Ajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Sebagai Sumber Pendidikan Budi Pekerti [2]

(Sebelumnya)

Sebagai umat, manusia mempunyai kewajiban-kewajiban antara lain :

a. Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Manusia berkewajiban untuk berbakti, mengabdi, melaksanakan segala tuntutannya untuk menuju pada keselamatan dunia beserta isinya.

b. Terhadap diri sendiri
Manusia berkewajiban untuk mengembangkan potensi, sesuai dengan jalur yang wajar dan dapat ditrima oleh akal sehat, selanjutnya menempa diri untuk dapat menjalankan tugas suci sehingga tercapai kebahagiaan hidup di dunia nyata dan akhirat.

c. Terhadap sesama manusia
Manusia berkewajiban untuk melaksanakan kontrol sosialnya demi kepentingan sesama dan terhormat kedudukannya, selanjutnya sebagai manusia berkewajiban pula mewujudkan Titi, Tata, Tutur dan Tentrem.

Titi berarti astiti/bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi, para leluhur, kawitan betara-betari, Hyang, dan terutama sekali kepada bapak dan ibu yang melahirkan. Tata berarti bertingkah laku yang baik/beretika. Tutur berarti berkata-kata yang baik. Tentrem berarti dengan titi, tata, dan tutur yang baik akan dapat ketentraman. Itulah pitutur luhur yang telah diwariskan oleh sesepuh organisasi Wisnu Budha/Eka Adnyana (alm I Gusti Made Rai) kepada putra-putranya dan seluruh warganya yang pada hakikatnya sama dengan ajaran Trikaya Parisuda, yaitu berpikir, berkata, dan berbuat yang baik. Disamping itu ada pula larangan-larangan yang tidak boleh dilaksanakan oleh warga Wisnu Budha/Eka Adnyana yang disingkat 4 M, yaitu Main, Maling, Madon, Madat. Main berarti berjudi, maling berarti mencuri, Madon merusak anak/istri orang/berselingkuh, dan madat berarti mabuk-mabukan ataupun menggunakan narkoba.

Menurut ajaran Organisasi Kekeluargaan, kata manusia berasal dari kata manushya yang berarti mahluk yang mempunyai pikiran. Pikiran inilah yang membedakan manusia dengaan mahluk hidup lainnya seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Manusia adalah mahluk yang paling sempurna diantara semua mahluk lainnya, karena manusia memiliki 3 unsur yaitu : bergerak, berbicara dan berpikir (bayu, sabda, idep). Manusia memiliki kesempurnaan indria untuk mengantarkan dirinya untuk mencapai tujuan hidupnya dan dengan menggunakan akal pikirannya manusia dapat mengatasi segala kesulitan-kesulitan hidupnya dimana hal ini tidak dapat dilakukan oleh mahluk lainnya. Menjadi manusia sungguh utama karena ia dapat menolong dirinya dari sengsara dengan jalan karma yang baik. Demikian keistimewaan menjadi manusia.

Menurut Paguyuban Penghayat Kunci, manusia sebagai salah satu ciptaan Tuhan yang terjadi akibat pertemuan kama bang dan kama petak (darah merah dan darah putih) lahir kedunia memiliki dua unsur yaitu jiwa dan raga. Jiwa berasal dari pancaran sinar suci Yang Maha Suci, sedangkan raga berasal dari sarinya sari bumi yaitu air, api, udara, dan sarinya dari langit. Manusia sebagai mahluk tertinggi dilengkapi cipta, rasa, dan karsa yang mana pengungkapannya melalui pemikiran, kata dan perbuatan. Menurut Bambu Kuning, manusia tercipta Oleh Tuhan dengan struktur badan rohani dan badan fisik. Roh adalah satwam, yaitu zat Tuhan yang sangat gaib, sedangkan pisik adalah pembungkus atau wadah roh (rohani) yang berisi keinginan-keinginan atau disebut rajas-tamas.

Sipat-sipat manusia menurut Bambu Kuning terdiri dari satwam, rajas dan tamas. Para anggota Bambu Kuning berusaha memunculkan/membangkitkan satwam itu kepermukaan, karena ia memiliki kekuatan maha gaib. dengan mengalirnya secara terus-menerus maka diharapkan seseorang mempunyai sifat-sifat satwam dalam kehidupannya disamping memiliki kekuatan gaib yang dahsyat. Dengan demikian berarti pula berusha untuk mengurangi atau mengendalikan rajas-tamas itu. Menurut Surya Candra Bhuana, ajaran tentang manusia yang telah diwariskan leluhur dengan istilah Tatwamasi yang artinya saya adalah kamu dan kamu adalah saya. Ajaran budaya inilah yang perlu ditanamkan pada setiap orang. Dengan demikian akan terjadi hubungan yang harmonis antara manusia itu sendiri saling menghargai dan saling menghormati.

3. Ajaran Tentang Alam Semesta

Menurut Budi Suci, alam semesta merupakan suatu ruang yang ada di luar diri manusia, ruang yang memiliki kemampuan akan ketergantungan manusia dalam menopang hidupnya. Alam semesta terjadi dalam ciptaan Tuhan.
Menurut Sanggar Pengayoman Majapahit, ajaran tentang alam semesta dilaksanakan dengan bermohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar semua mahlik di dunia hidup damai dan sejahtera.
Menurut Wisnu Budha/Eka Adnyana, asal-usul alam ini pada saat diciptakan oleh Yang Maha Kuasa adalah merupakan pecahan dunia yang berpungsi sebagai tempat hidup bagi pengabdi alam. Pada alam tersebut terkandung kekuatan-kekuatan yang tidak dapat terukur oleh kemampuan manusia seperti tak terbendung dan tergoyahkan, maha kuat, maha dahsyat/ganas, maha pemurah. Disamping itu alam memberikan manfaatnya kepada manusia sampai batas manusia dapat mennyesuaikan, menempuh, dan mencapai keinginannya.
Menurut Organisasi Kekeluargan, ajaran tentang alam semesta ini dimulai dari kesadaran manusia bahwa gerak dalam alam ini disebabkan oleh adanya suatu kekuatan yang disebut jiwa. manusia percaya bahwa gerak alam hidup ini disebabkan oleh adanya jiwa yang ada dibelakang peristiwa alam seperti air sungai yang mengalir dari gunung ke laut, adanya gunung meletus, adanya gempa bumi yang merusak dengan taufan yang menderu, jalannya matahari di angkasa, semuanya disebabkan oleh jiwa alam. (Bersambung)

Oleh: Drs. I Made Purna, M.Si dan I Made Suarsana, SH
Source: Warta Hindu Dharma NO. 521 Mei 2010