Ajya Wera, Aja Ewere

Mengacu pandangan Pierre Bourdieu, salah satu modal besar yang dimiliki umat Hindu (Bali) adalah modal simbolik. Modal simbolik meliputi segala bentuk prestise, status, otoritas dan legitimasi. Khusus terkait dengan legitimasi, modal simbolik, merupakan upaya melestarikan dan meningkatkan pengakuan sosial melalui reproduksi skema-skema persepsi yang paling cocok hingga menghasilkan tindakan-tindakan simbolik yang bahkan kemudian diwarisi turun temurun. Salah satu modal simbolik dimaksud adalah adagium “ajya wera” (haywa/avwa wera, ajya wera, aja wera), yang dalam bahasa Jawa sepertinya sepadan dengan kata “ojo dumeh”. Artinya kurang lebih: “jangan mabuk” atau “jangan sombong”, setelah mempelajari atau menguasai sesuatu, bisa pelajaran/pengetahuan, kemampuan, kelebihan, keunggulan, atau kekuatan.

Aywa wera tan siddhi phalanya”, begitu piteket para tetua yang artinya hendaknya jangan mabuk atau sombong oleh sebab kelebihan yang dimiliki (apapun bentuknya), karena menjadi tiada bermanfaat atau tidak berphala bagi siapapun, bahkan bisa merugikan banyak pihak. Kalau ilmu misalnya, apalagi ilmu agama yang berkaitan dengan ketuhanan transenden, yang secara permanen diyakini sebagai pondamen sraddha-bhakti, apabila dipelajari atau dipahami dan kemudian dilaksanakan dengan sembarangan/serampangan, dipercaya akan menjadi bumerang baginya. Bahkan acapkali dikatakan bisa membuat "buduh” (gila), setidaknya stres, tampak seperti orang terkena gangguan psikis lantaran belum siap diri mempelajari atau menerima ilmu agama yang berada di tingkatan kasunyatan, lebih-lebih ilmu black magic yang bermain di tataran kesaktian (kawisesan).

Sejatinya, yang membuat “buduh” itu bukan karena belum siap menerima atau menguasai ilmu dimaksud, melainkan lantaran keadaan kita yang masih “bodoh”, alias tiadanya ilmu sebagai modal awal kesiapan diri menerima ilmu baru atau tambahan ilmu lain. Apalagi pada saat terjadi transfer dan transformasi ilmu tersebut selalu direspon dengan kata “badah”, sebagai tanda ketidaksiapan diri menerima atau menguasai ilmu dimaksud. Dipastikan akan melahirkan “jelema matah”, menguasai hanya sedikit ilmu, lalu merasa diri sudah mumpuni, lanjut diperagakan sembarangan, inilah yang dapat disebut sebagai anak punyah, bagaikan pendekar mabuk yang pastinya dapat membahayakan diri dan juga orang lain.

Khusus untuk melancarkan penguasaan ilmu Veda (kerohanian) agar tidak mabuk, telah disuratkan di dalam kitab Vayu Purana I. 201: “Nihan paripurnekena kenaikang sang hyang Veda, makasadana iti hasa kalawan sanghyang purana, apan sanghyang Veda atakut tinukul olih wwang akidik ajinia”, maksudnya, kalau ingin menyampurnakan ilmu tentang Veda sebaiknya pelajari dan kuasai dulu itihasa (sejarah) dan purana (mitologi kuno), karena Veda sangat takut kalau disalahtafsirkan oleh mereka yang sedikit ilmunya (bodoh).

Mengacu jenjang pendidikan, untuk menapak ke tingkatan ilmu yang lebih tinggi, secara psikologik, metodik, dan didaktik memang wajib mengikuti tahapannya, tidak ujug-ujug berhasrat atau berambisi menguasai ilmu tingkat tinggi. Bagaikan tangga, satu demi satu anak tangga keilmuan (pengetahuan, kerohanian, termasuk kawisesan) harus dinaiki/didaki sebagai tanda kesiapan diri untuk menerima ilmu tingkat lanjut yang pastinya lebih tinggi dan berat. Itulah namanya proses menjadi (to be) bukan sekedar memiliki (to have). Dalam konsep pendidikan berdasar kearifan lokal Bali ada istilah, bahwa proses pembelajaran/pendidikan wajib melalui tahapan yang disebut: “bisa, nawang, dadi”.

Untuk “bisa” (baca : bise) wajib melajah dengan “teleb” atau “seleg”, harus menunjukkan sikap ajeg, enteg, degdeg, tidak boleh ngulurin gedeg apalagi ngredeg dan saling panteg. Dengan modal “bisa” meningkat menjadi “nawang” (mengetahui, memahami dan menguasai), yang seterusnya memuncak pada level “dadi” (nadi), menjadi apa saja sesuai dengan kemampuan/kelebihannya. Setelah berada pada tingkatan “dadi” inilah, diberikan piteketajya wera”, artinya jangan mabuk, tidak boleh sombong dalam mengemban amanat keilmuan yang telah dikuasai. Sebab, bagaikan tombak bermata tiga, demikian juga ilmu itu, lebih-lebih ilmu agama (kerohanian/spiritual), dan apalagi ilmu kawisesan; pertama, bisa menjadi jalan peningkatan kualitas jnana-tattwa guna memperkuat sraddha dan bhakti; kedua jika diterapkan tanpa kendali hati nurani, dapat menjerumuskan pada sifat dan sikap sombong/angkuh yang tentunya membahayakan diri dan juga orang lain; dan ketiga, apa yang telah dipelajari, dipahami dan dikuasai justru tidak akan membawa manfaat apa-apa bagi siapapun, lantaran tanpa internalisasi ke dalam diri, dan juga tidak diimplementasikan bagi kepentingan umat atau masyarakat.

Istilah Balinya, pocol ngelah ilmu (karirihan), sing dadi anggon gena, bilih-bilih ten meduwe geginan (rugi mempunyai ilmu, kemampuan, kelebihan, keunggulan atau bahkan kawisesan, lantaran tidak berguna bagi orang lain, lebih-lebih yang bersangkutan tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran), tentunya sangat membahayakan, bisa data-data gaene (bisa macam-macam dikerjakan, entah baik ataupun buruk).

Semakin dapat dipahami, menelisik arti adagium “ajya wera” di atas, sesungguhnya mengandung makna sebagai sesanti untuk mana bagi siapapun yang hendak mempelajari apalagi kemudian berhasil menguasai ilmu apapun hendaknya tetap bersikap rendah hati. Seperti ilmu padi, semakin berisi sepatutnya bertambah merunduk. Nasihat panglingsir, “de ngaden awak bisa, depang anake ngadanin”, jangan merasa diri “bisa, nawang” meskipun sudah “dadi”, biarkan orang lain menilai dan mengambil manfaat atas ilmu yang dimiliki. Ilmu itu tidak untuk dipamerkan karena akan menunjukkan keangkuhan atau kesombongan, yang seterusnya menjerumuskan pada kehancuran.

Adagium “ajya wera”, tampaknya sekaligus juga mengingatkan untuk “aja ewere”, de ewer, adigag adigung, de degag de ajum, karena akan dapat menyerang balik hingga menghancurkan diri sendiri. Pepatah kuno mengisyaratkan, “menepuk air di dulang”, terkena muka sendiri, akan membuat malu, memalukan bahkan memilukan. Ilmu, entah itu ilmu pengetahuan duniawi, ilmu keagamaan (kerohanian/spiritual), termasuk ilmu kawisesan (yang bersifat magis), sah-sah saja dipelajari, atau bahkan dikuasai, asalkan melalui proses penjenjangan, baik ketika proses pendidikan/pembelajaran berlangsung, setelah berhasil menguasai dan paling penting tatkala diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya bermanfaat bagi dirinya, lebih penting lagi untuk keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain: gumaweaken sukanika nang wong len.

Oleh: I Gusti Ketut Widana
Source: Majalah Wartam, Edisi 33, November 2017