Agama Seyogianya Membuat Kita Bersaudara

Ayam nijah paro ceti ganana laghucetasam tu. Vasudheva kutumbakam
(Hitopadesa .1.64)

Maksudnya: Orang yang berpandangan rendah me-nyatakan ada orang kita dan ada orang asing. Orang yang berprilaku mulia me-nyatakan: Semua orang di seluruh dunia adalah saudaranya.

Sloka Hitopadesa ini terutama baris kedua sudah sering diungkap yaitu: Vasudheva Kutumbakam. Hal itu sudah sering diungkap di kalangan umat Hindu di Bali sebagai suatu ajaran Hindu yang memiliki nilai universal. Namun yang belum banyak dilakukan bagaimana ajaran Sastra Hindu itu diimplementasikan mengatasi berbagai persoalan. Nyatanya di kalangan umat Hindu masih ada adat yang membeda-bedakan harkat dan martabat manusia atas nama agama dan budaya Hindu. Meskipun hal itu semakin melemah dalam masyarakat Hindu, tapi dalam tatanan adat masih banyak yang memberlakukan. Terutama dalam kehidupan adat dan beragama Hindu di Bali.

Sloka tersebut sesung-guhnya sudah memberi arah pada seluruh manusia bahwa hahikat seluruh manusia penghuni bumi ini adalah bersaudara. Berbagai perbedaan dan persamaan memang dimiliki oleh manusia penghuni bumi ini. Tidak selalu perbedaan itu membuat konflik asal perbedaan itu tidak membeda-bedakan harkat dan martabat manusia ciptaan Tuhan. Apalagi perbedaan itu sebagai perbedaan yang saling lengkap melengkapi. Demikian juga tidak setiap persamaan menimbulkan keharmonisan. Ini artinya perbedaan dan persamaan itu juga kena hukum Rwa Bhineda.

Ada perbedaan yang saling lengkap melengkapi dan ada perbedaan yang antagonistis. Ada kopi gula air panas, semuanya berbeda tetapi saling lengkap melengkapi. Ada nasi, sayur, bensin, ada obat nyamuk cair. Ini adalah perbedaan yang antagonistis. Ada persamaan yang searah ada persamaan yang berlawanan. Persamaan yang searah misalnya sama-sama memeluk satu agama atau satu kesatuan budaya. Ada yang persamaan yang tidak searah. Ada beberapa orang sama-sama merebut kedudukan pada jabatan yang sama. Persamaan itulah menyebabkan mereka berlawanan dalam artian bersaing merebut jabatan yang sama.

Dalam ajaran Hindu, perbedaan dan persamaan manusia sebagai unsur yang selalu ada wajib ditata atau dimanajemen agar jadi perbedaan yang saling melengkapi. Demikian juga persamaan yang searah untuk saling berkontribusi mencapai tujuan yang benar, baik dan tepat. Semangat untuk membangun sikap hidup bahwa semua umat manusia bersaudara akan tumbuh apabila adanya keyakinan yang kuat bahwa Tuhanlah sebagai Maha Pencipta alam dan segala isinya terutama umat manusia. Kalau keyakinan tersebut dapat mendominasi sikap hidup seseorang, barulah Sesanti, Vasudheva Kutumbakam sebagaimana dinyatakan oleh pustaka Hitopadesa tersebut di atas teraplikasi.

Kalau hanya ada rasa bersaudara namun masih adanya rasa tanpa sahabat juga belum mampu membangun hidup saling bersinergi. Karena dewasa ini masih marak adanya saudara tanpa sahabat. Kalau rasa bersahabat yang menyertai rasa bersaudara itu baru dapat mambangun kebersamaan yang berkualitas. Kebersamaan yang berkualitas dalam menyelenggarakan kehidupan bersama itu baru bisa menuju kehidupan yang aman damai (Raksanam) dan sejahtera (Dhanam).

Rasa bersaudara tanpa ada rasa bersahabat tidak akan bisa membangun kehidupan bersama yang berkualitas. Ciri orang yang meyakini dan merasakan bahwa setiap orang itu adalah saudaranya bila ia selalu merasa lapang dada dan bijak menerima kelebihan dan kekurangan setiap orang. Karena mereka itu dipandang sebagai saudaranya bukan orang lain. Kebersamaan itu akan memberi nuansa positif pada hidup ini apabila dalam kebersamaan itu ada Kesetaraan, Persaudaraan dan Kemerdekaan atau disebut Egaliter, Fraternity dan Liberty.

Dalam kehidupan beragama Hindu di Bali dalam sistem religinya membangun empat jenis tempat pemujaan pada Tuhan atau Pura. Empat jenis tempat pemujaan itu dimensi utamanya mengembangkan Sraddha dan Bhakti pada Tuhan Yang Mahaesa. Tujuannya untuk mengeksistensikan daya spiritualitas, membangun keluhuran moral dan daya tahan mental. Di samping itu juga memiliki dimensi sosial membangun empat macam kerukunan. Artinya empat tempat pemujaan pada Tuhan Yang Mahaesa itu didayagunakan untuk membangun empat macam kerukunan, yaitu: Kerukunan keluarga di Pura Kawitan. Pura Kawitan itu dari Kemulan Taksu, Merajan Gede, Pura Ibu, Pura Dadia, Pura Panti sampai Pura Kawitan. Kerukunan teritorial Desa di Pura Kahyangan Tiga.

Kerukunan profesional di Pura Swagina seperti di Pura Subak, Pura Melanting dan Pura yang dibangun di kantor instansi pemerintah dan swasta. Selanjutnya kerukunan universal di Pura Kahyangan Jagat seperti di Pura Rwa Bhineda, Pura Catur Loka Pala, Pura Sad Kahyangan dan Pura Padama Bhuwana. Demikian juga di Pura Dang Kahyangan. Di empat tempat pemujaan itulah dibina dengan mendayagunakan konsep-konsep ajaran agama Hindu dengan benar, baik dan tepat sesuai dengan posisi dan porsinya. Dengan demikian, Agama Hindu dapat dipastikan dapat mengantarkan umat Hindu mendapatkan rasa bahagia, adil dan sejahtra.

Sayangnya kontek beragama Hindu di empat tempat pemujaan itu masih banyak yang tidak konek dengan teks Sastra Hindu yang menuntunnya. Misalnya, pemujaan Bhatara Tri Murti di Pura Kahyangan Tiga di Desa Pakraman. Tujuannya untuk menguatkan dan memantapkan Swadharma Desa Pakraman membina umat agar semuanya memiliki profesi (Varna) atau keterampilan maupun keahlian untuk menunjang kehidupannya. Karena itulah memang Swadharma Desa Pakraman menurut Lontar Mpu Kuturan yang dinyatakan sbb: Desa Pakraman winangun dening Sang Catur Varna manut linging Sang Hyang Aji. Desa Pakraman seyogianya aktif mengembangkan pendidikan dan latihan non formal menunjang dan melengkapi fungsi lembaga pendidikan formal dengan meningkatkan keluhuran moral dan daya tahan umat di desa pakraman bersangkutan.

Demikian juga tempat pemujaan Kawitan, bukan untuk menonjol-nonjolkan wangsa atau tinggi rendahnya keturunan, tetapi meraih pahala Kirti, Bala, Yasa dan Yusa sebagaimana dinyatakan dalam Sarasamuscaya 250 bagi yang tekun berbhakti pada leluhurnya. Sayang masih ada tempat pemujaan yang tidak dieksistensikan sesuai dengan teks sastranya. Kalau empat tempat pemujaan itu dieksistensikan sesuai dengan teks sas¬tranya, rasa bersaudara itu pasti terwujud : Vasu deva kutumbakam. Semua umat manusia bersaudara.

Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Kliwon 5 Juli 2015