Ajaran Saraswati di Era Globalisasi

Hari suci Sarasswati adalah hari suci bagi agama hindu untuk memuja shakti personafikasi Tuhan sebagai pencipta (Brahma). Dalam kontes tradisi beragama, Dewai Saraswati adalah objek pemujaan dalam kaitannya dengan seni dan ilmu pengetahuan. Setidaknya ada dua pendapat tentang perayaan hari suci Saraswati, pendapat pertama menyatakan bahwa Saraswati merupakan peringatan atas turunya ilmu pengetahuan. Yang kedua ada yang menyatakan sebagai turunya Weda, kitab suci agama Hindu.

Sarasswati bukanlah hari untuk memperingati turunnya Weda. Weda secara garis besar terdiri atas empat kitab (catur veda) yang berisi banyak ayat tidak diturunkan dalam satu hari. Sloka-sloka Wesa yang banyak jumlahnya itu disusun dalam kurun waktu yang sangat lama dan tidak ada catatan yang jelas tentang kapan turunya sloka-sloka Weda tersebut (Madrasuta, 1997). Terlepas dari kedua pendapat ini, yang pasti bahwa hari suci Saraswati adalah hari khusus yang memberikan kesempatan kepada Umat-Nya untuk senantiasa memperkokoh hubungannya dengan Sang Pencipta, dengan senantiasa menyadari makna kelahirannya ke dunia.

Shalti dan Penciptaan

Dalam Brahma Widya (Teologi Hindu), Dewi Saraswati adalah shakti Dewa Brahma. Dewa Brahma sendiri adalah manifestasi Tuhan sebagai sang pencipta (Utpheti), konsep shakti ini menjelaskan adanya unsur perempuan dan laki-laki sebagai Purusa dan Pradhana, yang berasal dari yang satu dan akan kembali menyatu. Secara harfiah, shakti mengandung makna kekuatan. Dewa Brahma sebagai dewa yang bertanggung jawab dalam hal penciptaan mempunyai shakti Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan

Secara harafiah, sakti mengandung makna kekuatan. Dewa Brahma sebagai Dewa yang bertanggungjawab dalam hal penciptaan mempunyai shakti Dewi Saraswati sebagai Dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Makna yang terkandung didalamnya adalah bahwa ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan merupakan syarat utama bagi sebuah proses penciptaan. Tanpa adanya ilmu pengetahuan tidak akan ada penciptaan, jika tidak ada penciptaan makan tak akan ada kemajuan, tanpa kemajuan mustahil akan terwujud kebahagian

Simbolisasi Saraswati

Dewa Brahma yang memiliki kemampuan menciptakan, tidak ada suatu hari khusus untuk pemujuan kepada-Nya. Justru Dewi Saraswati lebih populer dibandingkan Dewa Brahma. Hal ini menunjukkan bahwa Saraswatilah yang berfungsi sebagai pemegang dan penanggung jawab ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan serta rehasia penciptaan. Dalam kitab pancama Veda terhadap hubungan antara proses penciptaan dan ilmu pengetahuan (intelek) serta kebijaksanaan.

"Ketahuilah oh Partha, Aku ini adalah benih abadi dan semua insani, Aku adalah budi pekerti dari kaum intelektual dan Aku adalah cemerlangnya keindahan," (Bhagavad Gita, VII.10). Secara tersurat dan tersirat terdapat korelasi antara Ilmu Pengetahuan dan Penciptaan itu. "Aku ini adalah benih abadi dari semua insani" mengandung makna bahwa Tuhan adalah asal mula dari segala yang telah dan akan ada. Tentang pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Seni dalam proses penciptaan dapat kita simak dari kata "Aku adalah budi pakerti dari kaum intelektual dan Aku adalah cemerlangnya keindahan ".


Dalam proses pemujaan, personifikasi dari aspek Brahman (Personal God)   mutlak   diperlukan,   agar terjangkau oleh daya khayal dan perasaan bathin bhaktanya. Tak luput dalam pemujaan Dewi Saraswati yang berparas cantik adalah manifestasi dari aspek feminim Sang Pencipta, perwujudan dari Ilmu Pengetahuan dan kebijaksanaan dalam penggambarannya penuh dengan perlambang yang sarat dengan   nilai-nilai filosofis dan sosiologis, Di tangannya la memegang wina (sejenis gitar) sebagai lambang irama musik alam semesta, rangkaian manik-manik di jari tangannya menghasilkan doa dan konsentrasi yang penting dan gulungan daun palma (lontar) yang dipegang-Nya mewakili ilmu Pengetahuan dan kebijaksanaan. Ia duduk di atas teratai suci di atas burung merak. Teratai suci yang sarinya selalu putih mengisyaratkan kepada kita bahwa semua nilai Ilmu Pengetahuan adalah  suci  tanpa  ternoda oleh ketidakbenaran dan egoisme harus selalu ditekan, ini dilambangkan oleh burung merak yang diduduki-Nya Angsa yang lemah lembut gemulai adalah kendaraannya yang mengisya¬ratkan kepada kita agar mampu berwiweka untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik dan dapat melaksanakan Dharma itu layaknya seekor angsa yang dapat memisahkan air dan susu sebelum susu itu diminumnya, (Sindhu, 1997).


Dengan demikian bahwa di dalam menuntut Ilmu Pengetahuan diperlukan kebijaksanaan yang berlandaskan kesucian hati (teratai), wiweka (angsa) dengan jalan menekan egoisrne (merak) disertai doa dengan konsentrasi pikiranyangbaik (rangkaian genitri dan manik-manik) dapat dilakukan dengan mempelajari pustaka/buku (lontar) dan selalu tunduk kepada hukum alam (rta), irama musik alam semesta.

Makna Perayaan Hari Suci Saraswati

Merayakan Hari Suci Saraswati dengan melakukan pemujaan kepada Sang Dewi Penguasa Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan (dewa ning pangeweruh) mengandung makna bahwa kita Umat Hindu sangat menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai Ilmu Pengetahuan, dan Kebijaksanaan, Ilmu Pengetahuan dalam Saraswati tidak hanya pengetahuan yang bersifat material (aparawidya), akan tetapi yang lebih penting adalah pengetahuan yang bersifat rohaniah (parawidya), yaitu pengetahuan tentang hakekat Sang Diri Sejati.

Pentingnya Ilmu Pengetahuan

Dalam sastra Hindu banyak sekali kita jumpai pujian tentang kemuliaan Ilmu Pengetahuan Misalnya saja sloka berikut : "Belajarlah dengan sujud disiplin, dengan bertanya dan dengan kerja berbhakti, guru budiman yam meltimt kebenaran akan mengajarkan padamu ilmu budi pakerthi" (Bhagawad Gita. IV. 34). Bahwa ada tiga syarat yang harus dilakukan dan dipatuhi dalam proses belajar, yaitu hormat, sujud dan disiplin kepada guru (pranipatena) dengan bertanya, mencari dan menganalisa serta mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperoleh (pariprasena) dan berbhakti, melayani dan setia dengan tulus ikhlas kepada guru (sevaya). “Persembahan berupa ilmu pengetahuan, oh Arjuna, adalah lebih mulia dari pada persembahan materi. Dalam seluruh kerja ini berpangkal pada ilmu pengetahuan,” (Bhagavad Gita, IV.33).

 

Tidak ada sahabat yang dapat melebihi ilmu pengetahuan yang tinggu faedahnya, tidak ada musuh yang berbahaya dari pada nafsu jahat dalam hati sendiri, tidak ada cinta yang melebihi cinta orang tua kepada anaknya dan tidak ada kekuatan yang menyamai nasib, karena kekuatan nasib tidak tertahan oleh siapapun jua. Sangat disayangkan bila orang kaya tiada mempunyai kepandaian. Biarpun muda, keturunan bangsawan dan berbadan sehat, bila tiada ilmu pengetahuan mukanya pucat tiada bercahaya, seperti bunga dapdap merah menyala namun tiada wangi. (Niti Sastra, II.5dan7).

 

Dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dapat meningkatkan kualitas hidup kita baik secara jasmani maupun rohani. Di dalam sastra Hindu juga jelas tersurat adanya motivasi agar Umat-Nya senantiasa belajar (menuntut ilmu) dan masa dimana kita menimba ilmu inilah dinamakan masa brahmacari asrama. Marilah kita simak kembali sloka ke-34 Bhagavad Gita tersebut. Belajarlah dengan penult disiplin, dengan bertanya, bekerja dan berbhakti.., jelas ada sebuah motivasi dan sekaligus perintah di dalamnya dimana kita sebagai Umat Hindu harus senantiasa meningkatkan pengetahuan baik pengetahuan yang sifatnya kebendaan maupun pengetahuan rohaniah. Karenanya perilaku seseorang, hendaklah dipergunakan sebaik-baiknya masa muda, selagi badan sedang kuatnya, hendaklah dipergunakan untuk usaha menuntut dharma, artha dan ilmu pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan orang tua dengan kekuatan anak muda, contohnya adalah seperti ilalang yang telah tua itu menjadi rebah, dan ujungnya tidak tajam lagi. (Sarasanmuccaya, 27).

Dengan pengusaan ilmu pengatahuan, maka hendaknya dapat meningkatkan kebijaksanaan kita, yakni dengan menguasai ilmu pengetahuan dapat dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang baik bagi agama, bangsa dan negara. "Sebab meski sempurna pengetahuan seseorang tentang sesuatu ilmu, jika dursila (buruk laku) tiada berguna itu, sebab menjadi suluh untuk bertindak yang benar, demikianlah gunanya ilmu pengetahuan itu, singkat-nya, sastra (ilmu pengetahuan) itu, jika ada pada orang yang dursila sia-sialah, hilang kesuciannya" (Sarasarnuccaya, 349 dan 350).

"Walau seandainya engkau orang yang paling berdosa diantara manusia yang memikul dosa, dengan perahu Ilmu Pengetahuan ini lautan dosa engkau akan seberangi' (Bhagawad Gita. IV.36). Bukan yang tua usia itu kiranya arif, bukan yang ronyok laju kulitnya, bukan yang keriput seluruh tubuhnya, bukan yang ubanan rambut-nya, melainkan hanya yang berbudi luhur saja yang paham akan keadaan yang hakiki, belku itulaharifbijak?.nna namanya, itulah sejatinya ilmu pengetahuan yang dapat membantu melewatkan dari bhawa sagara atau bhawa cakra/lumimbal lahir" (Sarasarnuccaya, 504).

Wejangan Sri Kresna kepada Arjuna tentang pentingnya Ilmu Pengetahuan (jnana) diakhiri dengan pernyataan berikut. "Sebab itu, setelah memotong keraguan dalam hatimu karena ketidaktahuan, dengan pedang Ilmu Pengetahuan dan berpegang pada yoga, bangkitlah oh Bharata" (Bhagavad Gita. IV, 42). Dengan kerja yang benar, Ilmu Pengetahuan dan disiplin jiwa yang teguh, serta terhapusnya keraguan hati, melalui Awatara Kresns, Tuhan mengharapkan kita untuk bangkit dan bertindak dalam memerangi kebodohan (awidya) dan keterbelakangan.

Oleh: Jati Arsana
Source: Warta Hindu Dharma NO. 434 April 2003