Akar Kejahatan

Dewi Sukesi mengandung anak Wisrawa, Rsi agung yang mencuri cinta anaknya, Prabu Danareja dari negeri Lokapala. Rsi Wisrawa sejatinya ke Alengka bertamu ke istana Prabu Somali, sahabat lamanya dikala muda, untuk meminang Dewi Sukesi demi mewujudkan cinta anaknya semata. Tetapi sang Rsi terhanyut oleh keinginan Dewi Sukesi akan keillahian yang bukan miliknya, sehingga mereka berdua terjerumus kedalam dosa. Dosa itulah yang ada dalam kandungan Dewi Sukesi, yang kemudian lahir dalam bentuk darah, kuku dan daun telinga. Darah itu tumbuh menjadi Rahwana yang jahat, kuku menjelma menjadi Sarpakanaka yang penuh nafsu, dan daun telinga menjadi Kumbakarna yang selalu tidur. Kelak, ketika Dewi Sukesi dan Wisrawa menyesali dosa-dosanya dan kembali kedalam kebajikan, mereka melahirkan seorang anak yang bijak dan tampan, Wibisana.

Disaat yang hampir bersamaan, di negeri Ayodhya, tiga bersaudara, Anjani, Guwarsa dan Guwarsi bertengkar memperebutkan Cupu Manik yang memuat rahasia keabadian dunia. Ayah mereka, Rsi Gotama, kemudian melemparkan cupu itu sejauh-sejauhnya. Di udara, cupu terpisah dari tutupnya. Cupu jatuh di hutan Ayodhya menjadi Telaga Nirmala, sementara tutupnya jatuh di Alengka menjadi Telaga Sumala. Anjani, Guwarsa dan Guwarsi yang mengejar cupu itu, mengira cupu jatuh ke telaga. Guwarsa dan Guwarsi menyelam, sementara Anjani yang lelah hanya membasuh wajah, kaki dan tangan. Guwarsa dan Guwarsi, begitu tercebur kedalam telaga, berubah menjadi kera, dan Anjani tumbuh bulu-bulu kera di wajah, tangan dan kaki yang terkena air telaga.

*****

Sejak jaman dahulu kala orang sudah bertanya-tanya, mengapa ada kejahatan dan penderitaan di dunia padahal dunia ini ada dalam pengawasan dan perlindungan Tuhan yang maha pengasih lagi penyayang. Berbagai argumenpun telah disampaikan, diantaranya karena terjerumus godaan setan, karena takdir, karena evolusi kesadaran, dan mungkin banyak lagi argumen lainnya. Apapun sebabnya, kenyataannya kejahatan eksis. Ada orang yang memenggal leher manusia lain untuk alasan missi yang suci. Ada pegusaha yang tega hidup bermewah-mewah dengan menipu dan menggelapkan dana orang-orang yang hendak beribadah. Ada proyek yang sengaja dibuat agar anggarannya yang bernilai trilyunan bisa dikorupsi beramai-ramai. Ada orang yang sukarela memelihara dendam dan kebencian dalam hatinya. Mengapa kegelapan dan kejahatan bisa menjadi begitu pekat, gelap gulita menutupi nurani manusia ?

Weda menyatakan, unsur utama dalam proses pembentukan semesta adalah dua azas yang sangat sukma, gaib dan abadi yaitu Cetana dan Acetana yang juga disebut sebagai sebab mula terciptanya segala yang ada (causa prima). Cetana merupakan asas roh yang menjadi jiwa semesta, sifatnya murni dan selalu sadar (consciusness) sedangkan Acetana merupakan asas materi dari alam semesta yang sifatnya tidak sadar dan serba lupa (unconsciusness). Pertemuan Cetana dan Acetana menciptakan Purusa dan Pradana yang merupakan sumber roh dan materi. Pertemuan Purusa dan Pradana menghasilkan Citta dan Guna. Citta adalah pikiran, ingatan. Guna adalah sifat. Guna ada tiga disebut tri guna (tiga sifat yaitu satwam, rajas, dan tamas). Tri guna inilah yang mengikat, menarik dan kerapkali menguasai, mengendalikan kesadaran. Dalam Bhagavad Gita XII. 5 disebutkan:

Sattvaṁ rajas tama iti
Guṇāḥ prakŗtisaṁbhavāh
Mbadhanti mahābāho
Dehe dehinam avyayam

(Sattva, rajas, tamas ini adalah guna yang lahir dari prakerti wahai yang berlengan perkasa, yang mengikat penghuni badan yang kekal itu dengan eratnya). Selanjutnya Bhagawad Gita menjelaskan sebagai berikut:

Rajo rāgātmakaṁ viddhi
Tŗṣnā-saṅga-samudbhavam
Tan nibadhnāti kaunteya
Karma-saṅgena dehinan

Tamas tu ajnāna-jaṁ viddhi
Mohanaṁ sarva-dehinām
Pramadālasya-nidrābhis
Tan nibadhnāh bharata

Sattvam sukhe sanjayati
Rajah karmani bharata
Jnanam āvŗtya tu tamah
Premade sanjayaty uta

(BG. XIV 7-9)

(Ketahuilah wahai arjuna, rajas bersumber pada nafsu yang lahir dari keinginan yang mengikat penghuni badan ini untuk melakukan kegiatan kerja. Ketahuilah pula wahai bharata, bahwa sifat tamas sesungguhnya lahir dari kebodohan yang membingungkan semua perwujudan dan mengikatnya dengan ketidaktahuan. Sattva mengikat seseorang pada kebahagiaan, rajas pada kegiatan kerja wahai bharata, sementara tamas menyelubungi pengetahuan dan mengikat pada kekurangwaspadaan).

Karena tersusun atas unsur yang mengandung sifat tri guna, manusia memang dari sananya sudah memiliki kecenderungan untuk bersikap sesuai tarikan tiga sifat itu. Jawaban filsafat Hindu atas pertanyaan di atas, dengan demikian adalah bahwa kejahatan - sebagaimana kebaikan - muncul karena sifat alami manusia sesuai sifat materi penyusunnya. Tidak ada pengaruh setan, pun bukan karena digariskan Tuhan. Sifat manusia sepenuhnya ditentukan oleh faktor dominan tri guna dalam dirinya. Sifat mana yang paling dominan, ditentukan oleh evolusi kesadaran yang diasah, dibentuk, disempurnakan melalui ribuan bahkan jutaan kali kelahiran ulang (reinkarnasi).

Kejahatan adalah representasi dari ketidaktahuan (avidya), kegelapan, tindakan di bawah pengaruh sifat tamas. Dalam evolusi kesadaran Wisrawa dan Sukesi, ini adalah sifat Rahwana. Nafsu, dorongan kerja, keragu-raguan adalah representasi sikap yang dipengaruhi sifat rajas. Dalam evolusi kesadaran Wisrawa dan Sukesi ini adalah Sarpakanaka dan Kumbakarna. Dan sikap tenang, bijaksana adalah representasi sikap yang dikendalikan sifat satwam. Dalam evolusi kesadaran Sukesi dan Wisrawa, ini adalah Wibisana.

Bagaimanapun, evolusi kesadaran adalah proses panjang sepanjang umur semesta raya. Ada kalanya seseorang telah mencapai titik tertentu tetapi terpeleset dan jatuh, sehingga harus merangkak lagi dengan bersusah payah. Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi sejatinya telah mencapai kesempurnaan dalam wujud manusia, tetapi nafsunya memperebutkan cupu manik yang bukan haknya mendegradasi mereka menjadi kera. Dalam proses evolusi itu pula, itihasa mengingatkan bahwa godaan sifat tamas tidak pernah sirna. Itulah Rahwana yang menguasai aji Pancasona. Ia tak bisa mati. Ia hanya terpenjara di bawah Gunung Muliawan yang ditimpakan oleh Hanoman tepat saat panah sakti Gowawijaya yang dilepaskan Ramadewa merenggut kekuatannya untuk sesaat.

Maka satu-satunya cara memenjarakan sifat tamas, ketamakan, kegelapan dan kejahatan adalah dengan menimpanya dengan kemuliaan yang oleh Itihasa dilambangkan dengan Gunung Muliawan itu. Mereka yang tak memiliki Gunung Muliawan dalam hatinya, akan dikuasai sifat tamas dari tri guna dan dengan itu mereka bertindak mewakili Rahwana menyebarkan kejahatan, kegelapan, kesedihan di dunia.

Oleh: Ketut Budiasa I Sekjen Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia
Source: https://www.facebook.com/budi.sepang/posts/10212621559508491