Ajaran Yoga Dalam Tradisi Hindu di Indonesia [2]

(Sebelum)

Sadhaka dan Sadhika : Yantra, Mudra dan Mantra

Sudah disebutkan di atas bahwa Sadhaka artinya ia yang melaksanakan Sadhana Yoga. Bagi yang perempuan disebut Sadhika. Juga sudah disebutkan bahwa jalan yoga memiliki landasan yang disebut dengan Dasasila, dan inilah sasana terpenting yang menjadi landasan tingkah laku seorang Sadhaka maupun Sadhika.

Apabila kita memperhatikan pelaksanaan yajna yang dilakukan oleh para Sadhaka, maka sesungguhnya ada lapisan-lapisan simbol dan atau nilai yang tergelar, namun sangat sulit untuk dilihat. Kitab Bhuwanakosa memberikan penjelasan tentang lapisan-lapisan tersebut mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah : Arcana, Mudra, Mantra, Kutamantra, dan Pramanamantra. Dalam pelaksanaan yajna semuanya merupakan sebuah kesatuan.

Yang dimaksud arcana di sini adalah berbagai bentuk simbol-simbol keagamaan, termasuk upakara (banten) dan juga yantra. Yantra umumnya berarti alat untuk melakukan pemusatan pikiran, dapat berbentuk pratima atau mendala, yantra dapat berbentuk diagram, dilukis atau dipahatkan di atas logam, kertas atau benda-benda lain yang disucikan. Yantra secara simbolik adalah tempat mensthanakan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagi seorang pemuja Saraswati, aksara atau lontar/kitab adalah yantra. Di tempat lain daksina (banten daksina) atau catur (banten catur) adalah yantra, maka yantra adalah alat sejauh itu berguna sebagai obyek untuk mensthanakan pikiran, tetapi sekaligus juga dapat menerima turunnya dewa yang dipuja.

Mudra berasal dari akar kata mud berarti "Membuat senang". Mudra diyakini membuat dewata yang dipuja menjadi senang. Terdapat 108 mudra, 55 di antara yang biasa digunakan. Mudra yang dimaksudkan di sini adalah sikap-sikap ketika memuja, dilakukan dengan posisi di tangan dan jari-jari tertentu, termasuk sikap badan seperti dalam latihan yoga. Matsya mudra misalnya dilakukan ketika mempersembahkan arghya, yaitu dengan meletakkan tangan kanan di punggung tangan kiri lalu direntang, seperti sirip kedua ibu jari, dan sangu yang berisi air diandaikan samudra lengkap dengan ikan-ikan di dalamnya. Di samping untuk menyenangkan dewata, mudra juga diyakini dapat memberikan siddhian pelaksanaannya dapat memberikan keuntungan bagi tubuh seperti kestabilan kekuatan dan penyembuhan penyakit. Mudra adalah hal yang sangat penting bagi para sulinggih di Bali dalam pelaksanaan yajna.

Setelah mudra kita masuk ke dalam hal yang sangat penting yaitu mantra, kuta-mantra dan pranawa mantra. Mantra disusun dengan aksara-aksara tertentu, diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu bentuk bunyi, sedangkan aksara-aksara itu sebagai perlambang dari bunyi tersebut. Untuk menghasilkan pengaruh yang dikehendaki, mantra harus disuarakan dengan cara yang tepat, sesuai dengari swara (ritme) dan warna (bunyi). Mantra itu mungkin jelas dan mungkin tidak jelas artinya. Kuta-mantra atau wija-mantra, misalnya hrang, hring sah, tidak mempunyai arti dalam bahasa sehari-hari. Tetapi mereka yang sudah menerima inisiasi mantra mengetahui bahwa artinya terkandung dalam perwujudannya itu sendiri (swa-rupa) yang adalah perwujudan dewata yang dipuja. Untuk memahami hal ini terlebih dahulu kita harus memahami proses lainnya mantra atau wija-mantra itu sendiri.

Seperti halnya di antariksa gelombang bunyi dihasilkan oleh gerakan-gerakan udara (wayu), karena itu di dalam rongga tubuh yang menyelubungi jiwa gelombang bunyi dihasilkan oleh gerakan-gerakan prana-wayu dan proses menarik dan mengeluarkan nafas. Shabda pertama kali muncul di muladhara-cakra di dalam muladhara disebut para, berkurang kelembutannya ketika sudah sampai disanubari yang dikenal dengan pasyanti. Ketika mencapai buddhi bunyi itu sudah menjadi lebih kasar lagi denyut madhyama. Akhirnya sampai kepada wujudnya yang kasar, keluar mulut sebagai waikhari. Substansi semua mantra adalah cit, dengan perwujudan luarnya sebagai bunyi, aksara, kata-kata. Maka aksara itu sesungguhnya adalah yantra dari Aksara atau Brahman yang tak termusnahkan.

Beberapa proses harus dilakukan sebelum mantra itu dapat diucapkan, seperti penyucian mulut (mukha soddhana), penyucian lidah (jihwasod-dhana), penyucian terhadap mantra itu sendiri (ashancabhanga) dan lain-lain. Yang intinya segala dalam suasana penuh kesucian.

Pranawa Mantra adalah OM, yang merupakan intisari semua mantra. Kitab Jnanasidhanta menguraikan secara mandala pranawa mantra ini dalam bab : Sang Hyang Pranawa-mantra kemoksan, Utpatti, sthiti, Pralina sang hyang Pranawa, sapta Siwarcana, nga, sang wruh ring dipana pranawa tepet ri kapujan bhatara, maka jelaslah betapa pentingnya pengetahuan tentang pranawa-mantra tersebut dalam memuja Siwa, bagi seorang sadhaka. Dalam Jnana Sidhanta juga ditegaskan : Sang hyang Omkara sira mantra saang sadhaka ri sang Hyang Linggagrahya.

Demikianlah lapisan-lapisan nilai sepiritual yang dituangkan di dalam proses yajna oleh seorang Sadhaka yang tiada lain adalah seorang yogi. Lapisan paling luar yang disebut sebagai Arcana, termasuk didalamnya adalah berupa banten lebih banyak merupakan perwujudan simbolis dari praktik yoga seorang sadhika atau tapini. Banten sesungguhnya adalah ruangan dari Tattwajnana, yang diwujudkan dalam suasana penuh kesucian. Dalam proses membuat banten tidak saja syarat kesucian merupakan hal yang mutlak, tetapi juga pemusatan pikiran tak kurang pentingnya. Dalam proses membuat banten sesungguhnya terjadi proses yoga, karena banten adalah juga yantra, tempat memusatkan pikiran.

Apabila kita memperhatikan lebih lanjut sikap duduk seorang sadhaka, yaitu sikap Padmasana, jelas bagi kita bahwa hal itu juga merupakan perwujudan dari ajaran yoga. Sikap duduk ini adalah salah satu sikap duduk yang terpenting dalam rangka memuja Siwa, dan Hyang Sadasiwa juga dinyatakan duduk di atas bunga padma. Kitab Wrehaspatitattwa menguraikan apa yang disebut sebagai Padmasana. Disebutkan bahwa Padmasana adalah sebagai tempat duduk Bhatara Sadasiwa, dan yang dimaksud dengan Padmasana yaitu Shakti Beliau terdiri atas Wibhusakti, Prabhusakti, Jnana-sakti, Kriyasakti. Selanjutnya dijelaskan Sanghyang Sadasiwa bersthana ditengah-tengah Padmasana tersebut dengan menjadikan mantra sebagai badan beliau.

Padmasana sebagai sikap duduk seorang sadhaka jelas berkaitan dengan tegaknya tulang punggung, leher dan kepala, karena disana tempatnya Sad-cakra, mulai dari Muladhara cakra sampai dengan Sahasrara Cakra. Semuanya berbentuk padma, yang juga menjadi tempat bersemayamnya kekuatan Siwa, dan dipuncaknya, di Sahasrara Cakra (padma berkelopak seribu di kepala manusia) adalah tempat bersthananya Hyang Siwa sendiri. Dengan demikian sikap tubuh begitu penting bagi seorang sadhaka dalam pelaksanaan sadhana yoga. Tubuh juga digambarkan sebagai gunung, dimana di puncaknya berstana Hyang Siwa.

Ketika di Bali dibangun Padmasana oleh Dang Hyang Nirartha, jelas ini dimaksudkan untuk mengukuhkan dan meneguhkan ajaran yoga di daerah ini. Sebuah bangunan suci yang disebut Padmasana adalah perwujudan dari sebuah konsepsi tentang Padmasana yang menjadi sthana Hyang Siwa. Memang dalam banyak tulisan Dang Hyang Nirartha kita ketahui bahwa Padmasana itu sesungguhnya ada di dalam diri manusia, sebagaimana disuratkan di dalam Kakawin Dharma Sunya, Dharma Putus, Dharma Prasada dan yang lain, namun wujud sebuah bangunan suci yang disebut Padmasana mutlak perlu bagi penataan masyarakat.

Dalam Dharma Sunya beliau menulis : wwanten munggu ri madhya nin kamala tulya hima jala ri tungtung ing trena; himper surya katon prabhanya sumeno dumilah amenuhi ng tri mandala; ring madhya nika cunya nirbana lengong pangawak ira bhatara hyang ciwa. (Adalah sesuatu bertempat di tengah-tengah bunga padma, bagaikan butir embun di ujung rumput; sinarnya terlihat bagaikan sinar surya, bercahaya cemerlang memenuhi ketiga dunia; di tengahnya adalah cunya-nirbana, sungguh indah nampaknya, melihat tetapi tidak kelihatan; senantiasa sadar, cunya, terjaga bersinar perwujudan Bhatara Hyang Ciwa).

Sebagai yantra Padmasana menempati posisi yang sangat penting, seperti halnya daksina atau banten catur. Oleh karena itu yantra yang penuh simbolis tersebut senantiasa di jaga kesuciannya dengan berbagai cara, karena menjadi ruangan dan pemusatan pikiran para sadhaka dan seluruh umat Hindu. Dengan yantra tersebut umat Hindu secara keseluruhan dapat melaksanakan praktik yoga, sebagai jalan pemanunggalan dirinya dengan Sang Pencipta.

Kaliyuga
Bukan tanpa alasan apabila Mpu Kanwa menyuratkan sembah pujaan kepada Hyang Siwa dengan menuangkan Tattwa ke dalam bait-bait sembah tersebut. Bahwa Hyang Siwa adalah bagaikan api di dalam kayu, bagaikan minyak di dalam santan. Yang nyata-nyata keluar kalau ada orang amuter tutur, atau memusatkan pikiran kepada-Nya. Pemusatan pikiran itu adala bagian dari ajaran Sad Anggayoga. Dan Mpu Kanwa menegaskan bahwa pada dia yang melaksanakan yoga, Hyang Siwa menampakkan diri (ring angembeki yoga kiteng sakala).

Bukan tanpa tujuan apabila Danghyang Nirartha menghadirkan konsepsi Padmasana didaerah ini. Dengan hadirnya Padmasana sesung-guhnya Maha Pandita ini telah menanamkan dan mengukuhkan ajaran yoga, yang patut dimekarkan oleh masyarakat. Memang pada akhirnya Beliau menginginkan masyarakat menyadari bahwa sesungguhnya Padmasana itu ada di dalam diri kita masing-masing, namun sebuah yantra yang disebut Padmasana diperlukan dalam rangka menyatukan pikiran seluruh masyarakat yang dipimpin oleh seorang Sadhaka, yang tiada lain adalah seorang yogi.

Ajaran yoga memang ajaran sangat penting untuk kita pelajari dewasa ini secara sungguh-sungguh, terlebih lagi dalam menghadapi Kaliyuga.

Source : IBG. Agastia l Warta Hindu Dharma NO. 510 Juni 2009