Agama dan Negara

Sastra leluhur Itihasa Mahabharata menorehkan, Panca Pandawa bersama Krsna mendirikan kerajaan Indraprastha kerena kerakusan dan ketamakan Duryodana yang mempengaruhi ayahnya Drstaratha ingin menguasai Hastinapura. Namun negeri Indraprastha bersama rakyatnya gemah ripah loh ginawe, bahkan mampu melakukan upacara Rajasuya.

Tatanan Negara Indraprastha di bawah kendali Yudistira yang jujur dan cinta rakyatnya menjadikan negeri tersohor yang menjadi pesaing Hastinaura. Nusantara di bawah kerajaan. Majapahit pula pernah jaya dugjaya ketika raja Hayam Wuruk bersama Patih Gajah Mada melakukan sumpah palapa menyatukan nusantara, agama dan masyarakat tentram kerta raharja, kertaning bumi.

Masihkah ada hubungan mesra antara agama dan Negara?, selentingan yang menusuk hati di Negara agama yang penuh dengan doa-doa dan ritual keagamaan malah tindakan kejahatan, ketidakadilan, kekerasan dan sejenisnya merajalela. Apakah ini sepenuhnya benar?. Air suci agama-agama dunia mengajarkan kebenaran, kebaikan dan kesucian. Negara hadir mengatur jalur agama itu secara normative baik dalam bentung undang-undang dan peraturan pemerintah.

Maka dalam Kakawin Ramayana yang disebutkan bahwa Negara harus membangun mental spiritual yang diutamakan dengan membangun tempat-tempat dan mendirikan rumah sakit “dewa kusalasala mwang dharma ya pahayun,” bahwa perbaikilah candi-candi dan tempat suci lainnya serta rumah-rumah sakit. Oleh karenanya Negara hadir harus mengayomi dan melindungi agama, disamping pembangunan fisik agama namun yang lebih penting adalah mencerdaskan rakyatnya khusunya kecerdasan spiritual adalah dengan membangun lembaga pendidikan agama. Negara harus memberikan bantuan kepada rakyat, memperhatikan rakyat jelata “utsaha ta larapana, karyasing paha pagehen, sampay tan gaweyaken, ring satwadharma ya tuwi” berikan bantuan kepada semua usaha rakyat dan perkokohlah segala kegiatan usaha mereka itu jangan melakukan penghinaan, meskipun pada hewan yang terendah sekalipun.

Sebagai orang yang beragama dalam Negara haruslah berkarya, melakukan swadharma dengan baik di keluarga, masyarakat dan Negara. Dalam Reg Veda I.91.20 disebutkan Somo dhenum somo arvantam asum somo viram karmanya dadati, sadanyam vidathyam sameyam pitravanam yo dadasad asmai artinya kepada dia yang mempersembahkan sajian (soma) memberi sapi perahan, ia memberi kuda dan ia memberi putra yang gagah berani, yang mampu bekerja, berguna bagi keluarga, sebagai wakil rakyat dan mampu duduk dalam badan politik adalah kemulian bagi ayahnya. Sloka ini menjelaskan tentang menjadi warga Negara yang ideal, bahwa pertama adalah karmanya sebagai warga Negara harus berkarya, karma sadanya mengatur rumah tangga dan keluarga, vidathya berguna bagi masyarakat, melakukan tugas dan kewajiban sebagai masyarakat, sabheyo sebagai anggota sabha badan perwakilan yang memberi petunjuk pada pemerintah dalam bidang administrasi Negara.

Founding father Negara Indonesia Soekarno berkelakar bahwa “kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab, kalau jadi orang Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat dan budaya nusantara yang kaya raya ini”.

Dengan demikian bahwa keberadaan agama-agama di budaya setempat. Produk agama dari luar tentunya harus beradaptasi secara selektif dengan kultur nusantara yang adi luhung. Tentunya kiblat agama ke luar nusantara tidak menjadikan agama kita rapuh, bahkan Negara kesatuan Indonesia terpecah belah. Disinilah agama hadir mengargai dan menghormati perbedaan sebagaimana smeboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Agama dan Negara menjadi kesatuan, ayat-ayat suci agama selalu mengajarkan kebaikan dan kemuliaan yang meneduhkan jiwa-jiwa penganutnya begitu pula Negara dengan pasal dan ayat perundang-undangannya melindungi penganut agama dan rakyatnya. Namun disatu sisi oknum yaitu penguasa, pemimpin sering menyalah gunakan kekuasaan dan wewenangnya. Lord Acton menyatakan power tends to corrupt and absolute power absolutely “bahwa orang yang memiliki kekuasaan cenderung jahat dan apabila kekuasaan itu semakin banyak maka kecenderungan akan jahat semakin menjadi-jadi”. Tentunya ini menjadi refleksi bahwa kekuasaan bukan segala-galanya jangan sampai membuat kita buta hati, melakukan tindakan korupsi. Untuk itu lantunan indah kata bijak Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, “mereka menyebut saya perdana menteri tetapi akan lebih tepat jika saya di panggil pelayanan utama di India”. Itulah hekaket pemimpin dalam mengatur agama dengan Negara adalah sebagai pelayanan “sewaka dharma”, melayani adalah kewajiban.

Agama dan Negara bersinergi dalam menegakkan kebenaran, sebagaimana Slokantara menyuratkan bagi yang teguh agamanya bagaikan kumbang tidak akan mau meninggalkan bunga seroja, walaupun sayapnya dicabut. Swami Wiwekananda bertanya tentang keteguhan dan keyakinan umatnya dalam menegakkan dharma agama dan dharma Negara “jika seluruh dunia bangkit dengan pedang terhunus untuk melawanmu, masih beranikah engkau melakukan apa yang benar? Jika anak istrimu sendiri menentang dan meninggalkanmu, jika namamu tidak semarak lagi, masihkah kau berpegang pada kebenaran?. Jika engkau bertekad demikian, kejarlah kebenaran walau kemana mau dibawanya. Janganlah menjadi manusia yang pengecut dan palsu akan cita-cita.

Oleh: Nyoman Dayuh
Source: Majalah Wartam, Edisi 29 Juli 2017