Agama Merupakan Benteng Keluarga Bahagia

Belakangan ini sering kita baca, dengar, lihat, lewat media cetak dan elektronik tentang terjadinya kerusuhan-kerusuhan, baik itu kerusuhan antar kampung, antar warga, antar siswa dan sebagainya yang sampai saat ini belum bisa diatasi secara maksimal oleh pemerintah. Melihat kenyataan ini kami sangat prihatin, dimana sebetulnya letak kebocorannya apakah dari unsur-unsur pemerintah, masyarakat, tokoh-tokoh agama atau unsur terkecil keluarga atau juga masalah perut.

 

Untuk itu tidak usah kita permasalahkan siapa yang benar dan siapa yang salah, mari kita benahi melalui pendekatan agama pada unsur masyarakat yang paling bawah yakni “keluarga”. Kalau unsur keluarga sudah kuat, tangguh apapun yang menerjangnya tidak akan roboh, ini merupakan andil besar yang sangat menentukan kehidupan bermasyrakat, berbangsa dan bernegara.

 

AGAMA MERUPAKAN BENTENG YANG AMPUH DALAM KEHIDUPAN KELUARGA BAHAGIA

Untuk membentuk keluarga yang bahagia, sejahtera, kekal, peranan agama menjadi sangat penting. Ini sesuai dengan apa yang tersirat dalam Kitab Suci Veda “Moksartham Jagat hita ya ca iti dharma”, artinya agama atau dharma bertujuan untuk membina kehidupan yang sejahtera lahir dan bathin. Dalam hubungan ini ajaran agama tidak cukup hanya diketahui dan dipahami tetapi harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam anggota keluarga. Sehingga benar-benar dapat mencerminkan suatu kehidupan yang penuh dengan ketentraman, kedamaian dan keamanan, yang dijiwai oleh dan tuntunan agama.

 

Setiap anggota keluarga terutama orang tua dituntut untuk senantiasa bersikap sesuai dengan ajaran Tri Kaya Parisudha (berpikir, berbuat, dan berkata yang benar). Kenapa orang tua, kerena orang tualah sebagai pengemudi/pengendali baik buruknya penumpang. Untuk itu orang tua perlu menyadari betapa pentingnya pendidikan agama bagi anggotanya sendini mungkin lebih-lebih bagi anak-anak yang sangat berpengaruh positif tehadap pertumbuhan dan perkembangan budi pekerti dan kepribadian mereka. Oleh karena itu, pendidikan agama perlu ditanamkan sedini mungkin bahkan bayi masih dalam kandungan dengan mamberikan cerita-cerita kepahlawanan, etika pada ibunya menjelang tidur.

 

Bagi suami istri agama merupakan benteng yang tidak bisa tergoyangkan oleh apapun yang dapat merapuhkan dan meruntuhkan sendi-sendi kehidupan keluarga. Agama berperan sebagai pendorong dan tempat untuk memcahkan masalah, maka sangat perlu skali bagi suami istri memegang dan melaksanakan ajarannya dengan sebaik-baiknya dalam waktu suka maupun duka. Upaya kearah itu perlu dilaksanakan sehingga sangat menentukan kelangsungan keluarga yang utuh.

Dalam Manawa Dharmasatra IX 101 dan 102 disebutkan sebagai berikut:

“Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati”,
Singkatnya ini harus dianggap sebagai hukuman yang tertinggi bagi suami istri”

“ Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan,
Mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai dan
Jangan hendaknya melanggar kesetiaan yang satu dengan yang lainnya”

Berdasarka Arti seloka tersebut di atas bagi suami istri bukanlah tempat berkumpulnya dalam satu rumah makan, minum, tidur dan sebagainya, tetapi tujuan yang paling utama adalah terbinanyan ketenangan lahir dan bathin, hidup rukun damai, tentram bahagia, tempat suami istri mencurahkan isi hatinya, cinta dan kasihnya, sehingga tercapainya ketenangan dan kedamaian keluarga, masyrakat bangsa dan Negara.

 

Suami istri yang tidak mendapat ketenangan dan kedamaian keluarga/rumah tangganya, tidak menutut kemungkinan akan mencari hiburan keluar, yang pada akhirnya akan menyusahkan diri pribadi keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam memenuhi tuntunan supaya hidup tenang damai, tentram, memang masing-masing anggota keluarga memperhartikan kebutuhan dan keinginannya. Harus dapat saling mengerti, harus berusaha memahami diri masing-masing sehingga tidak ada yang tertekan atau dirugikan. Kalau kita mengakui secara jujur, hal yang menyebabkan hancurnya suatu rumah tangga tidak perlu terjadi kalau didasari terjadinya hubungan yang begitu erat pada saat pacaran, bahkan tidak jarang terlontar sumpah sehidup semati.

 

Dilain pihak keluarnya PP No. 10 tahun 1983 tidak ada yang merasa dirugikan atau dimenangkan. Ada atau tidak peraturan itu sesungguhnya tidak ada pengaruhnya bagi pasangan suami istri kalau diingat baik-baik sloka yang tersirat dalam Manawa Dharmasastra pasal 101 dan 102 seperti tersebut diatas. Kalau toh perlu ada disadari tidak ada manusia yang sempurna seratus persen (Apan tan Hana wwang sweta nulu). Ini hendaknya disadari secara mendalam, sehingga keadaan rumah tangga tetap dapat terpelihara degan utuh serta mencerminkan keluarga yang tentram damai, saling asah, asih, dan asuh, hormat menghormati, harga menghargai satu sesame yang lainnya.

 

Suami istri harus sadar bahwa perkawinan itu adalah suci, karena itu mutlak perlu dilestarikan kesuciannya, sebagai janji pada waktu melaksanakan pewidi wedanan, disamping juga telah diatur oleh Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 1 berbunyi

“Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”

Kebahagian yang kekal akan dapat terjamin, bila dalam keluarga itu dapat keserasian, yakni baik suami maupun istri masing-masing merasa bahagian apa adanya, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, senasib sepenanggungan, selunglung sebayamtaka, seilir semudik dan sebagainya.

Dalam Manawa Dharmasastra 111.60,62 disebutkan

“Keluarga dimana suami bahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri dengan suaminya, kebahagiaan pasti kekal. Jika istri selalu memancarkan wajah kaindahan seluruh rumah tangga akan bercahaya, tetapi jika ia kurang berwajah manis, semuanya akan kelihatan suram”.

Terkadang ada suami/istri tidak berusaha memahami istri/suaminya, kurang percaya-mempercayai, kurang terbuka, dan menyembunyikan hal-hal yang tidak perlu disembunyikan. Padahal retaknya hubungan berkeluaraga tergantung kepada kepercayaan, keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang perlu diragukanya dan dicurigai. Seyogyanya suami/istri harus saling terbuka kepada masing-masing pihak dan harus dapat saling terbuka kepada masing-masing pihak dan harus saling menghargai,  saling hormat menghormati. Kesadaran ini sangat memegang peranan penting dalam kehidupan dalam berumah tangga, serta terhadap suami/istri sangat berpengaruh, baik dalam hidup lahiriah maupun batiniah, seperti yang tersirat dalam Manawa Dharmasastra III. 56 dan IX. 29 sebagai berikut:

“Dimana wanita dihormati, disanalah tetapi dimana mereka itu tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala. Wanita yang mengendalikan, pikiran, perkataan dan perbuatan tidak melanggar kewajiban sebagai suaminya akan memperoleh tempat tinggal bersama di sorga setelah meninggal. Dan di dunia ini disebut Sadhi (istri yang setia dan bijaksana).

 

Demikian ajaran agama, sebagai pedoman untuk menciptakan rumah tangga yang bahagia, tenang dan damai, tidak retak dan tidak terganggu. Selain itu rumah tangga/keluarga juga harus berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan upacara keagamaan begi anggota-anggotanya.

 

Keagamaan agar benar-benar dapat diwujudkan oleh masing-masing anggota keluarga baik dalam berpikir, berbuat, berkata sesuai ajaran Tri Kaya Parisuddha, dibiasakan sembahyang/tri sandhya tiga kali sehari, puasa pada hari-hari tertentu, bertingkah laku sesuai dengan ajaran agama, tidak saling menyakiti, menjauhkan diri dari perbuatan sad ripu, mengucapkan salam umat sesuai dengan situasi dan kondisi khususnya kepada anak-anak berbakti kepada Catur Guru.

 

Source: I Made Suyasa l Warta Hindu Dharma NO. 432 Februari 2003