(A) musti Muspa

Kehadiran puspa nas harum begitu penting dalam ritus-ritus Hindu. Beberapa jenis bunga menjadi terpilih sebagai sarana maupun symbol Bhatara-Bhatari dilihat dari bentuk, warna, baud an tempat tumbuhnya. Bhagawad Gita IX.26 menjelaskan puspa menjadi salah satu benda alam terpilih sebagai sarana persembahan utama, selain patram ‘daun’ phalam ‘buah’, dan toyam ‘air’. Saat sembahyang umat Hindu di Bali sering disebut muspa. Muspa dilakukan dengan sikap amusti karana, menyatakan sepuluh jari jemari di ubun-ubun. Ujung katupan jari menjepit bunga harum berwarna-warni.

Warna-warni puspa merupakan anugerah Tuhan berupa keindahan. Warna-warni dilambangkan sebagai dewa-dewi. Warna-warni bunga mewakili warna semesta. Warna semesta merupakan perwujudan Tuhan, sehingga dalam kosepsi pangider-ider aspek Ida Sang Hyang Widhi selalu dilukiskan berbeda warna. Lalu lebih dalam, mengapa umat Hindu muspa?

Muspa sesunggunya tak sekadar mencakupkan tangan berisi bunga di atas ubun-ubun, lebih-lebih bergaya bak selibritis, ari dihias cincin emas permata mulia dan gelang emas yang menggelayut. Muspa bukanlah mengutamakan penampilan fisik atau kemewahan. Muspa merupakan sebuah simbolisasi pangringkes dewa ‘pencarian Tuhan ke seluruh semesta, namun dilakukan dengan menyelami diri’. Mungkin dapat dianalogikan seperti melacak tempat melalui sebuah globa.

Tatkala muspa, kesatuan sepuluh jari sebagai lambang penyatuan dasendria dalam diri. Adapun dasendria yaitu: Srotendria, indria pada telinga sebagai rangsang pendengar; Twakindria, indria pada kulit sebagai rangsang peraba; Caksuindria, indria pada mata sebagai rangsa penglihatan; Jihwendria, indria pada lidah sebagai rangsang pengecap; Ghranendria, indria pada hidung sebagai rangsang pencium; Garbendria, indria pada perut sebagai penggerak perut; Panindria, indria pada tangan sebagai penggerak tangan; Padendria, indria pada kaki sebagai indria penggerak kaki; Payuindria, indria pada organ pelepasan sebagai organ penggerak pelepasan; Upasthendria, indria pada alat kelamin sebagai penggerak alat kelamin. Bersemayam dasendria dalam tubuh memberi aneka fungsi pada tubuh manusia. Semuanya dikendalikan rajendria ‘pikiran’. Jika pikiran goyah, system dasendria pun kacau.

Ciri dasendria, selalu ingin merasakan nikmat, liar jika tak terkontrol, selalu ikut campur saat manusia berkarma. Jika terkendali, selalu setia mambantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Kadang saling bertentangan. Dasendria yang berbeda tersebut sangat penting disatukan dalam laku manusia mencari tujuan hidup maupun kesempurnaan lahir dan batin. Kemanunggalannya sering dilambangkan sebagai Mandala Padma Tuhan atau stana Tuhan dalam diri. Saat muspa, dasendria yang liar ditarik ke dalam sarangnya, yakni rajendria (pikiran). Konon di dalam istana rajendria (otak) bersarang puspa Padma maya berkelopak seribu stana Sang Hyang Parama Siwa. Bunga Padma dalam diri yang dijadikan puspa persembahan untuk membumikan Tuhan supaya sinar Tuhan dalam diri semakin cemerlang, sehingga pikiran, perkataan, dan perbuatan tertuntun.

Muspa perlu berlandaskan kesadaran untuk menjadi diri sebagai puspa persembahan. Mempersembahkan puspa hati yang tak digerogoti ulat-ulat iri hati, yang tidak dihisap kumbang-kumbang kedengkian. Oleh orang yang telah memiliki kesadaran akan keutamaan sembahyang, seolah-olah sembahyang dilakukan secara rutin dengan disiplin waktu, namun hal itu lebih utama dilandasi dengan komitmen diri dan tulus ikhlas.

Muspa juga menjadi ajang pencarian dan pembukaan kode-kode keindahan Padma Hredaya dalam taman sukeng hati ‘kebahagiaan hati’. Lalu rasa nikmat seripati keheningan diri diteguk. Mungkin ini seperti ini digambarkan dala beberapa naskah lontar kadhyatmikan bahwa di dalam diri ada beberapa air suci yang muncul dari kembang Padma dalam diri. Air suci yang mampu melebur mala, leteh, papa, klesa, pataka.

Ketika puncak muspa telah digapai dengan kesatuan sepuluh indria, itulah yang diyakini seorang bakta telah larut dengan yang dipuja. Semua manunggal dalam sepi nan hening. Ketika itu diri telah menjadi taman sukeng hati yang dipenuhi bunga kedamaian, jauh dari hama kebencian dan gejolak pikiran. Itulah nyepi ing raga (menjadi sepi dalam diri). Itu semua untuk mewujudkan kerinduan jiwa dengan Paramaatman ketika muspa dilakukan sungguh-sungguh. Apakah kita sudah demikian? Mari kita tanyakan pada diri masing-masing. Karena kesungguhan hati saat muspa hanya dikatahui oleh pelaku dan pujaan-nya.

Oleh: I Made Arista (Pondok Ijo Bang Bangah)
Source: Wartam Edisi 25 Maret 2017