Abdhi dan Adri

Ketika masyarakat dunia memperingati hari bumi, kita segera teringat betapa makna yang dikandung oleh "bhumi" itu sendiri. Bahwa dalam banyak teks bumi dinyatakan sebagai simbol "kesabaran" (kelan), bahwa bumi adalah ibu kita yang senantiasa memberi tanpa pamerih.

Bumi berhubungan dengan laut dan gunung. Maka sebuah teks berjudul Jinarthi Prakreti menyuratkan : "Dan janganlah melupakan bumi ini; laut (abdhi) dan gunung (adri) adalah mengandung ajaran filsafat yang tinggi". Maka dalam teks ini lahirlah istilah abdhi tattwa atau sagara tattwa dan Adri tattwa atau giri tattwa.

Namun demikian yang diuraikan disini adalah filsafat tingkah laku atau tika sebagai jalan menuju kebahagiaan yang tertinggi (pangasraya ning mangusir kamoksan). Bahwa air yang dalam terhampar luas di samudra adalah bagaikan nafsu keinginan kita yang tiada bertepi; batu karang yang tajam dan menakutkan adalah pikiran-pikiran kita yang kotor; dan ombak yang menggulung bada henti adalah kesombongan kita yang terus mengguncang, hujan dengan angin puting beliungnya adalah sifat marah yang tak terkendali. Demikian seterusnya. Namun bila semua itu dapat dikalahkan dan dikendalikan, lalu tegaknya pikiran suci kita, maka semua itu tidak akan menyusahkan. Dan akhirnya pengetahuan suci itulah yang menjadi lautan luas yang hening. Itulah yang disebut Abdhi tattwa.

Tentang makna gunung, disuratkan bahwa keenam musuh dalam diri adalah bagaikan jurangnya yang dalam; tebingnya yang curam adalah pikiran jahat, singa macan dan beruang adalah tri mala, kotornya pikiran, perkataan dan perbuatan. Namun demikian bila hati teguh melaksanakan ajaran kebenaran, maka semua itu akan memiliki nilai-nilai kesucian dan keindahan. Orang suci akan dapat membakar semua kotoran yang ada pada diri, dan setelah itu puja mantra akan semakin bertuah.

Setelah mengetahui bahwa diri manusia ini mengandung lautan dan gunung, penuh dengan segala yang menakutkan, yang bada lain adalah sifat-sifat jahat, kenafsuan, keserakahan, kesombongan, dst, maka usaha yang dilakukan adalah menundukkan dan mengendalikannya. Hamparan bumi dapat dijadikan sawah dialiri air terkendali, lalu ditanami pelaksanaan brata dan yoga (tandurannya yoga), akhirnya tumbuh dan mekarlah kesadaran rokhani (jina smreti tuwuh) dalam diri.

Bumi memberi inspirasi pada perjuangan menegakkan nilai-nilai kesucian. Bumi itu adalah diri kita sendiri, tempat bersemayamnya musuh-musuh yang harus diperangi. Abdhi dan Adri memang terlihat begitu indah dan mengandung nilai-nilai kesucian, namun ombaknya yang bergelora, batukarangnya yang tajam mendapat makna lain oleh pengarang kekawin ini. Demikian juga halnya dengan jurang yang dalam, tebing yang terjal yang berada di gunung. Secara implisit sang pengarang mengatakan bahwa semua itu harus dapat dikuasai, lalu di manfaatkan pada tegaknya nilai-nilai kesucian untuk mencapai Kebahagiaan Yang Tertinggi.

Source : Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 509 Mei 2009