Agama Kemanusiaan

SEJATINYA agama diturunkan Tuhan adalah untuk manusia. Sehigga penerapannya lebih kepada usaha memanusiakan manusia agar menjadi manusiawi. Prinsip dasarnya adalah bagaimana melalui ajaran agama kehidupan manusia selalu dalam keadaan sejahtera dan bahagia, diliputi suasana aman, nyaman, rukun, dan damai. Sehingga kalau ada pertanyaan, agama apa yang baik, sebenarnya bukan pada agamanya tapi pada manusia beragamanya. Kalau agama, apapun namanya sudah pasti baik dan benar, karena merupakan ajaran Tuhan. Hanya saja, ketika ajaran agama diperilakukan umat-Nya, seringkali tampil tidak manusiawi alias melanggar atau bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama itu sendiri.

Paling mendasar, keberadaan agana yang berbeda-beda bagaikan pelangi warna-warni, justru acapkali dilumuri warna gelap hingga menutupi kecemerlangan pikiran, membutakan hati dan membekukan nurani umat, menjadi seakan-akan tidak beragama. Padahal agama yang adalah ajaran Tuhan, apapun label namanya bertujuan sejalan, mengangkat derajat dan martabat manusia menjadi lebih terhormat, selama hayat mengemban amanat sebagai umat, memperoleh pahala nikmat di akhirat.

Jika saja pernyataan di atas merasuk dalam pemahaman, meresap dalam penghayatan bathiniah umat, sepertinya dunia ini benar-benar akan menjelma menjadi surga di dunia nyata (swarga). Persoalannya, sebagaimana hukum rwabhineda berlaku, selalu mencul dua kutub pandangan yang bisa jadi mempertajam perbedaan bukan menyelaraskan missi keagamaan yang bertujuan melahirkan umat berkarakter religis spiritualis, sekaligus humanis, dicirikan dengan penerpaan ajaran keagamaan berdasar nilai kemanusiaan.

Religiositas ataupun spiritualitas, sesungguhnya sudah mengandung unsur humanitas. Tanpa humanitas, keberagamaan umat hanya sekadar menjadi pembeda identitas dengan penganut agama lainnya. Identitas keagamaan itu kemudian menjadi kebanggaan secara formalitas, meski dalam praktiknya belum tentu mendorong lahirnya humanitas, kecuali mungkin sikap fanatisme. Menumbuhkan religiositas atau spirtuahtas yang humanitas inilah dapat disebut sebagai “agama kemanusiaan”, yang dalam praktik keagamaannya lebih banyak bicara dan berlaksana di tataran kemanusiaan, selalu tampil manusiawi menebar nilai filosofi - wasudewa kuthum bhakam. Bahwa semua makhluk, apalagi manusia pada hakikatnya bersaudara. Satu sama lain, wajib saling menghargai, dan menghormati perbedaan, dengan selalu berusaha mempertautkan persamaan dalam visi, missi, dan aksi kemanusiaan.

Dalam konteks ini, tampaknya penting sekali ditanamkan pemahaman, bagaimana sepatutnya memosisikan agama dalam situasi kekinian. Sehingga tidak berkembang pemahaman sempit, bahwa urusan agama semata-mata hanya berpikir tentang kehidupan nanti di seputar surga atau neraka. Sementara dalam kehidupan kini yang nyata-nyata dihadapi, bahkan sarat dengan permasalahan kemanusiaan diabaikan. Sejatinya yang disebut surga maknawi itu adalah bagaimana dapat mewujudkan sekaligus menikmati kesejahteraan dan kebahagiaan bersama pada kehidupan di dunia kini, baru kemudian menyusul kehidupan nanti. Begitupun yang disebut neraka itu sesungguhnya adalah suatu keadaan dengan derita yang mendera kehidupan. Jadi surga dan neraka itu nyata adanya, bisa diupayakan, diwujudkan sekaligus dinikmati atau dirasakan di kehidupan dunia ini.

Menciptakan surga di dunia nyata itulah visi dan missi agama kemanusiaan dengan merealisasi satu aksi: gumaweaken sukanikanang wong len, membuat sukacita dalam sejahtera dan kebahagiaan orang lain, sesama atau saudara. Agama kemanusiaan ini berpegang pada prinsip humanistik, lebih mementingkan sisi-sisi humanitas dalam menjalin relasi antar umat beragama untuk bersama-sama membangun kehidupan yang santih lan jagadhita, tidak hanya dalam wacana, tetapi lebih penting lagi dalam laksana.

Jika kita sama-sama percaya bahwa Tuhan adalah pencipta semua makhluk, maka siapapun dia, dengan label agama apapun, suku bangsa, ras, dan golongan manapun, semuanya adalah sama, manusia juga, terikat dan diikat oleh kodrat kemanusiaan, bahwa semua manusia sama-sama berasal dari satu asal dan tujuan final - Tuhan itu sendiri. Bagaikan air yang asal sumbernya dari laut, lalu mengalir melalui banyak sungai, akhirnya hanyut kembali, menyatu pada laut luas. Tidak ada air yang tidak berasal dan bersumber dari laut, yang membedakan adalah menjadi air murni, air daki yang terkontaminasi atau air suci.

Swadharma umat beragama saat ini adalah tidak penting lagi memasalahkan apalagi mempertentangkan perbedaan label agamanya, tetapi jauh lebih bermanfaat mempertemukan visi dan missi keagamaan dalam konteks kemanusiaan. Bahwa hidup menjelma sebagai manusia yang hanya sekejap ini sebesar-besarnya dapat dimanfaatkan menjalakan amanat dharma guna menghilangkan segala penderitaan dunia (papa-klesa), hingga kelak memperoleh pahala surga, sebagaimana disurat kitab Sarasamuscaya, 8: Manusyam durlabham prapya vidyullasita cancalam, bhavakuayem atia kaya bhavopakaraoesuca (menjelma menjadi manusia itu sebentar sifatnya, tidak berbeda dengan kerdipan petir, sungguh sulit (di dapat), karenai pergunakanlah penjelmaan menjadi manusia itu untuk melaksanakan dharma yang menyebabkan musnahnya penderitaan, surgalah pahalanya.

Oleh: I Gusti Ketut Widana
Source: Koran Bali Post, Minggu Umanis, 21 Januari 2018