Agama Akal-Sehat dan Hati-Nurani

Kecuali batin jernih, bugar dan sepenuhnya sehat, ia tidak mungkin bisa ada dalam status meditasi relijius
yang sungguh esensial guna menemukan yang melampaui semua pemikiran,
melampaui semua keinginan
J. Krishnamurti

Adakah Akal saya sudah Sehat?

Akal yang masih sangat mudah dipengaruhi, didikte dan termotivasi oleh tampakan kasat-indria belum benar-benar sehat. Ia belum sepenuhnya dapat disebut sbagai akal-sehat. Ia masih sakit. Mudah dipengaruhi, didikte dan termotivasi oleh tampakan kasat-indria inilah merupakan "penyakit" bagi si akal. Kalau kita merasa berkepentingan terhadap - apa yang kita sebut sebagai akal-sehat - maka juga seharusnyalah membasmi penyakit akut dari si akal ini menjadi kepentingan kita. Tapi bagaimana membasminya?

Anda tidak akan merasa perlu pergi ke dokter untuk berobat bilamana Anda merasa sehat, tidak merasa sakit atau tidak merasa punya keluhan mental ataupun biologis. Membasmi penyakitnya si akal mesti didahului dengan kesadaran bahwasanya selama ini ia sebetulnya ada dalam keadaan sakit. Bila tidak, kita pun tidak akan pernah merasa perlu menyehatkannya bukan?

Baiklah, katakanlah Anda merasa Akal Anda sehat. Sampai seberapa jauh Anda yakin kalau ia benar-benar sehat, benar-benar tidak dengan begitu mudahnya terkecoh untuk kemudian segenap pertimbangan Anda serta setiap keputusan dipengaruhi, didikte dan termotivasi oleh tampakan kasat-indria? Seperti juga terhadap dokter yang akan mengobati penyakit Anda, Andapun harus terus-terang dan jujur di dalam mengobservasi-diri disini, sejauh-bukan saja ketidak-jujuran akan menyulitkan Anda mengobatinya, akan tetapi - ia justru juga merupakan sebentuk penyakit mental lainnya. Sebelum kita benar-benar mengadakan obervasi-diri ini dengan baik, pertanyaan: "Apakah akal saya sudah sehat ?" ini, masih merupakan pertanyaan yang harus kita temukan jawabannya sendiri.

Hendak men-sakala-kan yang Niskala?

Apapun yang sakala, yang masih ada dalam cengkraman ruang-waktu-kausasi, tidak abadi. Yang Abadi bersifat niskala, melampaui kaidah ruang-waktu-kausasi, tiada terukur, tiada terpikirkan dan terbayangkan. Kita melalui perangkat mental manapun, tak bisa memikirkan dan membayang-kan yang niskala. Jangankan yang niskala, yang sakala saja masih banyak yang tidak atau belum dimengerti. Mencoba memikirkan yang niskala sama dengan menghantam angin, sia-sia saja. Buang-buang waktu. Jauh lebih bermanfaat memikirkan yang sakala, yang berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

Sesungguhnya, kata tanya seperti : 'apa', 'siapa', 'mengapa', 'dimana', 'bagaimana', sejauh sehubungan dengan yang "niskala", tidak mengena. Kita sesungguhnya, tak bisa menanyakan 'apa niskala itu?, 'dimana niskala itu berada?' atau 'bagaimana kita bisa menemuinya?' 'bagaimana mencapainya?', atau sejenisnya. Semua itu hanya upaya si intelek - yang juga sering disebut-sebut sebagai akal-sehat itu-untuk men-sekala-kan yang niskala. Kalau akal-pikir cenderung demikian, dapatkah ia dibilang sehat?

Ternyata Akal-pikir tidak sehat

Dalam suatu kesempatan Sri Swami Vivekananda pernah bertanya, "Apa baiknya kalau dalam doa-doa kita, kita menyatakan kalau Tuhan adalah Bapa kita semua, tapi dalam kehidupan sehari-hari kita tidak memperlakukan setiap manusia sebagai saudara atau saudari kita?" Pada kesempatan lain, dalam Pengantar buku "VIVEKANANDA, WORLD TEACHER: His Teachings on the Spiritual Unity of Humankind", Swami Adiswarananda, Pimpinan Rama-krishna-Vivekananda Center of New York, antara lain menulis :

Dunia sedang membutuhkan suatu kebangkitan spiritual baru. "Unity in diversity", "bhineka tunggal ika", adalah hukum alami, dimana inti dari kesatuan ini bukanlah pada kesatuan sosial, kultural ataupun humanitarian, malainkan kesatuan spiritual yang mengatakan "Jiwa yang sama menghuni setiap orang di antara kita." Ketakutan, kebencian,
... dan perang adalah simptoma-simptoma dari terlupakannya kesatuan spiritual ini. Kesatuan umat manusia tak akan pernah menjadi kenyataan sosial kecuali kita menyadari fakta bahwasanya Tuhan yang sama bersemayam di dalam semuanya.

Menyadari fakta - apa lagi yang tidak kasat-indria seperti ini - ternyata bukanlah sesuatu yang mudah bagi semua orang. Kita selalu dibenturkan pada tembok-tembok tebal keterbatasan persepsi indriawi, karena kita sudah sedemikian akrabnya dengan itu. Bagi kebanyakan dari kita, tidak ada fakta tidak ada kenyataan, kalau tidak bisa dipersepsi oleh indria-indria sensorik ini, dan kalau tak terpikirkan dan terbayangkan oleh perangkat mental ini. Akibatnya, spirit, hal-hal yang bersifat spiritual, spiritualitas atau yang sejenisnya, kalau bukan dianggap kebohongan atau khayal bahkan takhayul, maka akan dianggap ilusi atau sejenis tipuan kelompok-kelompok tertentu demi kepentingan dan keuntungan pribadi atau kelompok mereka.

Alhasil, kita seolah-olah selalu diharuskan menatap dunia lewat kacamata pesimitis dengan dibumbui argumentasi klise 'akal-sehat', kendati-bila ditelusuri lebih dalam dengan cermat - ternyata akal-pikir itu sendiri tidak sehat. Mungkin ini sesuatu yang tidak mengenakkan untuk didengar; sayapun tidak merasa nyaman mengatakannya.

Tapi bila kita benar-benar masuk sedemikian dalamnya ke dalam diri masing-masing, untuk kemudian berani jujur mengakui apa adanya, akan kita temukan kalau akal dari kebanyakan dari kita ternyata tidak benar-benar sehat. Kalau akal benar-benar sehat, kalau kita benar-benar sadar, tentu kesatuan spiritual bukanlah sesuatu mustahil untuk diraih bersama, kedamaian dunia bukanlah sekedar impian para pengkhayal.

Batas Akal - pikir

Akal-pikir hanya bisa bergerak di wilayahnya saja; dimana wilayahnya itu masih ada dalam batas ruang, waktu dan kausasi - desa, kala dan patra. Apapun yang masih ada di dalam wilayah itu, masih bisa dipikirkan atau dibayangkan. Di Bali, wilayah yang bukan main hiasnya ini, yang boleh jadi melingkupi seluruh semestaraya ini, disebut wilayah atau alam sakala. Adapun yang masih bisa kita mengerti sebagai 'ada', mengada di alam sakala ini.

Sebetulnya, hanya di alam ini sajalah pembedaan antara 'ada' dan 'tiada' ini berlaku. Di luar itu, tidak ada apapun yang bisa disebut 'ada'; dan sebaliknya, tak ada apapun yang bisa disebut 'tiada'. Pengertian 'ada' juga 'tiada' tidak bisa mengada di luar batas alam sakala. Lebih jauh lagi, pengertian 'di luar' dan 'di dalam' itu sendiripun sudah kehilangan maknanya di luar batas itu.

Bila demikian, apa yang bisa kita mengerti dari alam seperti itu, dari alam yang bukan untuk dimengerti, yang bukan porsi si akal-pikir untuk menger-tikannya? Di Bali, 'alam' itu disebut alam Niskala-alarm yang ada di luar (be-yound) daya-pikir, nalar, persepsi dan imajinasi manusia.

Alam niskala bukanlah alam yang bisa dituturkan bagaimana-bagaimana-nya Tak tersedia cukup kata-kata untuk bisa menuturkannya. Bahkan, betapa rinci dan cermatpun seseorang yang sudah pernah 'ke sana' menggambarkannya, tetap saja apa yang digambarkannya 'bukan itu'; demikian seorang wiku, mistikus, yang amat saya kenal pernah mengingatkan. Bukan untuk mengingatkan agar tidak pernah mencoba untuk menggambarkannya, dengan kata-kata-kalau seandainya saya pernah 'ke sana', namun yang terpenting adalah, agar uraian itu tidak malah membingungkan dan menambah lebih banyak lagi kesalah-pahaman tentang "itu". Makanya, sangat mengena rasanya ketika ada yang mengatakan kalau, 'Sri Sankara memulai darimana Einstein mengakhiri penjelajahannya'.

Antara Akal-pikir dan Akal-budi

Dalam kelahiran berjasad ini, disamping mewarisi akal-pikir (manas) kita sebetulnya juga mewarisi akal-budi (buddhi). Umumnya kita lebih akrab dengan akal-pikir; nyaris tak ada waktu di dalam kehidupan sehari-hari yang sama-sekali sepi dari peran aktif akal-pikir ini. Ia mendominasi khasanah mental kita.

Dan saking akrabnya kita dengannya, kita malah jadi menginden-tifikasikan-diri ini padanya, disamping pada jasad-fisikal ini. Dan saking akrabnya juga kita dengannya, kita tidak tahu, tak menyadari, kalau sebetulnya kita mewarisi akal-budi yang lebih halus dan lebih berdaya, ketimbang sekedar akal-pikir. Semuanya diborong oleh akal-pikir; sangat jarang kita memberi kesempatan akal-budi untuk berperan.

Di Bali, akal-pikir juga digolongkan "manah sor" - pikiran rendahan, dimana akal-budi diposisikan sebagai "manah luhur" - pikiran mulia. Dalam seni-budaya pewayangan - yang mengakar kuat pada ajaran spiritual-relijius ini - kalau "manah sor" ini digambarkan sebagai para Korawa - yang bertindak sebagai agen-agen Adharma, maka "manah luhur" dilukiskan sebagai pihak Pandawa-yang bertindak sebagai agen-agen Dharma.

Sebagai sesama "manah", mereka juga digambarkan sebagai bersepupu. Satu kakek-yang adalah Maharshi Vyasa Krishna Dvipayana - namun berbeda nenek. Demikianlah, para leluhur manusia Nusantara menciptakan "wayang" sebagai "bayang-bayang" dari karakter dasar dan bentukan manusia berikut segala romantika kehidupan jasmaniah dan rokhaniah-nya, yang terbukti relevan sepanjang masa.

Walau idealnya akal-pikir dan akal budi selalu selaras, harmonis, seiring sejalan, saling-bantu mengayuh rakit dalam mengarungi samudera kehidupan ini, nyatanya tak banyak orang yang benar-benar berhasil menyelaraskannya. Pada kebanyakan dari kita, mereka malah bermusuhan satu-sama-lain, dan siap menggelar Bharata Yuddha. Disinilah bertumpu sifat dualistis itu; disinilah mengakar segala bentuk konflik internal yang setiap saat siap meletupkan konflik eksternal.

Guna menyelaraskan, guna melangsungkan harmonisasi menyeluruh inilah sangat penting peran dari berbagai bentuk laku-laku spiritual (sadhana). Sebutlah tapa-brata sebagai pondasinya, dan yoga-samadhi sebagai pencakar-langit dari kehidupan spiritual itu. Sejauh kita hendak membangun gedung pencakar-langit yang sedemikian megahnya itu, mau-tak-mau kita mesti menggelar fondasi yang memadai bukan? Bila tidak, seberapa megah dan kokohpun tampaknya bangunan pencakar-langit itu, dia akan mudah runtuh berkeping-keping, apalagi negri ini berada di jalur gempa tektonik dan vulkanik yang sedemikian aktifnya.

Bisakah kita memposisikan ajaran agama seperti ini?

Bentuk-bentuk pemikiran maupun perasaan yang pernah muncul di benak kita akan mengguratkan berbagai kesan-lemah maupun kuat - di tataran bawah-sadar, di gudang ingatan kita. Mereka menunggu momentum yang tepat untuk terekpresi di dalam perkataan maupun perbuatan. Kalau itu merupakan bentuk-bentuk pemikiran dan perasaan yang positif, bersih, mulia, itu tidak soal. Namun bila itu merupakan bentuk-bentuk pemikiran dan perasaan negatif, yang kotor, curang, keji, bengis, jahat, mereka bisa merupakan tabungan berbagai persoalan hingga penderitaan. Oleh karenanyalah, para orang-orang tua kita sering menasehati untuk berhati-hati dengan pemikiran kita.

Akan tetapi, untuk mengetahui apakah sebentuk pemikiran atau perasaan sebagai positif atau tidak, bersih ataukah kotor, penuh welas-asih atau bengis, mulia ataukah jahat, kita mesti punya kemampuan memilah-milah, punya viveka. Dimana untuk punya sejenis saringan untuk memilah-milah, berarti memegang etika-moral universal luhur. Nah.....disinilah ajaran agama - bukan sekedar organisasi atau wadah umat beragama-menyediakan bantuannya bagi setiap orang. Bisakah kita memandang, untuk kemudian mempo¬sisikan ajaran agama seperti ini?

Akal-sehat dan Hati-nurani

Kalau Anda setuju bahwa 'agama adalah untuk manusia dan bukannya manusia untuk agama' dan benar-benar menjalani kehidupan beragama Anda atas dasar itu, maka Anda termasuk beragama secara rasional, menggunakan akal-sehat. Kecil kemungkinannya kalau Anda terjebak dalam dogmatisme, apalagi fanatisme. Anda pun tak akan segan-segan menampak apa-apa yang Anda anggap bertentangan dengan akal-sehat dan hati-nurani Anda, kendati itu disebut-sebut sebagai berasal dari kitab-suci dari agama-yang secara formal-Anda anut, serta tak segan-segan menerima dengan terbuka apa-apa yang selaras dengan akal-sehat dan hati-murani Anda, kendati itu berasal dari ajaran agama lain, agama yang-secara formal-bukan agama yang Anda anut.

Anda tak akan merasa perlu, malah akan malu, untuk membawa-bawa ajaran agama anutan-formal Anda itu dalam kehidupan profan Anda, apalagi menggunakan sementara ayat-ayat kitab-sucinya hanya sebagai pembenar atau dalih atas ketidak-senonohan Anda di dalam menjalani kehidupan multi-dimensional ini. Bagi Anda, ajaran agama tidak bisa disamakan dengan ilmu pengetahuan, melainkan lebih pada 'wahana' Anda di dalam meraih tujuan hidup Anda, missi dari kelahiran Anda ini.

Makanya, tidaklah mengada-ada kalau dikatakan bahwa Anda sebetulnya menganut 'Agama Akal-sehat dan Hati-nurani', atau dengan nada sinis ada yang menamainya dengan 'Agama Pribadi' - karena bagi Anda, anutan Anda memang merupakan anutan Anda yang sangat pribadi sifatnya, dimana di jalan itulah Anda benar-benar hidup, benar-benar menjalani kehidupan Anda dalam segala suka dan dukanya.

Andapun tak merasa perlu secara frontal menentang tradisi relijius manapun, yang dipraktekkan oleh lingkungan sosio-kultural dimana Anda hidup. Bukan karena takut dijauhi atau dimusuhi, bukan lantaran takut dianggap ekstrimis, melainkan karena maklum kalau setiap orang punya anggapan, tingkat pemahaman, serta cara-caranya sendiri di dalam menerapkan rasa keber-agama-annya masing-masing; karena sadar sesadar-sadarnya kalau setiap orang punya kebebasan untuk melakoni anutannya masing-masing sesuai tingkat pemahaman serta kemampuannya itu. Buat Anda, 'beragam itu tak harus begini, atau begitu', asalkan tetap mengindahkan tatanan etika-moral dari masyarakat dimana kita hidup.

Betapapun juga, hati-nurani akan terekpresi di dalam moralitas. Karena pada dasarnya, moralitas adaalah ekspresi dari hati-nurani itu sendiri. Bagi seorang Gandhi misalnya agama tiada terpisahkan dengan moralitas. Suatu ketika beliau pernah berkata : "Saya menolak doktrin agama manapun yang tidak bersesuaikan dengan akal-sehat serta yang bertentangan dengan moralitas. Dan saya mentoleril sentimen relijius yang tak-masuk-akal manakala ia tidak immoral". Dan dalam kesempatan lainpun beliau pernah berkata : "Agama sejati dengan moralitas sejati tiada terpisahkan, melekat satu-sama-lain. Agama bagi moralitas layaknya air bagi benih yang disemaikan di tanah".

Kalau Anda mau dan ingin kedengaran bergaya, Andapun bisa mengatakan kalau Anda 'telah melepas baju agama'. Dimana yang maksud dengan 'baju agama' adalah 'organisasi agama', karena Anda tak bisa lagi dianggap sebagai salah seorang dari anggota 'organisasi agama besar dunia' manapun, karena yang seperti itu tak-ubahnya paradigma ikut-ikutan, kekanak-kanakan, tidak berdasarkan akal-sehat dan hati-nurani. Semoga Cahaya Agung-Nya senan-tiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita. Semoga kedamaian dan kebahagiaan menghuni kalbu semua insan.

Oleh : Anatta Gotama

Source: Warta Hindu Dharma NO. 514 Oktober 2009