Agnihotra di Zaman Modern

Belakangan ini saya lihat sebagian umat Hindu Bali melakukan ritual Agnihotra yang dikolaborasikan dengan ritual tradisi Bali, seperti ritual Melaspas Sanggah, Ngaben, Telubulanan, Pawiwahan, dan lain-lain. Agnihotra memang ada dalam Weda dan di India masih tetap ada. Karena dewa api atau dewa Agni adalah saksi wajib dalam setiap upacara. Dulu di era Majapahit, konon umat selalu melakukan Agnihotra, tetapi sempat dihentikan karena pernah ada insiden yakni karena apinya sangat besar dan mengakibatkan kebakaran kemudian upacara ini dihentikan dan dimodifikasi dengan Pasepan atau Takepan Sambuk. Kemudian di era sekarang diadakan lagi dan tentu kita harus lebih hati-hati dalam mengombinasikannya agar umat yang masih tradisional tidak marah.

Jadi yang tradisi Bali tetap dipakai dan yang berasal dari Weda juga harus dilestarikan. Selain itu, menurut para Yogi bahwa Agnihotra memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Dan kita sebagai orang yang mengerti harus mendukung itu karena hal itu sudah benar.

Siapa Saja Boleh Melakukan Agnihotra? Sebenarnya semua umat manusia boleh melakukannya. Ini ada dalam Weda dan sama halnya dengan vegetarian dan tidak makan daging sapi. Kalau di India, umat Hindu sudah terbiasa melakukan vegetarian dan tidak makan daging sapi, makanya orang-orang India yang ada di Bali termasuk para bintang film Mahabarata heran ketika mereka ke Bali melihat orang Bali yang mengaku beragama Hindu ternyata pemakan daging.

Memang sulit merubah kebiasaan yang sudah lama. Begitu juga jika ada komunitas spiritual seperti Sai Baba, Hare Khrisna, Ananda Marga, dan lain-lain, kita harus mendukung mereka, karena mereka adalah yang militan sebagai pelindung kita atau membela Hindu. Sedangkan umat Hindu yang tradisioanal biasanya kebanyakan wataknya mengalah atau sungkan terhadap agama lain karena tidak punya modal bahan agama untuk bicara. Sifat ini dimanfaatkan oleh agama lain untuk menghancurkan agama kita.

Semua tentu perlu tindakan yang bijaksana, yaitu kita juga harus melestarikan keduanya. Dan untuk tradisi atau upacara Bali mohon jangan sampai melakukan upacara yang sangat mewah dan besar. Kita jangan sampai hidup kekurangan akibat upacara, karena menyekolahkan anak juga perlu biaya. Kalau sampai miskin akibat adat dan upacara, maka hal itu akan dimanfaatkan oleh agama lain.

Umat Hindu di Bali sepatutnya jangan membuang upacara Hindu yang sudah mentradisi di Bali karena kaum tradisional jumlahnya masih banyak. Kalau memaksa mengganti ritual tradisional dengan ritual model baru, maka akan dimusuhi oleh masyarakat tradisional. Sebaiknya melakukan pembaharuan dengan pelan-pelan, karena misi Hindu bukan yang satu menang atas yang lain, tapi sarwa prani hitangkarah alias semua makhluk harus harmonis. Makanya dalam sejarah perkembangan agama Hindu tidak pernah ada perang membela agama.

Source: Made Budilana l Majalah Raditya Edisi 221 2015