AJA WERA yang Dipelesetkan Maknanya Menghambat Upaya Kwalitas Umat Hindu

Di Bali kata majemuk Aja Wera tidak asing lagi. “Aja Wera” terdiri atas dua buah kata. “Aja” dan “Wera”. "Aja" kawi berarti “jangan” (Kamus Bahasa Bali I Wayan Simpen AB) dan (Kamus Bahasa Kawi Mardi Warsito). “Wera” berarti ribut, bahasa Balinya uyut, endeh (Kamus Bahasa Bali I Wayan Simpen AB), juga berarti “mabuk”, gila-gilaan (Kamus Bahasa Kawi Mardi Warsito). Jadi “Aja Wera” atau “Aja Were” berarti jangan ribut, jangan mabuk, jangan gila-gilaan, ketika seseorang ingin belajar pengetahuan agama maupun pengetahuan lainnya hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam situasi yang tenang, aman, tidak ribut, gaduh dan tidak mabuk, gila- gilaan berbuat aneh-aneh.

Ketika memperlajari ilmu pengetahuan apapun apalagi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan agama harus dengan konsentrasi, fokus pada ilmu yang dipelajari. Tentu ilmu pengetahuan akan mudah diserap oleh pikiran dan sebaliknya kalau belajar dalam keadaan riuh rendah maka ilmu pengetahuan akan sulit diserap.

Di Bali seseorang ingin mempelajari pengetahuan agama, membaca pustaka suci agama di dahului dengan upacara Pawintenan Saraswati yang bermakna agar ketika mulai belajar diberi tuntunan, sinar suci Sang Hyang Aji Saraswati. Dengan tuntunan-Nya seseorang akan mempunyai pikiran jernih, suci dan tenang ketika belajar.

Yang menjadi persoalan adalah mengapa masyarakat Bali yang beragama Hindu, apalagi anak-anak muda kurang berminat membaca kitab-kitab yang berasaskan agama Hindu? Sikap enggan ewuh pakewuh itu, tentu ada penyebabnya. Salah satu penyebab di antara penyebab yang lain adalah, karena arti Aja Wera yang sebenarnya dipelesetkan. Dari sejak dulu kata-kata Aja Wera dipahami secara tidak benar.

Aja Wera diartikan, bahwa hal-hal yang dianggap keramat sakral tidak boleh diwacanakan (Bahasa Bali nenten dados baosang), terlalu matang/tua pelajarannya (bes wayah pelelajahane) tabu untuk dipelajari. Lebih-lebih masyarakat ikut-ikutan menjewer dengan nada guyon, dengan kata-kata “Oh kamu akan menjadi pemangku.” Jeweran yang melemahkan mental itulah yang menjadi sebab anak muda tidak suka baca pustaka suci.

Sesungguhnya yang terkandung dari makna Aja Wera adalah menuntun, mengarahkan umat untuk belajar dengan penuh disiplin dan sungguh-sungguh agar tidak terjadi penyimpangan dari proses pembelajaran yang benar.
Namun perkembangan menjadi lain dari generalisasi diplesetkan oleh orang-orang tertentu yang mempunyai kepentingan. Maka terjadilah arti yang negatif memaknai kalimat Aja Wera, bahwa mendalami agama yang dianggap sakral tabu untuk dipelajari oleh masyarakat kebanyakan. Hanya boleh dilakukan oleh golongan tertentu saja. Anggapan yang negatif seperti itu sampai sekarang masih terkesan. (Bahkan sekarang ada istilah baru, yaitu “kutukan sastra” kepada orang yang bukan dari keluarga tertentu, kalau mereka mempelajari kitab suci, red).

Kesan tersebut menjadi penghalang besar, mengapa generasi muda di Bali takut dan malu mendalami agama yang dianutnya, lebih-lebih masih ada anggapan kalau mempelajari sesuatu yang bernuansa agama adalah kuno atau kolot. Akibatnya berdampak negatif bagi masyarakat Hindu Khususnya di Bali.

Pengetahuan agama yang dikuasai masih jauh dari harapan, dengan kata lain kwalitas umat beragama Hindu di Bali di bidang agama masih rendah. Umat Hindu khususnya di Bali harus cerdas dan memahami agamanya. Dewasa ini banyak tantangan kita hadapi dari umat lain, berupa nada pertanyaan, cemohan dan kritikkan terhadap agama yang kita anut. Umat tidak mampu memberi jawaban akibat penguasaan pengetahuan agama sangat minim.

Kita masih berkutat dalam pelaksanaan upacara dan upakara agama yang megah meriah secara gugon tuwon. Dampak negatif yang lain terjadi, banyak umat Hindu Bali beralih ke agama lain karena kurang percaya diri dan rapuhnya mental mereka.

Kalau disimak dengan baik makna kalimat “Aja Wera”, maka tidak ada larangan atau pun tabu mempelajari agama maupun kitab suci, termasuk mempelajari kitab suci Weda dengan tidak mengabaikan tahap-tahapan proses pembelajaran sesuai dengan umur, desa, kala dan patra (tempat, waktu, dan situasi).

Weda sebagai kitab suci Hindu boleh dipelajari walaupun isinya penuh rahasia. Seperti yang disebutkan dalam kitab Yajur Weda XVI. 18: “Ya thenam wacam kalyaman awadani jenebyah brahma rajya nyabhyam cudraya caryaya ca sway a caranaya Ca

Artinya: “Demikianlah semoga hamba dapat menyampaikan sabda- sabda suci Weda ini kepada masyarakat pada umumnya, baik kepada brahmana, kepada kesatria, kepada waisya dan kepada sudra, baik kepada golongan saya sendiri maupun kepada orang lain sekalipun.”

Memperhatikan pernyataan Yajur Weda di atas, dapat iartikan bahwa Weda sebagai kitab suci Hindu tidak hanya harus diketahui oleh golongan tertentu atau orang-orang tertentu tetapi juga boleh dipelajari serta diketahui oleh umat Hindu secara luas bahkan orang-orang di luar agama Hindu sekalipun.

Demikianlah tulisan ini yang jauh dari kata sempurna semoga ada maknanya.

Oleh: Mangku Nyoman Sudirsa, Br. Tebuana Sukawati Gianyar Bali
Source: Majalah Media Hindu, Edisi 166, Desember 2017