bidang pendidikan, yang menuntut perubahan prilaku peserta didik. Seorang pendidik harus lebih dapat berperan dan menempatkan dirinya pada posisi fasilitator belajar bukan hanya instruktur atau pengajar. Perubahan peran ini didukung oleh 4 (empat) pilar penting dalam pendidikan yaitu:

(1) Learning to know, adalah belajar dalam mengetahui sesuatu untuk memperoleh pengetahuan;
(2) Learning to do, adalah belajar sambil berbuat dan belajar sambil mendalami;
(3) Learnig to live together, adalah belajar untuk hidup bersama dalam prisip kebersamaan, kekeluargaan, kesejahtraan, kemitraan, dan kerjasama yang dilandasi oleh kasih sayang dan kepercayaan satu sama lain; dan
(4) Learning to be, adalah tetap menjadi dirinya sendiri dengan segala karakteristiknya yang berbeda satu sama lain.

Karena demikian maka para pendidik agama Hindu dalam mengaktualisasikan pendidikannya ke dalam segala bentuk pembelajaran, sangat diharapkan mampu melak- sanakan pendidikan agama Hindu secara profesional yang ditandai dengan : (a) Mempunyai komitmen pada peserta didik dan proses belajarnya; (b) Menguasai secara mendalam bahan atau mata pelajaran yang akan diajarkan serta cara mengajarkannya kepada peserta didik; (c) Bertanggung jawab memantau hasil belajar peserta didik melalui berbagai teknik evaluasi: (d) Mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya; dan (e) Seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.

Memenuhi tuntutan pendidikan sesuai dengan paradigma baru, maka harus ada goodwill yang kuat untuk selalu mencari alternatif memperbaiki kegiatan pembelajaran. Beberapa program yang perlu diperhatikan dalam mengaktualisasikan pendidikan ke dalam bentuk layanan pembelajaran, antara lain:

1. Program pencapaian belajar, yang menekankan pada kompetensi belajai peserta didik yang memiliki kemampuan yaitu (a) kualifikasi prilaku kognitif yang daya tangkap cepat, mudah dan cepat memecahkan masalah serta kritis; (b) kualifikasi perilaku kreatif, yakni rasa ingin tahu imajinatif, tertantang dan berani mengambil resiko; (c) kualifikasi prilaku prilaku keterikatan terhadap tugas, yakni tekun, bertanggung jawab, disiplin, kerja keras, keteguhan dan memiliki daya juang; (d) kualifikasi kecerdasan emosi, yakni pemahaman diri sendiri, pemahaman terhadap orang lain, pengendalian diri kemandirian, penyesuaian diri, harkat diri dan berbudi pekerti; dan(e) kualifikasi prilaku kecerdasan spiritual, yakni pemahaman apa yang harus dilakukan untuk mencapai kebahagiaan diri sendiri dan orang lain.

2. Pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup (life skill), yaitu (a) percakapan mengenal diri yang sering disebut dengan kemampuan personal, (b) kecakapan berpikir rasional, (c) kecakapan sosial (d) kecakapan akademik (e) kecakapan vokasional.

3. Pengajaran dan pembelajaran kontekstual, yaitu konsep belajar yang membantu pendidik mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Sebagaimana diketahui, bahwa pendidikan agama Hindu yang dilaksanakan pada setiap daerah di Indonesia memiliki karakteristik yang sangat khas dan berbeda-beda. Kekhsan itu terletak dari adat dan budaya keagamaan yang melandasinya. Karenanya, aktualisasi pendidikan agama Hindu yang sesuai dengan paradigma baru dapat diimplementasikan dan terkolaborasikan dengan kekhasan setempat.

Konsep ideal ini membutuhkan komitmen yang kuat dan tepat serta konsisiten dengan tugas dan kewajiban sebagai pendidik yang dituntut profesional dalam tugas. Tentunya para pendidik agama Hindu diharapkan juga semakin dinamis, eksploratif dalam meningkatkan pengetahuan dan wawasannya. Selain itu, para pendidik diharapkan selalu mampu menjadikan dirinya sebagai media bagi peserta didik untuk melakukan elaborasi terhadap isu dan tema-tema aktual serta diberikan ruang pembiasaan intelektual dalam setiap kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat secara bebas untuk melakukan sharing experince dan sharing knowledge (tukar pengalaman dan tukar pengetahuan) dengan para peserta didik yang lain.

Oleh: Made Awanita
Source: Warta Hindu Dharma NO. 527 Nopember 2010