Ahimsa dan Himsa

Salah satu ajaran Saiva Siddhanta yang telah lama diajarkan kepada umat manusia di jagat raya ini adalah ajaran panca yama brata yakni lima macam pengendalian diri sebagai ajaran moralitas bagi umat manusia. Kelima ajaran tersebut juga merupakan lima ajaran keharusan yang diajarkan oleh Bhatara Rudra (Bhatara Siva), sebagaimana dinyatakan dalam pustaka suci slokantara. Adapun bunyi slokanya seperti dinyatakan dalam sloka 41 berikut ini. "ahimsa brahmacarya ca suddharalagawam, astainyamiti yama rudrene bhasitah, artinya : tidak menyakiti, menguasai hawa nafsu, kesucian, makanan sederhana, tidak mencuri lima macam keharusan ini diajukan oleh bhatara rudra" (Oka, 1993:89-90).

Sesuai kutipan di atas, bahwa salah satu dari lima keharusan tersebut adalah mengenai ajaran ahimsa yang artinya tidak menyakiti. Selain itu ada lagi sumber suci ajaran agama Hindu yang dinamai Wrtisasana yang merupakan salah satu naskah suci berbahasa Jawa Kuna, yang juga mengajarkan mengenai ajaran ahimsa. Naskah ini telah dikoleksi di gedung Kirtya Singaraja. Dalam naskah tersebut (No. II/b 78/1 muka 1) dinyatakan mengenai ajaran ahimsa dalam bahasa Sansekerta dan bahasa Jawa Kuna berikut ini.

Ahimsa brahmacaryanca satuamawya-waharikah, astaimyamiti pancaite pancaiteyama Rudrana bhasitah, ahimsa ngaraning tan pamati-mati. Brahmacarya ngaraning fan keneng stri sungkan rare. Mivang sang kumawruh i mantra kabrahmacarya. Satya ngaraning tuhu rnojar. Awyawaharika ngaraning tan pawyawahara. Asteya ngaraning tan cidra ring drewyaning len laka ta kalmia yamabrata ngaranya, ling bhatara Rudra,

Artinya : tidak membunuh-bunuh dan tidak menghumbarkan hawa nafsu, selalu berkata benar, tidak terbelenggu oleh keuangan, tidak mencuri, kelimanya ini yama brata, dikatakan oleh Bhatara Rudra. Ahimsa artinya tidak tidak membunuh-bunuh. Brahmacari artinya tidak pernah bersetubuh dari kedua Dan juga mereka mengetahui peraturan-peraturan mantra kewajiban Brahmacari itu. Satya artinya selalu berkata benar. Awyawaharika artinya tidak terlalu mementingkan sesuatu yang berhubungan dengan. keuntungan materi. Asteya artinya tidak berminat pada kepunyaan orang lain. Kelimanya itu bernama yamabrata, kata bhatara Rudra (Oka, 1993:92).

Menyimak makna kedua sloka di atas, bahwa dalam slokantara dan pustaka suci Wrtisasana sama-sama ada dinyatakan mengenai ajaran ahimsa. Sesuai slokantara bahwa ahimsa diartikan tidak menyakiti. Kemudian dalam naskah suci Wrtisasana dinyatakan mengenai ahimsa yang artinya tidak membunuh-bunuh. Sesungguhnya kedua sumber suci tersebut telah dengan tegas mengajarkan bahwa perilaku untuk membunuh dan menyakiti itu tidak dibenarkan. Secara sederhana dapat dipahami alasannya adalah bahwa pada masa menuntut ilmu pengetahuan terlebih lagi ilmu pengetahuan suci dalam pustaka suci veda, maka tindakan membunuh dan menyakiti tersebut merupakan pantangan bagi seorang brahmacarin. Hal utama yang mesti dilakukan adalah hanya untuk belajar dan untuk menimba ilmu pengetahuan suci guna meningkatkan pengetahuan diri (kajhanan) serta pengetahuan spiritual (kawijnanan).

Selain tidak dibenarkan membunuh dan menyakiti tersebut, maka perilaku yang sejenis dengan itu pun juga tidak dibenarkan atau dilarang. Misalnya : menyiksa, bertindak bengis, berlaku kejam, berbuat sadis, merusak hidup dan kehidupan sekitarnya, berbuat secara kekerasan, melakukan perbuatan yang membuat yang lainnya sengsara atau menderita (papa), dan sejenis dengan itu. Pendeknya, bahwa nua jenis perbuatan yang mengganggu, menyebabkan nyawa yang lainnya menjadi hilang, serta bertindak atas kemauan sendiri tanpa mengindahkan harga diri maupun nilai hidup bagi yang lainnya, maka hal itu dapat digolongkan ke dalam perilaku yang bertentangan dengan ajaran ahimsa. Lalu bagaimana halnya dengan hal-hal yang sifatnya untuk pembelaan terhadap diri, upava menyelamatkan hidup dan kehidupan, serta yang sejenisnya yang dilakukan dengan tindakan melawan nilai ahimsa?

Berdasarkan sumber dalam pustaka suci Wrtisasana pada halaman 2, kirtya II/b/78/1, menurut Oka (1993:93) dijelaskan bahwa himsa (pembunuhan) terhadap binatang boleh dilakukan asal tujuannya membunuh untuk dewapuja (mengadakan pemujaan dewa-dewa), atithipuja (persembahan kepada tamu) dan walikramapuja yaitu (waktu upacara-upacara korban atau caru). Di samping itu diterangkan juga dalam buku itu binatang-binatang apa saja yang boleh dibunuh untuk tujuan suci itu, misalnya segala macam kidang, menjangan, burung, ikan, dan lain-lainnya yang boleh dibunuh sendiri di samping itik, unggas, ayam, babi, kerbau yang membunuhnya harus disuruh orang lain.

Walaupun tidak disebutkan di dalam urutan tujuan di atas, tetapi menurut daftar nama binatang yang boleh dibunuh lagi yaitu binatang yang dianggap dapat membencanai atau merusak badan, misalnya : tuma, tinggi, nyamuk, maka dapat disimpulkan bahwa himsa (membunuh-bunuh) itu diperbolehkan untuk mempertahankan atau melindungi diri. Jadi himsa itu diperbolehkan dalam empat hal, yaitu : dewapuja (upacara kepada dewa), atithipuja (persembahan atau suguhan pada tamu), walikramapuja (upacara korban caru), dan mempertahankan diri.

Bilamana dimaknai mengenai ajaran ahimsa dan himsa sesuai sumber-sumber di atas, maka umat Hindu tidak perlu merasa ragu, merasa bersalah atau berdosa, merasa menyakiti, serta perasaan lainnya yang menghantui dalam tindakannya, oleh karena hal itu telah diperbolehkan sesuai sumber susastra agama Hindu tersebut. Namun demikian patut dipahami bahwa ajaran ahimsa dan himsa ada ketentuannya. Jadi ada beberapa ketentuan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Hal yang diperbolehkan adalah sepanjang perilaku itu dilakukan secara benar, memiliki tujuan baik, suci, dan mulia (subhakarma, parama artha, ca mulya).

Dalam hal ini adalah hal-hal yang dinamai dewapuja (untuk kepentingan persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta segala isi alam semesta), atithipuja (untuk kepentingan suguhan kepada tamu), walikramapuja (untuk kepentingan persembahan terhadap makhluk bawahan), dan raksa suraksa sarira (untuk kepentingan menyelamatkan diri dan melindungi diri dari berbagai gangguan yang bersifat membencanai nyawa orang itu sendiri). Alasan-alasan inilah yang memperbolehkan bahwa himsa itu dilakukan oleh umat Hindu.

Selanjutnya jika terjadi perilaku yang dilakukan secara membabi buta terhadap hewan, pembunuhan yang dilakukan dengan sewenang-wenang tanpa tujuan yang jelas yang bersifat menyakiti dan menyiksa, juga membunuh dengan tujuan untuk menghancurkan hidup dan kehidupan binatang-binatang yang ada di alam semesta ini, sehingga akhirnya segala binatang menjadi punah, dan tindakan brutal atau perilaku kekerasan lainnya yang tanpa tujuan yang jelas sesuai sumber susastra agama Hindu, maka hal demikian itu sedapat mungkin harus dihindari atau tidak dilakukan oleh siapapun, oleh karena perilaku yang demikian itu sesungguhnya adalah perilaku yang melawan serta tidak mematuhi ajaran ahimsa.

Hal inilah yang mestinya dipahami oleh umat Hindu pada umumnya. Hal ini ditegaskan dengan maksud dharma (kebenaran), agar tidak terjadi simpang siur dalam pemahaman dan penerapan ajaran agama Hindu, mengingat dalam ajaran Saiva Siddhanta sangat diperlukan adanya sarana persembahan berupa binatang (sattva atau sato) serta sarana lainnya yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan suci. Semua perilaku di atas, baik yang digolongkan ahimsa dan himsa sepanjang tujuannya adalah kesucian (parama artha ca sucih) yakni membuat semua kehidupan di dunia ini menjadi lebih uttama secara sakala dan niskala, baik sebagai pelakunya maupun yang dikorbankan itu sesungguhnya merupakan tujuan uttama dalam melakukan persembahan atau yajna.

Pelakunya menjadi bahagia secara lahir dan batin (santa jagat hita wahya adhyatmika) dan binatang yang dipersembahkan dalam suatu yajha, maka kehidupannya kelak di kemudian hari (punarjanman) akan menjadi lebih meningkat status yang tidak lagi terlahir menjadi binatang, oleh karena makna persembahan itu bermakna sebagai penyupatan, mengingat kemahakuasaan (prabhu sakti) dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa itu adalah maha pengampun (ksama sakti), maka kerja (kriya sakti), dan maha kuasa (prabhu sakti).

Source: I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 481 Februari 2007